Legislator: Pembangunan Infrastruktur Pertanian Perlu Serius

oleh

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Otjim Supriatna menilai program pembangunan sektor pertanian di daerah itu perlu penanganan dan perhatian yang serius, khususnya fisik infrastruktur pertanian. <p style="text-align: justify;"><br />"Pelaksanaan program pembangunan khususnya fisik infrastruktur pertanian, harus dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan," katanya di Sampit, Senin.<br /><br />Pemerintah daerah hendaknya menempatkan skala prioritas dengan menganut prinsip efektif, efisien dan akuntabilitas, serta memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan konsisten berkelanjutan.<br /><br />Pemerintah daerah juga harus melakukan pengawasan secara ketat serta memberikan teguran keras terhadap program atau kegiatan pembangunan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang belum selesai dilaksanakan pada tahun anggaran sebelumnya.<br /><br />"Tugas yang paling penting adalah memperhatikan dan mempertimbangkan hasil pembahasan antara komisi-komisi DPRD dan mitra kerjanya. Hal itu sangat perlu agar tercapai kesinambungan program pembangunan serta dapat memberikan manfaat dan mempunyai dampak baik terhadap sendi-sendi program pembangunan daerah," katanya.<br /><br />Otjim mengaku cukup menghargai dan mendukung upaya pemerintah daerah memfokuskan upaya pencapaian target ketahanan pangan di sektor pertanian dalam arti luas.<br /><br />Untuk itu Otjim menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai keinginan tersebut antara lain, perlunya penambahan jaringan irigasi tersier dan kwarter atau jaringan irigasi kecil oleh pemerintah daerah.<br /><br />Kemudian, pembangunan dan pelaksanaannya jangan diserahkan kepada petani, sebab kemungkinan besar tidak akan berhasil.<br /><br />Selanjutnya perlunya pertimbangan untuk memberi insentif atau subsidi kepada petani untuk satu periode dalam rangka memacu produktifitas petani.<br /><br />Pemerintah daerah juga harus secepatnya melakukan penanganan yang serius terhadap 20 ribu hektare lahan sawah yang belum ada petani penggarapannya.<br /><br />"Saat ini rata-rata produksi padi kita 4.000 ton setiap musim panen dan hal itu masih bisa ditingkatkan lagi dengan maksimal, karena banyak potensi yang belum tergarap," ungkapnya.<br /><br />Di samping itu kegiatan dalam upaya ketehanan pangan juga harus benar-benar konkrit atau nyata dirasakan langsung oleh petani. (das/ant)</p>