Mahalnya Distribusi Picu Inflasi Tinggi

oleh

Ketua DPW Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) Kalimantan Barat Retno Pramudya mengatakan, inflasi yang tinggi terutama di Kota Pontianak karena mahalnya biaya distribusi dan kelangkaan bahan bakar minyak. <p style="text-align: justify;">"Mahalnya biaya distribusi barang karena tingginya biaya transportasi," kata Retno Pramudya di Pontianak, Minggu.<br /><br />Menurut dia, penyebab utama tingginya biaya transportasi karena sulit mendapatkan bahan bakar minyak serta buruknya infrastruktur jalan dan jembatan di Kalbar.<br /><br />Ia menambahkan, terkait hal itu, Pemprov Kalbar harus serius berkomitmen untuk segera mengatasi permasalahan tersebut.<br /><br />"Sering terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak pada dua tahun terakhir ini, gubernur perlu segera mencari solusinya," kata dia menegaskan.<br /><br />Ia melanjutkan, perlu dilakukan pembicaraan rutin kepada Pertamina serta pemerintah pusat agar persoalan distribusi bahan bakar minyak di Kalbar segera diatasi.<br /><br />Retno Pramudya yang juga Ketua Komisi A DPRD Kalbar itu mengatakan, gubernur juga harus lebih fokus dan lebih memprioritaskan pembangunan serta perbaikan jalan maupun jembatan di Kalbar.<br /><br />"Sehingga permasalahan ini tidak semakin berlarut-larut serta merugikan masyarakat Kalbar," kata Retno yang juga Sekretaris DPW Partai Persatuan Pembangunan Kalbar itu.<br /><br />Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Awang Sofian Rozali mengatakan, Bank Indonesia perlu menghimpun data dari berbagai sumber terkait tingginya inflasi di provinsi itu.<br /><br />Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat menyatakan laju inflasi di daerah itu pada Agustus 2011 sebesar 1,78 persen atau naik dari sebelumnya 0,62 persen.<br /><br />"Semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan sehingga memicu inflasi sebesar 1,78 persen," kata Kepala BPS Kalbar Iskandar Zulkarnain, saat menyampaikan berita resmi statistik di Pontianak, Senin (4/9).<br /><br />Sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan memberi sumbangan tertinggi di inflasi yakni 5,37 persen. <strong>(das/ant)</strong></p>