Mahasiswa UBAYA Teliti Religiusitas Lesbian-Waria

oleh

Dua mahasiswi Universitas Surabaya, Teriani Asmi Putri dan Rizna Megasari meneliti religiusitas lesbian dan waria yang beragama Islam (Muslim). <p style="text-align: justify;">Dua mahasiswi Universitas Surabaya, Teriani Asmi Putri dan Rizna Megasari meneliti religiusitas lesbian dan waria yang beragama Islam (Muslim).<br /><br />"Saya meneliti lesbian yang berjilbab untuk mengetahui bagaimana cara dia melakukan negosiasi dua identitas yakni lesbian dan Muslimah," kata Teriani di kampus setempat, Kamis.<br /><br />Mahasiswi Fakultas Psikologi Universita Surabaya (Ubaya), itu menulis skripsi bertajuk "Becoming a Lesbian and Moslem, Saya Berjilbab, Saya Muslim, Saya Lesbian: Integrasi Identitas Homoseksual dan Agama." "Sebagai Muslim yang taat pada agamanya, lesbian itu sempat takut, mengalami ketegangan, dan ada rasa bersalah dengan takdir yang dialami sejak kecil tanpa sepengetahuan orang tuanya itu," katanya.<br /><br />Namun, menurut mahasiswi kelahiran Surabaya pada 25 tahun lalu itu, lesbian yang menjadi respondennya itu akhirnya merasa tenang setelah melakukan reintrepretasi makna lesbian dalam Al Quran.<br /><br />"Dia mencari literatur tentang lesbian dalam Al Quran dan akhirnya menemukan Kisah Nabi Luth, kemudian kisah itu direintrepretasi melakukan literatur yang moderat," papar wisudawan yang diwisuda pada 2 April itu.<br /><br />Hasilnya, umat Nabi Luth itu ternyata dikutuk Allah SWT dengan "hujan batu" bukan semata-mata karena homoseksual, melainkan perilaku rakus, saling menjatuhkan di antara mereka, dan menolak ajaran Nabi Luth.<br /><br />Lain halnya dengan rekannya, Rizna Megasari, yang meneliti waria dengan skripsi berjudul "Ketika Waria Bertasbih: Sebuah Studi Kasus Waria dan Religiusitas" dengan nilai Memuaskan.<br /><br />"Responden saya merupakan penyanyi ludruk yang berpenampilan perempuan, namun dirinya sebenarnya laki-laki. Dia sempat gamang dan ingin melakukan operasi ganti kelamin menjadi perempuan," paparnya.<br /><br />Namun, kata mahasiswi Fakultas Psikologi yang juga kelahiran Surabaya pada 24 tahun lalu itu, ayahnya yang taat beragama justru menasehati dirinya untuk menerima takdir Allah SWT seperti apa adanya.<br /><br />"Responden saya yang sekarang membuka salon itu akhirnya memilih untuk tetap menjadi perempuan, tapi dia menjalankan agama sebagaimana laki-laki, baik shalat, puasa, ibadah haji, dan seterusnya," ujarnya, mengungkapkan.<br /><br />Bahkan, kata salah satu dari 846 wisudawan Ubaya itu, respondennya telah menggagas pengajian waria di Surabaya yang kini beranggotakan 80-an waria dan menggelar pengajian secara rutin.(Eka/Ant)</p>