Manager Teknik PLN Kalbar : Ini Hanya Ibarat Rumah Bocor Atapnya

oleh
oleh

Manajer Teknik PLN wilayah Kalbar Heru saat dikonfirmasi terkait banyaknya ketentuan yang tidak dipenuhi oleh PT.Frico, pemenang lelang jasa angkutan BBM untuk PLN wilayah Sanggau mengaku pada dasarnya dirinya mengetahuinya. <p style="text-align: justify;">“Ibarat rumah yang bocor dibagian atapnya, apakah yang harus dilakukan itu membongkar secara habis atau cukup melakukan penambalan bagian yag bocor itu,”kilahnya. <br /><br />Lebih lanjut Heru mengatakan bahwa dirinya sebagai manajer teknik dan bagian dari manajemen PLN wilayah Kalbar lebih memposisikan diri sebagai wasit dalam proses tender tersebut. Namun pada intinya menurutnya dari selruh tahapan tender telah dilalui sesuai dengan prosedur. Termasuk kesempatan untuk seluruh peserta tender untuk mengajukan pertanyaan dan keberatan atau protes lain telah di sediakan pada tahapan anwizing.<br /><br /> “Manajemen hanya memproes setelah panitia menentukan pemenangnya yaitu perusahaan yang mengajukan tawaran terendah,”tegasnya. <br />Usai panitia menentukan pemenang, menurutnya pihak konsorsium diakuinya telah menemuinya. Ia pun langsung menyarankan kepada pihak konsorsium untuk menyampaikan dan menuangkan berbagai keberatan itu dalam bentuk sanggahan. Untuk masa sanggahan ini, sebagaimana ketentuan disediakan waktu selama kurang lebih 14 hari. <br /><br />“Kita sudah sediakan waktu dan kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan haknya. Baik dalam masa anwizing maupun masa sanggahan. Tapi mereka tidak menggunakan hak mereka itu dengan baik, lalu apa kami juga yang masih dipersoalkan,”ujarnya. <br />Dikatakan Heru, jika saja pihak konsorsium menyampaikan sanggahan, maka tidak menutup kemungkinan sanggahan itulah yang akan digunakan oleh pihak menejemen untuk mempending keluarnya surat keputusan pemenang. “Kalau tak ada sanggahan, apa dasar kami,”tegasnya.<br /><br />Lebih lanjut Heru mengatakan bahwa pihaknya akan lebih mempertimbangkan kepentingan masyarakat banyak. Menurutnya jika kemudian dilakukan penghentian pendistribusian BBM ke sejumlah PLN yang ada di wilayah II, ia justru khawatir kebutuhan tenaga listrik masyarakat akan terhambat. “Kita justru mendahulukan kepentingan orang banyak,”tegasnya. <br /><br />Terkait dengan berbagai persyaratan administrasi yang kemudian diketahui pihak pemenang baru melakukan pengurusan, ia justru bertanya mengapa pada saat anwizing hal ini tidak ditanyakan oleh peserta. “Kami tidak tahu juga, apakah pada saat pembahasan syarat administrasi ada kesepakatan antar peserta dengan panitia. Karena memang logiknya kalau sekarang masih ada yang diurus, berarti saat lelang belum lengkap,”bebernya.<br />Hanya saja menurutnya pihak manajemen PLN wilayah Kalbar tidak mengurusi masalah teknis lelang. Pihak manajemen menurutnya hanya menerima hasil dari panitia lelang yang telah ditentukan.<br /><br />Dihari lain, M Doing bagian humas dan hukum PLN Kalbar saat dihubungi mengatakan bahwa ada persepsi yang berbeda antara peserta lelang dengan panitia. Menurutnya bagi panitia dan pihak PLN khususnya, yang terpenting adalah BBM itu bisa terangkut karena menyangkut kebutuhan masyarakat akan penerangan listrik. <br /><br />“Jadi, masalah mau mobil apa itu tidak dipersoalkan. Yang penting kebutuhan BBM PLN di wilayah cabang itu bisa terpenuhi. Ini yang saya katakan ada perbedaan persepsi antara panitia dan peserta,”ujarnya.<br /><br />Terkait dengan masih dioperasikanya 7 armada tangki dari 20 yang dipersyaratkan, menurutnya kewenangan selanjutnya sudah ada pada pihak manajemen PLN Kalbar. Namun menurutnya substansi somasi yang dikirim ke manajemen tersebut berbeda dengan sanggahan yang seharusnya disampaikan oleh pihak konsorsium.<strong>(ek/ast)</strong></p>