Manggala AGNI : 153 Hektare Lahan Kalbar Terbakar

oleh

Manggala Agni Daerah Operasi Pontianak mencatat sejak Januari hingga Maret 2011 terjadi kebakaran lahan dengan luas mencapai 153 hektare di kawasan perkebunan dan pertanian. <p style="text-align: justify;">Menurut Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan, Noor Hidayat di Pontianak, Selasa, pihak Manggala Agni sudah bersiaga penuh dan siap membantu mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan di musim kemarau. <br /><br />"Sebenarnya, Manggala Agni bertugas mengendalikan kebakaran di kawasan hutan konservasi. Namun demikian, kita juga bisa membantu mengendalikan kebakaran lahan. Asal pemilik lahan mengerti, sebab dana kita hanya dialokasikan khusus untuk menanggulangi kebakaran hutan," kata Noor Hidayat. <br /><br />Berdasarkan data Manggala Agni Daerah Operasional Pontanak, kebakaran lahan tersebut terjadi di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. <br /><br />Mayoritas kejadian di lahan pertanian milik warga dan sisanya adalah di areal perkebunan kelapa sawit PT Sintang Raya di Desa Dabong, Kecamatan Kubu, Kubu Raya. <br /><br />Sedangkan di Kota Pontianak, kebakaran lahan terjadi di Jalan Parit Haji Husin II dengan luas sekitar 0,25 hektare. <br /><br />Manggala Agni beroperasi di empat kabupaten/kota di Kalbar, meliputi Kota Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Sintang dan Kabupaten Ketapang dengan jumlah personel 210 orang dan ditambah 23 personel Satuan Manggala Agni Reaksi Taktis (SMART). <br /><br />Hidayat mengatakan, ada kecenderungan masyarakat membakar lahan di musim kemarau. "Mereka membakar sebelum ditanami, katanya lahan jadi subur. Tapi ini akan jadi masalah, jika lahan yang dibakar itu tidak diawasi, apinya bisa menjadi tidak terkendali," jelas Hidayat. <br /><br />Ia berharap para pemangku kepentingan di daerah termasuk Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Pusdalkarhutla) untuk dapat saling berkoordinasi. "Efek kebakaran lahan dapat memicu penyakit pernapasan. Juga bisa mengganggu jalur penerbangan dan diprotes negara tetangga," kata Hidayat. <strong> (phs/Ant)</strong></p>