Masyarakat Apresiasi Penertiban PKL Di Jalan Katamso

oleh

Penertiban dan dilanjutkan dengan relokasi para pedagang kaki lim (PKL) di kawasan tepi sungai Kapuas jalan Katamso Sintang, Kalimantan Barat mendapatkan apresiasi dari masyarakat. <p style="text-align: justify;">Tindakan yang dilakukan oleh Disperindagkop dan jajaran terkait lainnya diharapkan benar-benar bisa merubah wajah kota ditepian sungai Kapuas tersebut. <br /><br />“Kalau cafe sama tempat jualan di sepanjang pantai ini di bongkar dan dipindahkan, nyaman mata memandang. Kami pun bisa lebih leluasa melihat penumpang yang akan menyeberang menggunakan kapal atau perahu,”ungkap Bakir, motoris kapal  yang mangkal di halte SDF tepi sungai Kapuas pada Sabtu (12/7/2014) siang kemarin. <br /><br />Menurut Bakir, penertiban dan relokasi PKL ini hendaknya ditindaklanjuti dengan penataan eks lokasi PKL tersebut. Sebagainya yang pernah diinfokan kepada masyarakat, kawasan tersebut akan ditata menjadi water front citynya Sintang. <br /><br />“Kata nak dibua water front atau taman atau apalah. Baguslah itu, memang seharusnya di percepat,”ujarnya.<br /><br />Bila water front city Sintang segera dibangun, menurutnya ia dan rekan-rekanya tak akan lagi melihat tumbukan sampah dan aroma tak sedap yang ditimbulkanya. Selama ini menurutnya tumpukan sampah dan aroma tak sedap yang sangat menyengat seperti selalu menjadi hal yang lumrah di kawasan tersebut. <br /><br />Dapot Siahaan, petugas Disperindagkop yang mengawasi penertiban PKL mengatakan bahwa tidak ada lagi toleransi kepada pedagang kaki lima yang bandel dan masih berjualan di tempat tersebut.<br /><br />Namun menurutnya pihaknya masih memberikan kesempatan kepadapa para pedagang, apakah barang-barang mereka akan langsung diangkutkan dan dibawa ke pasar Masuka atau akan diangkut sendiri. <br /><br />Seorang pedaganga yang enggan menyebutkan namanya mengaku memilih mengangkut sendiri barang-barangnya ke pasar Masuka. Jika diangkutkan oleh petugas pemerintah, ia khawatir justru banyak yang akan rusak. <br /><br />“Pendapatan kami di pasar Masuka sangat minim. Kalau di sini satu hari bisa Rp 600 – 700 ribu dalam sehari,  tapi kalau di pasar Masuka satu hari paling hanya laku es 3 sampai 4 gelas saja,”ujarnya.<br /><br />Namun ia berharap pemerintah bisa bertindak tegas dan adil kepada pedagang kaki lima yang ada di kawasan  tersebut. Ia meminta agar pemerintah konsisten dan menjaga agar semua pedaganga kaki lima pindah ke pasar Masuka. <br /><br />“Harus adil, satu dipindah maka harus dipindahkan semua,”pungkasnya emosi. <strong>(ek/das)</strong></p>