Masyarakat di Minta jaga Kualitas Karet

oleh

Walaupun kondisi ekonomi masyarakat sulit, namun perayaan natal dan tahun baru masyarakat Melawi masih bisa terbantu dengan tingginya harga karet yang saat ini mencapai Rp 8500 perkilo. <p style="text-align: justify;">“Harga karet saat ini masih terbilang bagus, kualitas biasa kami beli kepada petani dengan harga Rp 8500 perkilo, kalau karet kualitas bagus Rp 900 perkilo,” ungkap seorang penampung karet di Nanga Pinoh, Sekin.<br /><br />Menurutnya, dengan harga karet Rp 8500 perkilo tersebut memang cukup membantu masyarakat yang merayakan natal, sebab dengan harga seperti itu di Nanga Pinoh setidaknya dipedalaman masih mampu diatas Rp 7000 perkilo. <br /><br />“Harga karet Rp 8500 tersebut memang belum mampu mengimbangi harga barang, setidaknya Rp 12 ribu perkilo baru bisa mengimbangi harga barang, karena sudah bisa membeli sekilo beras,” ujarnya.<br /><br />Sebagai pembeli, Sekin juga berharap harga karet bisa normal hingga akhir tahun, supaya bisa membantu masyarakat.  Sebab kalau berdasarkan pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, pada penghujung tahun harga karet turun. <br /><br />“Tidak tahulah tahun ini, mudah-mudahan harga karet tetap bertahan, bila perlu naik lagi dari harga sekarang,” ucapnya.<br /><br />Selain itu Sekin juga berharap dengan tingginya harga karet sekarang, supaya para petani bisa menjaga kualitas karet yang dihasilkannya. Jangan sampai dengan harga yang sudah mulai bagus ini dirusak lagi dengan keluarnya karet yang kualitas jelek. “Karena kualitas karet sangat berpengaruh kepada harga jual karet di pabrik,” ucapnya.<br /><br />Dikatakan Sekin, sebagai pembeli pihaknya memang sulit untuk menjaga kualitas karet, termasuk dalam membina petani.  Misalnya dia tidak beli karet yang kualitas B atau C, tapi ada pembeli lain yang mau menampungnya, itu yang menjadi kendala dalam membina petani karet dilapangan. <br /><br />“Tapi kalau semua pembeli kompak tidak mau menerima karet yang jelek, saya yakin kualitas karet di Melawi kedepan akan bagus, karena mau kemana petani menjualnya kalau tidak ada yang mau membelinya,”  tuturnya. (KN)</p>