Masyarakat Hulu Kapuas Barter Emas Dengan Sembako

oleh

Ternyata istilah barter tidak hanya terjadi pada ratusan Tahun silam, namun hingga saat ini masih ada sejumlah daerah yang menggunakannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. <p style="text-align: justify;">Salah satu contohnya di sejumlah daerah di Hulu Kapuas, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu. Sampai sekarang masyarakat mengambil sembako di warung dengan menggunakan emas.<br /> <br />“ Di Hulu Kapuas masih ada yang mengunakan barter untuk mendapatkan sembako, mereka membawa emas kewarung untuk ditukar dengan sembako, dan hal tersebut menurut mereka hal biasa,” ungkap Serli Camat Putussibau Selatan, diruang kerjanya, Jum’at (7/09-2012). <br /><br />Dikatakan Serli, bahwa masyarakatnya yang berada di Hulu Kapuas tersebut mengantungkan hidupnya dengan mencari emas. Jarak tempuh yang jauh dan harus melewati perhuluan sungai Kapuas dengan riam yang cukup deras, berdampak terhadap biaya menuju sejumlah Desa di Hulu Kapuas sangat tinggi. “ Emas itulah yang menjadi urat nadi masyarakt Hulu Kapuas, karena disana tidak ada mata pencaharian yang lain, sedangkan karet jarang sekali ditemui. Bahkan untuk menuju Hulu Kapuas Kita Kita harus menyiapkan ongkos sekitar empat juta rupiah,” tuturnya. <br /><br />Selain itu, menurut Serli biaya hidup di Hulu Kapuas juga sangat tinggi, mengingat biaya transportasi dari Putussibau ke Hulu Kapuas juga sangat tinggi. “ Saya juga terkadang cukup prihatin dengan kondisi masyarakat di Hulu Kapuas, namun rata-rata mereka berhasil dengan bekerja mencari emas. Disisi lain Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, sebab itu satu-satunya mata pencaharian mereka. Jika buka emas mereka mau cari makan pakai apa ?,” kata Serli serius. <br /><br />Selaku Camat, Serli mengaku dirinya merasa terpukul apabila ada pelarangan bagi masyarakatnya untuk bekerja emas. Menurutnya, apabila emas hendak ditertibkan maka sebaiknya harus dilakukan sosialisasi dan harus ada solusi, setelah emas masyarakat apa yag harus masyarakat kerjakan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi sejumlah daerah di Hulu Kapuas tersebut, masuk dalam kawasan hutan lindung, seharusnya keberadaan hutan lindung atau daerah konservasi memiliki menfaat bagi kesejahteraan masyarakat.<br /> <br />“ Selain kerja emas, masyarakat kebingungan mau cari makan dari mana, sementara sejumlah wilayah mereka masuk dalam kawasan konservasi. Kerja emas dilarang, namun solusinya tidak ada, seharusnya ada program dari pihak TNBK yang jelas dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terus terang saja masyarakat mengaku keberadaan konservasi di Hulu Kapuas belum ada manfaat untuk kesejahteraan masyarakat,” cetusnya.<br /> <br />Jadi, kata serli tidak heran jika kondis kehidupan masyarakat Hulu Kapuas masih menggantungkan hidupnya terhadap kondisi alam dengan mencari emas, bahkan biasanya untuk membeli sembako Kita menggunakan uang. Nah jika meraka masih bisa menukar sembako dengan emas. “ Masyarakat Saya di Hulu Kapuas itu masih mengandalkan emas, jika tidak ada emas, Kita tidak tahu seperti apa kehidupan masyarakat Hulu Kapuas. Sampai-sampai untuk mendapatkan sembako disejumlah daerah di Hulu Kapuas masih menggunakan barter, tetapi uniknya mereka barter sembako dengan emas,” ungkap Serli. <strong>(*)</strong></p>