Masyarakat Keluhkan Tiket Masuk dan Parkir di Objek wisata Kelam

Bulit Kelam merupakan bukit batu yang terbesar kedua di dunia. Letak bukit kelam tidak jauh dari Ibukota Kabupaten Sintang, dan tidak jarang ketika hari besar keagamaan bukit batu ini di penuhi oleh pengunjung baik dari Kota Sintang, Melawi, Sekadau, Sanggau dan bahkan dari Kapuas Hulu juga bertamasya ke bukit itu. <p style="text-align: justify;">Andresa (35) salah satu pengunjung obyek wisata Bukit Kelam pada tanggal 29 Juli 2014 yang lalu merasa kecewa dengan pengelola tempat wisata.  <br /><br />“Tanggal 29 Juli 2014 yang lalu atau lebaran hari ke-2, saya bersama keluarga besar berlibur di bukit kelam, datang kami ke sana saya terkejut dengan sistem pegelolaan di bukit kelam ini, saya secara pribadi tidak mempermasalahkan soal tarif parkir Rp 5000/motor dan tarif masuk Rp 10.000/orang”.<br /> <br />Namun yang saya sayangkan ketika berada di kawasan objek wisata bukan hiburan yang menarik yang didapat, bahkan banyak  pemuda yang mabuk yang menyanyi di atas panggung, jelas Andres.<br />Selain itu menurut Andres ketika dirinya bersama keluarga ingin pulang ia terkejut melihat juru parkir minta uang parkir lagi padahal uang parkir sudah di bayar pada waktu masuk tadi, kata Andreas.<br /><br />Ia mengharapkan dengan kejadian ini,  Dinas Pariwisata harus berbenah lagi, jangan sampai ketika orang ingin melepas lelah dan ingin menikmati suasana bukit kelam jadi tidak nyaman gara-gara segelintir oknum yang memanfaatkan suasana ini untuk mencari rupiah dan yang rugi pariwisata sendiri, harapnya. <strong>(das)  </strong></p>