Masyarakat Perbatasan Hadapi Masalah Angkutan

oleh

Bupati Nunukan Kalimantan Timur, Drs Basri menyatakan masyarakat Kabupaten Nunukan terutama di Pulau Sebatik mengalami berbagai kendala dalam hal sarana angkutan, khususnya untuk menuju kota-kota di Malaysia Timur. <p style="text-align: justify;">Dari luas wilayah, terdapat beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan batas laut dan batas darat perihal keluar dan masuk di wilayah perbatasan yaitu di Kecamatan Sebatik Utara terdapat pos lintas batas laut (PLBL) Sei Pancang dengan panjang sekitar 1,8 kilometer.<br /><br />Basri menyampaikan permasalahan yang dialami adalah saat ini pemerintah Malaysia akan menutup transportasi warga Pulau Sebatik ke Tawau dengan kekuatan 7 GT dimana pemerintah Malaysia mensyaratkan angkutan yang digunakan semacam ferri yang terbuat dari besi.<br /><br />"Kalau ini jadi distop maka terhenti semua segala aktivitas perekonomian masyarakat setempat sementara seluruh produksi baik perkebunan, pertanian dan tangkapan nelayan dipasarkan di Tawau," terangnya.<br /><br />Secara geografis, lanjut dia, Tawau lebih dekat dari Sebatik dibandingkan ke Tarakan yang masih minim transportasi dan tentunya berpengaruh terhadap kondisi perekonomian masyarakat perbatasan.<br /><br />"Jarak Pulau Sebatik dengan Tawau hanya sekitar 10 kilometer dengan dapat ditempuh sekitar 15 menit," katanya.<br /><br />Dekatnya jarak dengan Tawau Malaysia, kata dia tentunya sangat menguntungkan dari segi ekonomi karena belum ada penolakan oleh masyarakat negeri jiran Malaysia terhadap hasil-hasil yang dipasarkan masyarakat petani dan nelayan.<br /><br />Masalah penghentian kapal-kapal (speed boat) dari Pulau Sebatik oleh pemerintah Sabah Malaysia telah dibahas pada pertemuan Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) untuk memperpanjang pemberlakuannya, walaupun belum ada kata sepakat soal perpanjangan itu, ujarnya.<br /><br />Ia mencontohkan, khusus angkutan speed boat dari Pulau Nunukan, Pemkab Nunukan telah menyurat kepada pemerintah Sabah Malaysia ternyata menolak untuk memperpanjang sehingga hal yang sama bakal berimbas kepada masyarakat Pulau sebatik.<br /><br />"Penghentian operasi kapal angkutan dari Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik sudah lama dilakukan pemerintah Sabah Malaysia," ujarnya.<br /><br />Kemudian, keberadaan PLBL Lamijung di Pulau Nunukan, dia menjelaskan, sudah tidak ada masalah karena kapal angkutan yang digunakan menggunakan sejenis ferri sesuai pensyaratan yang diinginkan pemerintah Malaysia.<br /><br />Alasan pemerintah Malaysia melarang operasi kapal-kapal seperti speed boat 7 GT, adalah untuk menjaga keselamatan penumpang.<br /><br />Selanjutnya berkaitan dengan PLBL di Labang, Bupati Nunukan mengatakan keluar masuknya barang dari Nunukan ke Malaysia dan sebaliknya belum terpantau secara maksimal sehingga dikuatirkan ke depannya akan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. <strong>(das/ant)</strong></p>