Masyarakat Perbatasan Ingin Ubah Pola Bertani

oleh

Gagal panen akibat kemarau yang berkepanjang diawal tahun 2014 ini membuat masyarakat perbatasan berpikir ulang untuk selalu menerapkan pola tanam berpindah seperti yang selama ini mereka lakukan. <p style="text-align: justify;">Terutama setelah melihat keberhasilan keunggulan sistem bertani menetap yang tak terlalu terpengaruh akibat kemarau panjang awal tahun lalu. <br /><br />“Semua yang ladang berpindah gagal panen. Tapi yang bertani menetap dengan sawah, tanaman padi mereka tetap bisa dipanen. Maka kami juga ingin belajar bertani sistem modern yang menetap dan tidak berpindah-pindah,”ungkap Lunjun, kadesa desa swadaya kecamatan Ketungau Tengah saat berada di Sintang pada Minggu (8/6/2014) kemarin.<br /><br />Ia pun berharap bimbingan dan perhatian dari Dinas Pertanian dan penyuluh agar memberikan bimbingan kepada warganya untuk menjadi petani yang berhasil. Apalagi hampir semua warganya adalah petani dan pekebun. <br /><br />Dari hasil bertani dan berkebunlah menurutnya warganya bisa memenuhi kebutuhan hidup termasuk menyekolahkan anak-anak mereka.<br /><br />“Kalau yang bertani menetap, kemarau panjang kemarin tingkat gagal panen mereka hanya sekitar 20 persen. Sedangkan kami yang ladang berpindah ini memang benar-benar gagal. Karena kami tidak bisa memenuhi kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman padi yang saat itu sedang berbunga. Kalau yang disawah, karena rawa masih ada airnya,”jelasnya.<br /><br />Selain berharap bimbingan dan penyuluhan, Lunjun juga berharap bantua alat dan bibit tanaman untuk dibudidayakan. Sehingga warganya memiliki kemampuan untuk menghasilan tanaman lain, tidak hanya padi dan getah karet saja.<br /><br />“Sayuran atau tanaman lain lah, selama ini kan kami tidak pernah melakukan budidaya tanaman dengan cara modern. Kalau tanaman sayur di ladang, ya disebar begitu saja. Beruntung bisa tumbuh dan ada buahnya, walau tidak dipupuk atau diapakan,”harapnya. <strong>(ek/das)</strong></p>