Melestarikan Hutan Melalui Kearifan Lokal (Bagian 2)

oleh
oleh

Desa Rangga Intan, Kecamatan Jelai Hulu menjadi salah satu desa yang kami kunjungi dalam program Journalist Visit. <p style="text-align: justify;">Sebelumnya memang wartawan yang ikut dalam program journalist visit dibagi dalam empat kelompok dimana setiap kelompok akan mengunjungi dan tinggal bersama dengan warga desa tersebut. Saya bersama seorang jurnalis majalah Gatra kemudian mendapat tugas ke Desa Rangga Intan.<br /><br />Saat tiba di desa tersebut, suasana asri dan kondisi desa yang begitu rapi langsung kami rasakan. Rumah-rumah tertata rapi, begitu banyak umbul-umbul semakin membuat pemandangan desa begitu indah. Apalagi hutan juga mengelilingi pemukiman penduduk sehingga menghasilkan udara yang segar.<br /><br />Walau berada di pedalaman dan akses transportasi yang sulit dijangkau, desa Rangga Intan justru memiliki keistimewaan dibandingkan dengan desa-desa disebelahnya. Selain soal rumah penduduk yang tertata rapi dan indah, penduduknya juga begitu sangat ramah. Prestasi terbaru, Rangga Intan baru meraih juara II lomba desa tingkat Provinsi Kalbar dan penghargaannya baru diterima pada peringatan HUT RI lalu.<br /><br />Saat kami tiba, memang sebagian besar penduduk masih berada di ladang dan hutan. Beberapa orang tua ada yang sedang sibuk mengayam rotan menjadi kerajinan tangan. Warga Rangga Intan sendiri sebagian besar merupakan etnis Dayak Jalai dan menggunakan bahasa Jalai dalam percakapan sehari-harinya.<br /><br />Kepala Desa Rangga Intan, David bersama Ketua BPD, Ediktus Masa dan Kepala Dusun, Santik ikut menemani kami berbincang-bincang soal kehidupan masyarakat setempat sehari-hari.<br /><br />David mengisahkan hampir seluruh warga desanya bekerja sebagai petani dan penyadap karet. Setiap tahunnya, masyarakat juga berladang untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tradisi berladang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka sejak berabad-abad lalu.<br /><br />“Sudah ada juga yang mulai bersawah, namun belum optimal karena tidak ada pendampingan dari pemerintah,” ujarnya. <br /><br />Satu hal yang patut menjadi contoh adalah bagaimana masyarakat Rangga Intan mampu bertahan dari godaan investor perkebunan dan pertambangan. Ditengah semakin luasnya pembukaan areal hutan untuk perkebunan dan tambang, warga Rangga Intan tetap memilih untuk mempertahankan tanah airnya dengan tetap melestarikan hutan dan alam.<br /><br />“Sudah ada dalam aturan adat bahwa tanah tak boleh dijual keluar. Kalau ada yang jual bisa kena adat,” jelas David.<br /><br />Pria yang belum lama menjabat sebagai Kades inipun menuturkan ada beberapa perusahaan tambang yang ingin masuk ke desanya, namun ditolak mentah-mentah. Alasannya karena masyarakat ingin tetap melestarikan hutan dan memelihara warisan alam bagi anak cucu mereka kedepannya.<br />“Kalau kami jual, nanti anak cucu bisa ga dapat apa-apa,” ucapnya.<br /><br />Terdapat 113 KK yang mendiami Desa Rangga Intan. Dengan jumlah penduduk yang sedikit, pemukiman desa memang tak terlalu luas. Apalagi hanya ada dua dusun di desa tersebut, Dusun Sungai Kiri dan Dusun Kusik Pakit. Kedua dusun berdampingan. Kendati memiliki sedikit penduduk, Rangga Intan dikelilingi hutan buah dan masih banyak pepohonan yang tinggi menjulang.<br /><br />Kepala Dusun Sungai Kiri, Santik mengungkapkan, Rangga Intan sendiri berawal dari perkampungan kecil yang dulunya dinamakan Rangga. Kampung tersebut berada di seberang Sungai Kiri dan kini justru sudah berubah menjadi hutan. Warga kemudian berdiam diri di pemukiman yang kini didiami dengan nama dusun Kusik Pakit (kusik adalah sejenis buah durian yang durinya berwarna merah dan rasanya katanya lebih lezat dari durian biasa).<br /><br />“Kampung Rangga juga berawal dari dahas. Dahas merupakan bekas ladang yang kemudian dibuatkan pondok kecil dan disekitarnya ditanami pohon buah-buahan dan perkebunan karet. Dari dahas, kemudian berkembang menjadi perkampungan kecil dan kemudian berkembang menjadi desa,” terangnya.<br /><br />Santik pun mengungkapkan ada adat istiadat yang terus dipelihara oleh masyarakat Dayak dalam melakukan perladangan. Masyarakat biasanya melihat hari baik untuk menentukan waktu mulai berladang dengan melihat tanda-tanda alam seperti bulan. Sebelum menjadi dahas, masyarakat membuka hutan untuk kemudian dijadikan ladang. Proses ini disebut Belakau.<br /><br />“Bila tahun ini dibuka di daerah satu, tahun berikutnya masyarakat akan belakau di lahan sebelahnya, sampai beberapa kali kemudian, mereka akan kembali lagi ke lakau yang pertama,” katanya.<br /><br />Sehingga, masyarakat tak sembarangan membuka ladang dan berpindah-pindah semaunya. Lahan bekas ladang pun kemudian ditanami berbagai macam pepohonan, termasuk buah-buahan, serta pohon karet untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Areal bekas lakau itulah kemudian disebut dahas.<br /><br />“Sehingga di dahas biasanya akan banyak ditemukan pohon buah-buahan atau kampung buah. Termasuk kebun karet. Dahas juga dijadikan warga untuk memelihara ternak seperti ayam dan babi,” katanya.<br /><br />Ladang yang sudah berubah menjadi kampung buah, pun tak lagi digunakan sebagai tempat berladang. Oleh karena itu, kendati berladang dilakukan setiap tahun, nyaris areal bekas ladang warga malah sudah kembali berbentuk hutan karena ditanami berbagai pepohonan. <br />Santik mengungkapkan, khusus di Rangga Intan saja, terdapat setidaknya 43 dahas milik warga. Satu dahas luasnya berkisar antara 5 sampai 10 hektar. Jangan bayangkan dahas, sebagai areal terbuka, karena justru sebagian besar malah berupa hutan belantara dan banyak terdapat rotan didalamnya.<br /><br />“Bahkan ada yang sudah berkali-kali berbuah seperti dahas pak lelabi yang umurnya bisa mencapai 30 tahun. Duriannya sudah berbuah berkali-kali,” katanya.<br /><br />Dahas dan kampung buah menjadi sumber penghidupan utama warga Rangga Intan. Karena dari sanalah mereka bisa menikmati berbagai buah-buahan dan menyediakan berbagai makanan alam. Rotan pun mudah dicari karena hutan yang masih terjaga dengan baik. Sumber air dari Sungai Kiri juga masih sangat jernih.<br /><br />“Makanya warga tak mau ada perusahaan masuk. Karena kalau masuk, darimana lagi tanah masyarakat untuk berladang dan beternak,” katanya.<br /><br />Kampung buah yang berasal dari berbagai dahas pun bisa dinikmati oleh warga dari desa lain. Tak jarang, kata Santik, seringkali warga dari desa lain ikut mencari buah durian saat musim buah di desa Rangga Intan.<br /><br />“Dari sana kebersamaan dan komunikasi antar warga terjalin. Kita sama-sama berebut dengan mereka saat musim buah tiba,” tuturnya.<br /><br />Santik pun mengungkapkan, lahan desa Rangga Intan sendiri memang masuk dalam kawasan hutan produksi. Sehingga masyarakat tak bisa membuat sertifikat di tanah mereka sendiri. Padahal, nenek moyang mereka sudah lama tinggal di daerah tersebut, jauh bahkan sebelum munculnya negara Indonesia.<br /><br />“Orang dayak juga sering dibilang merusak hutan. Padahal ya pemerintah yang kasi izin HPH dan perusahaan untuk buka kebun. Kami memang membuka ladang, tapi setelah itu kami tanami kembali,” tegasnya.<br /><br />Dirinya pun mengungkapkan, di Bukit Pematang Selambangan, yang tak jauh dari desanya dulunya juga merupakan lahan bekas berladang. Kini bukit tersebut sudah penuh dengan pohon buah-buahan dan kembali menjadi hutan primer. <br /><br />“Kalau sudah penuh buah-buahan, hutan itu tak bisa lagi dipakai untuk berladang. Air bersih Rangga Intan juga bersumber dari bukit itu. Harus disampaikan ke Pak Jokowi (Presiden Terpilih) bahwa masyarakat Rangga Intan bukan perusak hutan,” pesannya. (bersambung).</p>