Menakertrans Sosialisasikan Slogan TKI “Jangan Berangkat Sebelum Siap”

oleh

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar meminta semua Dinas Tenaga Kerja tingkat provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia agar membenahi sistem penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). <p style="text-align: justify;">Selain itu, Muhaimin meminta agar Dinas Tenaga Kerja, agar membantu sosialisasi slogan TKI "Jangan berangkat sebelum siap" kepada CTKI.TKI. TKI Puma. dan Keluarga TKI sehingga  diharapkan hanya CTKI yang benar-benar siap yang diberangkatkan bekerja ke berbagai negera penempatan.<br /><br />“Perlindungan dan pembenahan sistem TKI sejak pra, selama, dan purna penempatan harus dilakukan dengan cara memperbaiki proses pendataan dukumen calon TKI (CTKI  di daerah demi mencegah TKI Ilegal saat pemberangkatan, " kata Menakertans Muhaimin Iskandar dalam kunjungan kerjanya ke Cianjur, Jawa Barat pada Jumat (16/12)<br /><br />Muhaimin mengatakan peran aktif Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) yang berada di bawah Pemda, sangat diharapkan membantu pembenahan sistem penempatan TKI karena terkait langsung dan bertanggung jawab mulai dalam proses rekrutmen, pendaftaran, seleksi CTKI serta siap diberangkatkan ke luar negeri.<br /><br />"Dengan berperan aktifnya pemda dalam pembenahan sistem CTKI, diharapkan Indonesia terbebas dari TKI Ilegal dan undocumented. Para kepala Disnaker  harus memastikan pendataan hanya para calon TKI benar-benar siap untuk bekerja di luar negeri yang dapat segera diberangkatkan, kata Muhaimin.<br /><br />Menurut Muhaimin dalam sosialisasi slogan TKI "Jangan berangkat sebelum siap" ada 4 SIAP yang perlu diperhatikan oleh setiap calon TKI yang berminat bekerja di luar negeri. Pertama harus SIAP FISIK DAN MENTAL. Kesiapan ini mutlak karena pemerintah tidak akan mengijinkan pencari kerja yang sakit bekerja diluar negeri. Pemerintah negara tujuan juga pasti akan menolak calon TKI yang memiliki riwayat sakit, apalagi penyakit menular.<br /><br />Kedua,  SIAP BAHASA DAN KETERAMPILAN. Tidak ada gunanya tekad besar dan keterampilan yang dimiliki oleh calon TKI jika tidak menguasai bahasa negara penempatan dengan baik. Banyak kejadian kekerasan disebabkan karena TKI yang bekerja tidak paham apa yang disampaikan majikannya.<br /><br />Keterampilan kerja juga harus disiapkan sebaik-baiknya dan harus berijazah (sertifikasi). Yang tidak terampil bekerja akan memiliki peluang mengalami masalah kekerasan. Oleh karena itu sebelum berangkat calon TKI harus melatih diri secara sungguh-sungguh.<br /><br />SIAP DOKUMEN. Jangan pernah memalsukan dokumen karena, selain sebagai tindakan kriminal, akan menyulitkan diri sendiri jika tertimpa masalah. Akte Kelahiran, KTP, ijazah, sertifikat keterampilan, keterangan sehat maupun paspor jangan pernah dipalsukan!<br /><br />SIAP PENGETAHUAN NEGARA TUJUAN. Sebelum berangkat, calon TKI harus belajar seluk-beluk negara tujuan baik itu budaya, hukum, maupun nomor-nomor telpon penting terutama Perwakilan RI baik KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) maupun KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia). Kalau pengetahuan ini dimiliki, perlindungan akan lebih mudah dilakukan.<br /><br />“Untuk syaratnya antara lain harus memahami hak dan kewajibannya, memahami aspek perlindungan terhadap diri sendiri serta memiliki keterampilan dan kompetensi kerja yang memadai yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan selama 200 jam, kata Muhaimin.<br /><br />Sementara itu. untuk mengurangi jumlah TKI ke luar negeri, khususnya pada sektor domestic workers, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi melakukan pembinaan khusus kepada 38 daerah basis rekrut TKI atau yang dikenal sebagai daerah kantong TKI.<br /><br />“Pemberdayaan ekonomi calon TKI, TKI Purna, dan keluarga TKI menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini. Dengan telah tersedianya lapangan pekerjaan yang baru di dalam negeri nantinya mereka diharapkan tidak berniat lagi bekerja ke luar negeri,kata Muhaimin<br /><br />Pemberdayaan masyarakat di 38 kantong TKI dilakukan melalui penguatan berbagai kegiatan dan program-program yang mendekatkan pada potensi daerah asal TKI. Di antaranya  wirausaha baru, teknologi tepat guna, padat karya produktif, desa produktif, mobil terampil, rumah terampil, program link and match dengan Kementerian Pendidikan Nasional, Peningkatan peran perbankan dalam program Kredit Usaha Rakyat (KUR) TKI. dan pelayanan remitansi.<br /><br />Untuk pelatihan kewirausahaan disesuaikan dengan potensi sumber daya alam (SDA) yang tersedia di sekitar daerah kantong TKI Jenis pelatihan wirausaha meliputi berbagai budidaya, seperti budidaya ayam, sapi dan kambing, usaha konveksi, menjahit dan bordir. Selain itu, ada juga pelatihan tata rias pengantin, lala boga, bengkel motor, sablon dan percetakan, pengelasan, serta konstruksi skala kecil.<br /><br />Data Kemenakertrans mencatat, kabupaten kota pengirim TKI ada daerah yang menjadi kantong TKI yaitu. Cirebon, Jabar, pengirim TKI ke luar negeri paling banyak dengan jumlah 129,717 orang. Selanjutnya Indramayu sebanyak 95,581 orang. Subang sebanyak 95,180 orang dan Cianjur sebanyak 89,182 orang.<br /><br />Disusul Lombok Tengah NTB mengirimkan sebanyak 62,512 orang. Lombok Barat NTB mengirimkan sebanyak 59.751 orang, Sukabumi mengirimkan sebanyak 55,207 orang, Ponorogo mengirimkan sebanyak 47,717 orang, Lombok Timur NTB sebanyak 46,962 orang dan Malang sebanyak 39,610 orang.<strong>(Pusat Humas Kemenakertrans)</strong></p>