Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta mengatakan bahwa perubahan lingkungan pasti berdampak terhadap kesehatan dengan terjadinya penipisan lapisan ozon di strastofer yang telah meningkatkan resiko terkena kanker kulit, penyakit pernafasan, kehilangan keanekaragaman hayati yang menyebabkan langkanya bahan baku obat dari tumbuhan. <p style="text-align: justify;">“Bahkan perubahan iklim bisa mempengaruhi kesehatan melalui jalur kontaminasi mikroba dan transmisi dinamis. Selain itu perubahan iklim juga akan mempengaruhi agro-ekosistem dan hidrologi, serta sosio-ekonomi dan demografi,” jelas pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini ketika menjadi keynote speaker dalam acara Dies Natalis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ke – 66, di Yogyakarta pada Sabtu (03/03/2012).<br /><br />Selain itu kata Gusti, dampak kesehatan yang dapat terjadi dari proses perubahan iklim diantaranya efek peningkatan temperatur terhadap kesakitan dan kematian, bencana akibat cuaca ekstrim, peningkatan pencemaran udara, penyakit bawaan air dan makanan, dan penyakit bawaan vektor dan hewan pengerat.<br /><br />“Akibat dampak langsung perubahan iklim adalah terjadinya bencana alam, munculnya berbagai penyakit, sampai kematian langsung,” tambah guru besar Universitas Lambung Mangkurat ini. <br /><br />Akibat masalah kesehatan juga dapat terjadi sebagai akibat dampak tidak langsung perubahan iklim, yaitu terjadinya gagal panen yang dapat menyebabkan kekurangan pangan dan gizi, perubahan sifat vektor penyakit yang dapat menyebabkan meningkatnya kejadian penyakit menular, dan buruknya kualitas udara dan air yang dapat menyebabkan berbagai gangguan.<br /><br />Untuk mempertahankan kualitas udara dan air, menurut Gusti perlu dikembangkannya pemanfaatan berbagai sumber energi terbarukan seperti angin, micro-hydro, arus laut, panas bumi, dan nuklir. Selain itu dikembangkan pula berbagai alat transportasi ramah lingkungan, hemat BBM, dan rendah emisi, serta teknologi hujan buatan. <br /><br />“Untuk itu para peneliti dibidang kesehatan telah bersepakat untuk memfokuskan kegiatan kepada pengembangan obat anti malaria Artemisinin, pengembangan vaksin tuberkulosis, flu-burung, dan dengue; pengembangan alat kesehatan berupa Ultra-sonografi bergerak, dan pengembangan obat bahan alam untuk penyakit diabetes, hiperkholesterolemia dan hipertensi. Selain itu, telah dikembangkan pula nyamuk jantan steril, sebagai upaya menekan populasi vektor berbagai virus.”<br /><br />Terakhir, Gusti mengatakan untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap sektor kesehatan diperlukan langkah adaptasi yang ditunjang oleh tingginya kesadaran, sikap mental, dan perilaku masyarakat. <strong>(phs/release kemenristek)</strong></p>















