Mengenang Pangeran Antasari: Pahlawan dari Pulau Borneo

oleh

“Haram menyerah, waja sampai ka puting.” (Pangeran Antasari) <p>Mendengar kata pahlawan, maka ingatan saya seketika tertuju pada sebuah nama. Mungkin karena doktrinasi sedari kecil dan juga ajaran dari guru Ilmu Pengetahuan Sosial saat Sekolah Dasar, jika ditanya, “Siapakah pahlawan Nasional dari Kalimantan Selatan?”, maka nama itu pasti terngiang. Tapi, entah kenapa, sampai sekarang ketika saya sudah menginjak usia kepala dua, masih saja saya belum terlalu mengenal sosok ini. Hanya karena namanya yang terpatri di salah satu universitas negeri kota Seribu Sungai, sebagai pengingat bahwa dia adalah sosok pahlawan yang “hampir” saja saya lupakan.<br /><br />Untunglah, sebelum saya lupa sejarah, Kompasiana menyelenggarakan lomba menulis Pahlawan Daerah. Dan hari ini, tepat tanggal 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan, saya menuliskan sosok sejarah yang begitu banyak berkorban demi rakyat Banjar khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya. Sebagai pengingat bagi saya sendiri bahwa janganlah menjadi sosok JASMERAH (jangan pernah melupakan sejarah).*pekikan kalimat Bung Karno<br /><br />SOSOK NINGRAT YANG BERSAHAJA<br /><br /><br />Sosok yang saya maksud dalam tulisan ini adalah Pangeran Antasari. Menurut beberapa literatur yang ada, Pangeran Antasari lahir di Kayutangi pada tahun 1797 atau 1809 (red. ada perbedaan tahun kelahiran). Pangeran Antasari lahir di keluarga Kesultanan Banjar, sehingga otomatis beliau adalah keturunan berdarah biru. Pada tanggal 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan tertinggi bagi Suku Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.<br /><br />Walaupun lahir dalam keluarga ningrat, Pangeran Antasari merasa tergugah dengan kondisi masyarakat Banjar yang kala itu dijajah oleh Belanda. Hal ini tak lepas, karena Pangeran Antasari hidup dan dibesarkan dengan masyarakat biasa di Antasan Senor, Martapura. Melihat masyarakat yang serba kekurangan dan disakiti oleh kekejaman kolonial, Pangeran Antasari tergerak hatinya untuk terjun langsung membantu rakyat. Selain prihatin dengan kondisi masyarakat, Pangeran Antasari juga trenyuh dengan kesultanan Banjar yang kala itu selalu dicampur-tangani oleh Pemerintah Belanda.<br /><br />SILSILAH PANGERAN ANTASARI<br /><br /> <br />Seperti yang saya lansir dari Wikipedia, beginilah silsilah keluarga dari Pangeran Antasari yang saya dapatkan. Dapat dilihat bahwa Pangeran Antasari memang lahir dalam keluarga Kerajaan tulen. Sekedar untuk menambah ilmu, berikut saya cantumkan tingkat kasta dalam wilayah Kesultanan Banjar:<br /><br />1) Sultan : penguasa kerajaan Banjar<br /><br />2) Pangeran : anak dari Sultan. Kelak, jika dirinya diangkat menjadi raja, juga diberi gelar Sultan<br /><br />3) Antung : keturunan keluarga kerajaan Banjar<br /><br />4) Gusti : keturunan keluarga kerajaan Banjar. Baik nama Antung maupun Gusti masih sering ditemukan di pulau Kalimantan, yang menandakan empunya nama masih mempunyai pertalian nasab dengan keluarga kerajaan Banjar.<br /><br />Begitulah. Walaupun lahir dalam keluarga Kerajaan, tapi Pangeran Antasari masih sempat memikirkan rakyat kecil yang ada di sekitarnya. Dibandingkan dengan kalangan elite sekarang, adakah sempat terpikirkan kondisi rakyat? Miris sekali. Saat masa sulit, justru kepedulian nyata adanya. Sekarang, boro-boro peduli, yang ada malah menutup mata. Dulu, saat penjajahan dan kondisi serba sulit, ternyata lebih mudah menyatukan semangat rakyat Indonesia. Sekarang, antar kelompok saling sikut, menyuarakan kelompoknya paling benar. Sekarang, kemerdekaan sudah di tangan tapi rentan perpecahan.<br /><br />PERJUANGAN PANGERAN ANTASARI<br /><br />Ø Tahun 1761<br /><br />Sejarah berawal dari kericuhan yang terjadi pada masa Sultan Aminullah, datuk dari Pangeran Antasari. Ketika Sultan Aminullah wafat pada tahun 1761, dia meninggalkan tiga orang putra yang masih kecil. Akhirnya, diberikanlah wasiat kepada saudara Sultan, yaitu Pangeran Natanegara untuk menjadi wali. Dua orang putra tersebut kemudian meninggal, dan yang tertinggal –Pangeran Amir- pergi ke daerah Pasir. Pangeran Natanegara pun kemudian menobatkan dirinya sebagai Sultan Sulaiman Saidullah.<br /><br />Ø Tahun 1787<br /><br />Pangeran Amir mengadakan pemberontakan untuk merebut kekuasaannya kembali dengan kekuatan 3000 orang Bugis. Karena tak ingin kekuasaannya direbut, Sultan Sulaiman meminta bantuan Belanda. Belanda akhirnya berhasil mematahkan perlawanan Pangeran Amir dan membuangnya ke Ceylon (sekarang Srilangka). Salah satu putra Pangeran Amir adalah Pangeran Mas’ud (ayah Pangeran Antasari).<br /><br />Belanda memang licik. Sebagai imbalan karena telah membantu Sultan Sulaiman, akhirnya ditanda-tanganilah perjanjian pada tanggal 13 Agustus 1787. Dalam perjanjian tersebut, diterangkan pengurangan kekuasaan Kesultanan Banjar. Sultan Sulaiman memang masih menjabat, tetapi statusnya hanya pinjaman dari Belanda.<br /><br />Ø Tahun 1852<br /><br />Sultan Sulaiman Saidullah mewariskan tampuk kekuasannya pada Sultan Adam Alwasyiqubillah dan diteruskan oleh putranya, Sultan Muda Abdurahman. Sultan Muda ini menikah dengan saudara Pangeran Antasari, yaitu Ratu Antasari dan meninggalkan seorang anak, yaitu Pangeran Hidayatullah. Dari perkawinannya dengan Nyai Aminah, juga menghasilkan seorang anak yaitu Pangeran Tamjidillah. Tahun 1852, Sultan Muda meninggal. Terjadi perebutan kekuasaan di antara keduanya dan ditambah satu pihak lagi yaitu: Prabu Anom, adik Sultan Muda Abdurrahman.<br /><br />Sekali lagi Belanda campur tangan. Merasa ingin mengendalikan kekuasaan Banjar, Belanda merasa perlu memilih Sultan yang bisa diatur. Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai sultan pengganti dan Pangeran Hidayatullah sebagai mangkubumi. Kontan saja rakyat Banjar marah, karena merasa Pangeran Hidayatulah lah yang berhak menjadi Sultan.<br /><br />Ø Tahun 1857<br /><br />Merasa kesal dan marah, rakyat Banjar di pedalaman akhirnya mengadakan perlawanan. Di antaranya di daerah Banua Lima, Muning, Batang Hamandit, Tanah Laut, Hulu Sungai dan Kapuas Kahayan. Pada hakikatnya, gerakan rakyat Banjar ini menghendaki Pangeran Hidayatulah lah yang diangkat sebagai Sultan.<br /><br />Nama Pangeran Antasari saat ini belum lah dikenal banyak orang. Hingga akhirnya, di usianya yang ke-50 tahun, dia mempersatukan gerakan-gerakan tersebut untuk melawan Belanda. Penyebab beliau bisa mempersatukan gerakan-gerakan sempalan ini adalah karena menjadi utusan dari Pangeran Hidayatullah (keponakannya sendiri) untuk menyelidiki pergolakan yang terjadi di masyarakat.<br /><br />Berbekal kesempatan ini, akhirnya dia bisa masuk ke golongan-golongan pemberontak dan bahkan menjadi satu visi dan misi untuk merebut kembali Kesultanan Banjar yang kala itu tampak semakin dipengaruhi Belanda.<br /><br />Ø Tahun 1859 (Terjadinya Perang Banjar)<br /><br />Pengaruh Pangeran Antasari semakin meluas, bahkan di kalangan alim ulama. Akhirnya, beliau bisa menghimpun 6.000 orang laskar. Serangan pertama terjadi pada tanggal 28 April 1859. Inilah awal letupan terjadinya Perang Banjar.<br /><br />300 orang pasukan Pangeran Antasari berhasil melumpuhkan benteng dan tambang batu bara milik Belanda di Pengaron. Keadaan di luar benteng dan tambang pun dapat dikuasai oleh pasukan. Pangeran Antasari pun mengirim surat kepada Kapten Beeckman, pimpinan Belanda agar menyerah.<br /><br />Ø Tahun 1860<br /><br />Pada tanggal 11 Juni 1860, Kesultanan Banjar dihapuskan oleh Belanda. Pemerintah Belanda akhirnya juga mengeluarkan pengumuman bahwa Pangeran Antasari dianggap sebagai pemberontak dan dirinya dihargai 1.000 gulden bagi siapa yang menangkapnya, hidup atau mati. Begitu juga dengan Pangeran Hidayatullah yang bergabung dengan Pangeran Antasari.<br /><br />Pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1278 H, alim ulama dan seluruh pemimpin rakyat dan kepala suku memberikan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin kepada Pangeran Antasari. Dengan gelar ini, berarti secara struktural, Pangeran Antasari adalah sultan yang diakui dalam memegang kedaulatan daerah Banjar.<br /><br />Belanda masih saja gencar melancarkan bujuk rayunya agar Pangeran Antasari mau menyerah. Tapi, Pangeran Antasari membalas bahwa dia hanya ingin kedaulatan kembali untuk Kesultanan Banjar, dan Belanda hanya berperan membayar pajak. Tidak lebih. Ini tergambar dalam suratnya yang ditujukan kepada Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.<br /><br />Ø Tahun 1862<br /><br />Setelah kurang lebih tujuh bulan dinobatkan sebagai Khalifatul Mukminin, terjadi wabah penyakit cacar yang terus meluas di daerah pedalaman dan memakan banyak korban. Pada tanggal 11 Oktober 1862, akhirnya Pangeran Antasari meninggal dunia karena penyakit paru dan cacar yang dideritanya.<br /><br />Walaupun begitu, semangat perjuangan Pangeran Antasari tetap berkobar. Dengan semangat Haram menyarah, waja sampai ka puting, yang artinya: menyerah itu adalah keharaman, berjuanglah sampai titik darah penghabisan, perjuangannya untuk melawan Belanda diteruskan oleh Muhammad Semman, anaknya, beserta seluruh rakyat Banjar.<br /><br />Ø Tahun 1968<br /><br />Pangeran Antasari dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 tertanggal 27 Maret 1968.<br /><br />PELAJARAN DARI SOSOK ANTASARI<br /><br />Dari abdi dan jasa Pangeran Antasari yang hanya sepuluh tahun, ternyata banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sosoknya ini. Jangan lihat dari masa seseorang berjasa, tapi lihatlah dari kualitas pengorbanannya tersebut. Berikut beberapa hal yang saya intisarikan sebagai keteladanan yang bisa ditiru dari Pangeran Antasari:<br /><br />1) Tidak berbangga diri dengan keturunan. Walaupun dilahirkan dalam keluarga kerajaan, hal ini tak membuat Pangeran Antasari sombong apalagi tak peduli dengan kondisi rakyat sekitar. Justru karena dibesarkan di lingkungan masyarakat bawah, membuat kepekaan sosial Pangeran Antasari tumbuh dan berkembang. Seandainya saja hal ini bisa diaplikasikan oleh segelintir saja, keturunan kaya di Indonesia, tak akan ada yang naik haji berulangkali sebelum tetangganya bisa makan dan terpenuhi kebutuhannya. Hal ini sesuai dengan petuah Nabi Muhammad, bahwa seorang pemuda sejati bukanlah yang mengatakan ini Bapak saya, tetapi yang berkata; inilah saya.<br /><br />2) Pantang menyerah. Jika dilihat dari kericuhan sistemik yang terjadi di Kesultanan Banjar, bisa saja Pangeran Antasari menyerah dengan gampangnya. Toh, pada awalnya, beliau juga tak dianggap dan bukan siapa-siapa dalam tataran keluarga kerajaan. Tapi, hal ini tak berlaku bagi Pangeran Antasari. Dengan semboyan Haram Menyerah, Waja sampai Ka Puting, Pangeran Antasari mengobarkan semangat dan mengikrarkan bahwa kedaulatan Banjar pasti bisa dicapai asal gigih berusaha. Hal ini senada dengan adagium Arab yang sangat terkenal; Man Jadda Wajada. Barangsiapa bersungguh-sungguh, pasti dia akan mendapatkan.<br /><br />3) Gampang berbaur dengan masyarakat. Ah, ya, ke mana kita mencari sosok seperti ini sekarang? Bukan karena pendukung atau simpatisan, Jokowi dan Dahlan Iskan patut dijadikan teladan. Seperti halnya Pangeran Antasari yang berbaur dengan golongan pemberontak, sehingga dengan mudahnya dipercaya sebagai pimpinan dari gerakan mereka dan diangkat sebagai Khalifatul Mukminin.<br /><br />4) Tidak haus kekuasaan. Pangeran Antasari menjadi Khalifatul Mukminin bukan karena dia yang menghendaki, tetapi karena kepercayaan rakyat. Walaupun notabene beliau adalah keturunan Kerajaan, tapi kekuasaan bukanlah tujuan Pangeran Antasari. Melainkan kedaulatan kembali daerah Kerajaan Banjar.<br /><br />5) Usia bukanlah penghalang untuk berkarya. Pada usia berapa Pangeran Antasari mulai benar-benar berjuang dan dikenal? Ya, 50 tahun. Tentu, usia ini tergolong bukan usia produktif lagi. Tapi, Pangeran Antasari berbekal tekad dan kemauan akhirnya bisa berjuang dan membuktikan, usia bukanlah penghalang. Hal ini menjadi pelajaran bagi generasi Muda Indonesia dan saya khususnya, jika Pangeran Antasari yang tua saja bisa berkarya, mengapa kita yang masih jelas penglihatan, masih tegap berjalan, masih sempurna pendengaran, tak memberikan sesuatu untuk Indonesia?  <br /><br />Mungkin cukup sekian review singkat tentang sejarah Pangeran Antasari, pahlawan besar Nusantara yang berasal dari Pulau Kalimantan. Semoga kita bisa meniru semangatnya dan menerapkannya untuk Indonesia yang lebih baik. Sekali lagi, Bung Karno pernah mengatakan JASMERAH; jangan pernah melupakan sejarah.***<br /><br />Sumber:<br /><br />http://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Antasari<br /><br />http://ramlinawawiutun.blogspot.com/2010/01/pangeran-antasari-pahlawan-nasional.html</p>