Home / Tak Berkategori

Menggalang Program KB Di Tengah Kaum Marginal

- Jurnalis

Rabu, 29 Februari 2012 - 18:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menyusuri jalan yang tergenang banjir, bahkan sempat nyaris tenggelam, sampai ditutupkan pintu karena dikira peminta sumbangan, menjadi bagian dari perjalanan Elyana Puspita, 39, mengabdi sebagai kader untuk program KB. <p style="text-align: justify;">Jangan salah duga. Itu bukan di daerah yang jauh di pedalaman Kalimantan Barat. Melainkan ada di tengah Kota Pontianak, tepatnya di salah satu kawasan cikal bakal ibu kota Provinsi Kalbar itu.<br /><br />Elyana Puspita tinggal di Gang Mulia No 88 Jalan Tanjung Raya I, Kampung Dalam Bugis, Pontianak Timur. Letaknya tak jauh dari Istana Kadriyah Pontianak, tempatnya Raja Pontianak.<br /><br />Kediaman Ely, panggilan akrabnya, menjadi tempat Posyandu Adinda 3. Bila ada kegiatan, mampu mengumpulkan 200-an orang di posyandu itu.<br /><br />Di kawasan tersebut, mayoritas warga bekerja serabutan dan masuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Letak yang berdekatan dengan Sungai Kapuas membuat wilayah itu dipengaruhi pasang surut air.<br /><br />"Sampai mendatangi rumah orang yang jalannya terendam setinggi pinggang, sampai hampir tenggelam pun pernah," kata Erma, 38, Sekretaris Posyandu Adinda 3, yang juga sahabat karib Ely dan sama-sama kader.<br /><br />Keduanya ditemui beberapa waktu, selepas Sholat Jumat.<br /><br />Ely dan Erma aktif menjadi kader sejak tahun 2000, atau hampir 12 tahun. Ely selain aktif, juga menjadi peserta metode kontrasepsi jangka panjang jenis IUD atau yang lebih dikenal masyarakat, spiral. Ia punya dua anak, yang pertama wanita, kedua pria. Sang suami banyak bergerak di bidang pergerakan sosial.<br /><br />Sedangkan Erma hanya punya satu anak perempuan. "Kalau saye memang tadak bise nambah anak lagi, tadak perlu pakai KB," kata Erma dengan bahasa Melayu, lalu tertawa.<br /><br />Mungkin karena pertimbangan itulah, Ely yang terpilih sebagai juara pertama mewakili Kalbar di tingkat nasional sebagai Sub Pembantu Pembina KB Desa terbaik pada 2011.<br /><br />Ely tertarik dengan kegiatan posyandu, mempromosikan program KB, tidak terlepas dari keluarganya yang berkecimpung di dunia kesehatan. "Ibu bidan, bapak mantri kesehatan," kata Ely.<br /><br />Keduanya selaku pembantu penyuluh KB, tentu saja tugasnya mengampanyekan program KB dan turut serta melaksanakan kegiatan yang terkait.<br />&lt;br />Mereka juga bagian dari Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP), yakni program pemerintah untuk pembinaan dan pengorganisasian keluarga diantaranya dalam mendukung program KB.<br /><br /><br /><br /><strong>Ikut Promosi</strong><br /><br />Ely sendiri mengaku cukup menyesal terlambat menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang jenis IUD.<br /><br />"Kalau sejak dulu pakai IUD, mungkin badan saya tidak sebesar ini," kata dia, lalu tertawa renyah.<br /><br />Ia sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan untuk menggunakan IUD setelah melahirkan anak kedua yang kini duduk di Kelas IV Sekolah Dasar (SD).<br /><br />Menurut Ely, sewaktu mengatur jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua, ia menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek yakni jenis suntik. "Sekitar tiga tahun," kata Ely.<br /><br />Merasa nyaman dengan IUD, ia sempat menggantinya di beberapa tahun setelah pemasangan. "Diganti dengan yang baru, biar lebih lama," kata dia.<br /><br />Ely, alumni Fakultas Teknik Untan ini lalu gencar mempromosikan IUD ke warga binaannya.<br /><br />"Biar warga mengerti, dan tahu langsung dari penggunanya," kata Ely.<br /><br />Ia ingin menepis anggapan yang masih beredar di masyarakat misalnya kalau menggunakan IUD tidak boleh kerja keras, bisa lepas sendiri atau "nyangkut".<br /><br />Padahal, lanjut dia, asumsi-asumsi tersebut tidak benar. "Saya sendiri yang menggunakan, mengalami dan merasakan langsung. Kasarnya, saya pun sudah kerja keras, naik motor kemana-mana, bahkan sampai nebas rumput pun sudah," kata Ely.<br /><br />Ia tidak memungkiri untuk mengubah persepsi negatif tersebut bukanlah perkara mudah. Butuh kerja keras, kesadaran dan kemauan dari semua pihak.<br /><br />Ia sadar, rendahnya kualitas pendidikan warga ikut mempermudah pemahaman-pemahaman negatif tersebut.<br /><br />"Karena pendidikan yang rendah, masih ada anggapan banyak anak banyak rejeki," ujar Ely.<br /><br /><br /><br /><strong>Alkon Gratis</strong><br /><br />Namun ada sejumput kekhawatiran di benak keduanya akhir-akhir ini.<br /><br />Erma misalnya. Ia mencatat ada 10 pasangan usia subur yang kini "kebobolan", atau hamil yang tidak direncanakan di lingkungan RW6 Kampung Dalam Bugis. Ada yang sebelumnya sudah mempunyai, dua, tiga dan empat anak.<br /><br />Erma mengungkapkan, ada yang menyalahkan kalau kehamilan itu karena ia tidak lagi membagikan alat kontrasepsi secara gratis.<br /><br />"Bayangkan di satu RW saja ada 10 pasangan yang hamil lagi. Ada berapa banyak keluarga miskin dan pasangan usia subur di Pontianak," katanya setengah bertanya.<br /><br />Ely menambahkan, sejak tiga atau empat tahun terakhir program pemberian alat kontrasepsi secara gratis sudah tidak ada lagi.<br /><br />Senada dengan Erma, ia berharap pemerintah untuk menyediakan alat kontrasepsi sesuai kebutuhan masyarakat. "Biar program untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, dapat tercapai," kata Ely.<br /><br />Ia mengakui, pemerintah sudah menggratiskan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti vasektomi atau tubektomi.<br /><br />Namun, lanjut dia, fakta yang ada di masyarakat bahwa alat kontrasepsi jangka pendek seperti pil dan suntik masih tinggi<br /><br />penggunanya.<br /><br />"Karena tidak ada lagi program gratis alat kontrasepsi terutama jenis pil dan suntik, akhirnya banyak yang `kebobolan`. Mereka terutama dari kalangan miskin," kata Erma.<br /><br />Menurut dia, saat ini dua jenis alat kontrasepsi itu yang paling banyak digunakan masyarakat di lingkungan Kampung Dalam Bugis.<br /><br />Ia menambahkan, meski harga pil atau suntik KB terbilang murah namun tidak semua masyarakat di kawasan itu mampu membelinya.<br /><br />"Biar pun katanya harganya dua atau tiga ribu rupiah," ujar Erma.<br /><br />Sebagian besar keluarga di kawasan itu bekerja serabutan sehingga pengeluaran sekecil apapun sangat diperhitungkan.<br /><br />"Bagi orang yang tidak mampu,mengeluarkan uang Rp7 ribu satu bulan saja,mereka mikir-mikir," kata Erma.<br /><br /><br /><br /><strong>Tetap Semangat</strong><br /><br />Terlepas dari itu semua, keduanya seolah tak ada rasa lelah menceritakan berbagai permasalahan dan kegiatan seputar mengampanyekan program KB.<br /><br />"Batu sandungan menjadi instrospeksi agar kita lebih maju ke depannya," ujar Ely. Dulu, lanjut dia, tidak mudah mengajak masyarakat ikut KB.<br /><br />Mereka keluar masuk gang kecil di kawasan itu, tidak ada yang peduli. "Dulu, kalau untuk nimbang badan bayi saja, orang tua takut. Karena anak mereka katanya sakit habis ditimbang," tambah Erma.<br /><br />Ada pula anggapan dua anak tidak cukup, butuh satu anak tambahan sebagai cadangan. "Kalau dua anak saja, orang tua khawatir, jadi butuh satu lagi untuk cadangan," ungkap Ely.<br /><br />Kini, rata-rata keluarga yang berusia lebih dari 50 tahun yang mempunyai anak lebih dari dua atau tiga. Sedangkan yang berusia 30-an tahun, punya dua anak, meski terkadang ada cadangan satu anak.<br /><br />Selain itu, posyandu semakin ramai dikunjungi tanpa perlu harus susah payah mengajak warga sekitar.<br /><br />"Kalau dipikir, emang tadak ade untungnye jadi kader," ujar Erma, lalu tertawa. Kepuasan lain, tentu saja mampu menggerakkan orang banyak untuk ikut serta apa yang mereka kampanyekan. Dukungan pemerintah maupun pihak lain seperti penyuluh lapangan KB juga berperan penting.<br /><br />Apakah tertarik kalau direkrut oleh partai politik untuk mendulang suara dan menjadi anggota legislatif ? Keduanya spontan tertawa.<br /><br />"Boleh, dari Partai KB," cetus Erma. Perbincangan selama dua jam pun seolah terasa menjadi singkat. Erma dan Ely pun bersiap karena mereka akan mengadakan pelayanan di posyandu. <strong>(phs/Ant)</strong></p>

Berita Terkait

Jelang Ramadan, DPRD Melawi Minta Pengawasan Ketat Harga Sembako dan LPG
Ribuan Warga Meriahkan Pawai Obor Sambut Ramadan 1447 Hijriah di Melawi
Lembaga Adat Segel Tambang Diduga Ilegal Milik PT GUM, DAD Belitang Hulu Minta Aktivitas Dihentikan
Diduga Lakukan Penambangan Galian C Tanpa Izin, PT GUM Tuai Sorotan Tokoh Masyarakat Belitang Hulu
Politisi Partai Gerindra Tekankan CSR Tak Lagi Seremonial, Harus Fokus Pemulihan Lingkungan dan Pemberdayaan SDM
Aksi Bersih Serentak di Tiga Titik, Melawi Gaspol Sambut HPSN 2026 dan Ramadan
Bupati Tekankan Komitmen dan Eksekusi Program “11.12 GASPOL” pada Forum RKPD Barito Utara 2027
Kadis Kominfo dan Persandian Bulungan Hadiri Musrenbang

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 08:39 WIB

Jelang Ramadan, DPRD Melawi Minta Pengawasan Ketat Harga Sembako dan LPG

Senin, 16 Februari 2026 - 21:23 WIB

Ribuan Warga Meriahkan Pawai Obor Sambut Ramadan 1447 Hijriah di Melawi

Senin, 16 Februari 2026 - 16:56 WIB

Lembaga Adat Segel Tambang Diduga Ilegal Milik PT GUM, DAD Belitang Hulu Minta Aktivitas Dihentikan

Minggu, 15 Februari 2026 - 21:03 WIB

Diduga Lakukan Penambangan Galian C Tanpa Izin, PT GUM Tuai Sorotan Tokoh Masyarakat Belitang Hulu

Minggu, 15 Februari 2026 - 18:44 WIB

Politisi Partai Gerindra Tekankan CSR Tak Lagi Seremonial, Harus Fokus Pemulihan Lingkungan dan Pemberdayaan SDM

Berita Terbaru