Menggugah Kesadaran Lewat "Serangan Fajar Kartun Politik"

oleh

Berawal dari kegelisahan situasi menjelang Pemilu Presiden 2014, lima kartunis yaitu Tommy Thomdean, GM Sudarta, Jitet Koestana, Rahardi Handining, serta Didie SW memamerkan karya seni kartun dengan tema “Serangan Fajar Kartun Politik” di Bentara Budaya, Jakarta. <p style="text-align: justify;">Pameran yang digelar menjelang Pemilu, mulai 7 Juli hingga 13 Juli 2014 itu memamerkan 63 karya seni.<br /><br />“Sebenarnya pameran ini berangkat dari keinginan untuk memperlihatkan pekerjaan rumah terkait masalah-masalah di Indonesia untuk calon presiden yang baru,” kata peserta pameran Tommy Thomdean yang dihubungi di Jakarta, Selasa.<br /><br />Menurut dia, pameran ini juga terinspirasi dari sejumlah tulisan sutradara Garin Nugroho yang dimuat dalam sebuah surat kabar nasional yang mengangkat mengenai Pekerjaan Presiden Indonesia 2014-2018.<br /><br />“Dari sekian banyak karya, ada dua karya saya yang menampilkan telinga dengan peci, serta tangan dikasih peci, dua karya tersebut seperti calon presiden baru, saya mencoba mengusik pemikiran masyarakat untuk menilai maksud karya saya,” katanya.<br /><br />Kartunis asal Purbalingga tersebut mengatakan pengunjung diberi kebebasan untuk menginterpretasikan karya yang dipamerkan. Baginya, rasa ingin tahu dari penikmat karyanya menjadi sasaran dari pameran tersebut.<br /><br />“Mereka akan tersadar, masalah di Indonesia itu banyak yang belum bisa diselesaikan, dan seorang presiden itu mempunyai beban berat terkait hal itu,” katanya.<br /><br />Hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu pengunjung pameran, Aling. Menurut dia pameran kartun tersebut salah satu langkah yang baik dalam memberikan pendidikan bagi masyarakat.<br /><br />“Sebuah karya yang baik itu tidak dari yang penuh dengan kata-kata, tapi menciptakan kata, dari gambar kita bisa belajar banyak hal karena banyak unsur simbolis yang menyampaikan banyak makna,” kata pengajar SMA Bina Nusantara tersebut.<br /><br />Menurut dia, dalam membuat karya sastra selalu ada tendensi di dalamnya dan dalam pameran ini banyak mengandung makna simbolis walau tidak digambarkan secara langsung seperti karya berjudul “Nomor Satu” dan “Nomor Dua” karya Tommy Thomdean. <br /><br />“Karya yang satu mukanya digambarkan dengan tangan seperti menunjukkan kekuasaan yang terpendam dan otoriter, terus untuk karya satunya digambarkan dengan telinga, saya tahu ini pemimpin yang mau mendengar rakyat dan tak banyak berkata-kata,” kata Aling.<strong> (das/ant)</strong></p>