Mesin PLTU Asam-Asam Kalsel Kembali Rusak

Mesin PLTU Asam-Asam Kalimantan Selatan kembali rusak, sehingga pemadaman dalam waktu cukup panjang kembali terjadi di daerah yang kaya sumber energi ini. <p style="text-align: justify;">Manejer Pembangkit PLTU Asam-Asam Kabupaten Tanah Laut Kalsel, Sahrizal Purba di Banjarmasin, Kamis mengatakan, kerusakan terjadi pada generator mesin sehingga salah satu unit mesin terpaksa dipadamkan.<br /><br />"Terjadi getaran fibrator pada mesin sehingga mengganggu kerja salah satu dari dua unit mesin di PLTU Asam-Asam," katanya.<br /><br />Dengan demikian, kata dia, selama mesin dalam perbaikan Kalsel kehilangan daya sebanyak 60 megawatt sehingga terpaksa sebagian aliran listrik ke pelanggan dimatikan.<br /><br />Menurut dia, kerusakan terjadi sekitar pukul 18:00 Wita hingga pukul 06:00 wita, sehingga pada Kamis pagi seluruh kerusakan sudah berhasil ditangani dengan baik.<br /><br />Tentang seringnya terjadi pemadaman dalam beberapa pekan terakhir, Sahrizal mengaku, bukan bidangnya untuk memberikan penjelasan.<br /><br />"Namun yang pasti hingga kini kita masih devisit daya, jadi tidak menutup kemungkinan pada saat-saat tertentu terjadi pemadaman," katanya.<br /><br />Diperkirakan, pada Agustus 2011 PLTU asam-Asam Unit III yang kini pembangunanannya telah selesai 80 persen akan masuk sistem dan pada akhir tahun disusul unit IV juga masuk sistem.<br /><br />Dengan demikian, kata dia, pada awal 2012 Kalsel akan mendapatkan tambahan pasokan listrik higga 120 megaatt.<br /><br />"Namun kita tidak bisa menjanjikan bahwa, kekurangan daya saat ini akan teratasi dengan penambahan daya PLTU unit III dan IV, mengingat Kalsel merupakan salah satu provinsi yang berkembang cukup pesat," katanya.<br /&gt;<br />Seiring dengan perkembangan permukiman, penduduk dan industri tersebut, kata dia, maka kebutuhan listrik ke depan masih sulit diprediksikan.<br /><br />Kondisi tersebut berbeda dengan daerah Jawa yang daerahnya sudah cukup padat, sehingga estimsi penambahan daya dalam setiap tahunnya bisa lebih mudah diprediksi.<br /><br />Pemadaman aliran listrik di Kalsel tidak hanya dikeluhkan masyarakat, tetapi juga industri rumah tangga dan industri kecil lainnya.<br /><br />Salah seorang pengusaha mie, Fadhlan Rasydi mengaku harus banyak menambah biaya produksi pada saat lampu mati, karena harus memanfaatkan genset sehingga harus menambah biaya bensin.<br /><br />Selain itu, kata dia, produksi yang dihasilkan juga tidak maksimal, sehingga banyak pelanggan yang tidak mendapatkan jatah dagangan.<br /><br />"Misalnya pada saat listrik tidak ada gangguan, kita bisa produksi hingga 26 karung tepung, karena hanya menggunakan genset kadang hanya bisa produksi separonya," katanya.<br /><br />Kondisi tersebut membuat beberapa pedagang merasa dirugikan, karena seharusnya bisa berjualan, karena produksi mie tidak tercapai menjadi tidak bisa berjualan.<br /><br />"Kalau produksi gangguan, bukan hanya kita yang merasa dirugikan, tetapi juga puluhan pedagang mie mulai dari pedagang besar, pengecer hingga pedagang warungan atau yang jualan mie masak," tambahnya.<br /><br />Warga berharap pemadaman bisa segera diatasi, sehingga usaha mikro, kecil dan menengah berkembang dengan baik. <strong>(phs/Ant)</strong></p>