Mewujudkan Pabrik Alumina Pertama Di Tanah Air

oleh

Tayan, Kabupaten Sanggau, dan Toho, Kabupaten Pontianak, tidak lama lagi akan menjadi saksi hadirnya pabrik alumina pertama di Tanah Air. <p style="text-align: justify;">Dua kecamatan di bumi Kalimantan Barat (Kalbar) itu memang terpilih menjadi lokasi proyek Chemical Grade Alumina (CGA) yang dikembangkan oleh PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), yang merupakan perusahaan patungan antara PT Aneka Tambang (80 persen) dan Showa Denko KK (20 persen) Jepang Proyek CGA Kalbar sendiri adalah satu dari 17 proyek besar yang termasuk dalam program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).<br /><br />"Saya menyambut baik rencana proyek CGA tersebut. Saya akan memberi perhatian besar, bahkan akan terus memperjuangkan terwujudnya pabrik hingga beroperasi," kata Gubernur Kalbar Cornelis penuh antusiasme.<br /><br />Bagi Kalbar, proyek CGA ini selangkah lebih baik dari sebelumnya, di mana PT Aneka Tambang (Antam) hanya menjadi pengekspor bijih bauksit Kalbar ke China dan Jepang.<br /><br />Namun kali ini, proyek CGA yang pertama di Tanah Air dan disebut-sebut juga pertama di Asia Tenggara itu akan melibatkan dana investasi yang besar, sehingga akan mampu menggerakkan perekonomian daerah provinsi Bumi Akcaya ini.<br /><br />Gubernur Kalbar Cornelis saat peletakan batu pertama konstruksi proyek CGA Tayan pada 11 April lalu mengingatkan agar dengan dibangunnya pabrik CGA ini juga dapat menumbuhkan roda perekonomian masyarakat miskin, membuka lapangan pekerjaan, terutama pengusaha kecil, agar bisa hidup dan berkembang.<br /><br />Selain itu, ia mengharapkan akan banyak menyerap tenaga kerja, terutama bagi masyarakat sekitar, agar tercipta rasa keharmonisan dan keamanan.<br /><br />"Apalagi investasi di bidang pertambangan merupakan investasi jangka panjang dengan manajemen dan teknologi tinggi, dan untuk proyek alumina ini diperkirakan bisa bertahan hingga 150 tahun," kata Gubernur Kalbar.<br /><br />Di wilayah Kalbar, diakui Direktur Pengembangan PT Aneka Tambang (Antam) Tato Miraza, cadangan bauksit sangat besar . Total estimasi cadangan bauksit yang dimiliki perseroannya setelah melakukan "mine design" pada akhir tahun 2009 mencapai 104,5 juta wmt, meningkat dari tiga bulan sebelumnya 100 juta wmt.<br /><br />"Ke depan Antam memang mengurangi ekspor bijih bauksit, dan beralih mengekspor dalam bentuk CGA," katanya.<br /><br />Istilah "chemical grade alumina" (CGA) merujuk secara umum pada produk bahan kimia berupa aluminum hidroksida dan alumina yang digunakan untuk aplikasi industri yang bukan industri aluminum.<br /><br />Aluminum hidroksida adalah produk antara (intermediate) dari bahan bakunya bauksit, dan merupakan bahan yang dapat digunakan dalam penjernihan air.<br /><br />Sedangkan alumina dapat digunakan untuk memproduksi bahan pendukung komponen elektronik. Beberapa produk yang menggunakan CGA di antaranya "refractories", "abrasives", produk bangunan, "integrated circuit" (IC) dan juga bahan untuk layar LCD.<br /><br />Proyek Tayan Proyek CGA Tayan kini sudah dimulai konstruksinya pada April lalu dengan total nilai diperkirakan sekitar 450 juta dolar AS atau hampir Rp4 triliun.<br /><br />Pendanaan untuk proyek ini berasal dari dana internal Antam dan Showa Denko KK (SDK), pinjaman dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) serta "debt guarantee" yang disediakan oleh Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC).<br /><br />Sementara proses konstruksi dilakukan oleh konsorsium unincorporated PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Tsukishima Kikai Co. Ltd. Jepang dan PT Nusantara Energi Abadi (Nusea).<br /><br /&gt;"Konstruksi proyek CGA Tayan diperkirakan akan berjalan selama 32 bulan dengan operasi komersial dimulai pada bulan Januari tahun 2014," kata Direktur Utama PT Aneka Tambang, Alwinsyah Lubis.<br /><br />Proyek CGA Tayan akan mengolah cadangan bauksit Antam untuk memproduksi 300.000 ton CGA per tahun. Komoditas CGA akan diekspor ke Jepang dan negara-negara lainnya, serta dijual untuk pasar domestik Indonesia.<br /><br />Dimulainya konstruksi proyek CGA Tayan menandai eksekusi strategi jangka panjang Antam dalam pengolahan cadangan bauksit Antam yang berjumlah besar dan berkualitas tinggi. Proyek CGA Tayan memiliki potensi pendapatan sekitar 200 juta dolar AS per tahun bagi ICA.<br /><br />Sedang untuk proyek CGA Toho yang masih dalam tahap pembebasan lahan seluas 2.000 hektare. Diperkirakan kapasitasnya produksinya sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan potensi bauksit di Kabupaten Pontianak sekitar 60 juta ton.<br /><br />"Nilai investasinya direncanakan sekitar 1 miliar dolar AS,"tambah Lubis.<br /><br />Masalah Listrik Masalah klasik bagi perkembangan investasi di luar Jawa-Bali adalah keterbatasan penyediaan energi listrik bagi perusahaan baru.<br /><br />Para petinggi Kalbar tak terkecuali, juga sudah berulang kali mengeluhkannya dan mengingatkan agar PLN bisa mengatasi masalah defisit energi listrik itu untuk mendukung investasi dan perekonomian Kalbar.<br /><br />Akhirnya PLN Wilayah Kalbar untuk mempercepat penyediaan tambahan energi listrik bagi investor baru, khususnya terkait proyek CGA, dengan cara membeli dari Malaysia. Pertimbangan utama untuk membeli listrik dari Malaysia karena di Sarawak sedang dibangun pembangkit listrik skala besar.<br /><br />"Ini yang paling cepat dilakukan. Tapi ke depan memang PLN harus membangun sendiri, untuk kemandirian," kata Manajer Teknik PLN Kalbar, Ikram.<br /><br />Proyek pembangunan pembangkit listrik PLN di Kalbar yang masuk program percepatan kemandirian itu yakni Pantai Kura – Kura (Kabupaten Bengkayang) 2 x 25 MW dan Parit Baru (Kabupaten Pontianak) 2 x 50 MW.<br /><br />Untuk rencana membeli dari Sarawak, PLN berusaha mengintensifkan rencana pembelian listrik skala besar melalui jaringan interkoneksi 275 kilo Volt (kV) dari Sarawak Energy Berhard (SEB) untuk Kalbar.<br /><br />Menurut dia, dari target 2015, realisasi bisa dipercepat menjadi tahun 2012 dengan pertimbangan lonjakan permintaan energi listrik di Kalbar.<br /><br />"Terutama untuk PT Aneka Tambang yang akan mengeksploitasi tambang bauksit serta pendirian pabrik pendukung di Kalbar," kata dia.<br /><br />Di Tayan, Kabupaten Sanggau, PT Aneka Tambang diperkirakan membutuhkan energi listrik 30 Megawatt (MW). Kemudian di Toho, Kabupaten Pontianak, PT Aneka Tambang akan membutuhkan 80 MW untuk pabrik alumina.<br /><br />Dengan segala komponen di Kalbar mendukung perwujudan pabrik alumina itu, dua bupati, dari Kabupaten Sanggau dan kabupaten Pontianak, yang daerahnya menjadi lokasi proyek CGA, sangat berharap pabrik alumina tidak hanya menguntungkan hanya bagi pemilik pabriknya, namun bisa ikut memajukan daerah dan mensejahterakan masyarakat setempat.<br /><br />"Proyek CGA ini sangat diharapkan memberi nilai tambah bagi pemangku kepentingan setempat, terutama dalam hal pengembangan ekonomi masyarakat setempat, penciptaan lapangan kerja, kontribusi bagi pendapatan daerah, serta efek positif lainnya bagi masyarakat Kalimantan Barat pada umumnya dan khususnya masyarakat Kabupaten tempat lokasi pabrik," ungkap Bupati Sanggau Setiman H Sudin. <strong>(phs/Ant)</strong></p>