Motor Bandung Pembawa Raskin Desa Puruk Beribit Tenggelam

oleh

Motor bandung yang berangkat dari Nanga Pinoh menuju ke Kecamatan Ambalau Kabupaten Sintang dengan membawa angkutan sembako dan Beras Miskin (Raskin) Desa Puruk Beribit Kecamatan Ambalau, tenggelam di daerah Desa Sungai Pinang Dusun Mungguk Benteng Kecamatan Pinoh Utara, Minggu (2/7) pukul 04.00 dini hari. <p style="text-align: justify;">Motoris Motor bandung itu, Selamet Uton (37) menceritakan kronologis tenggelamnya. Ia bersama anak buahnya Julianto (14) mulai bergerak dari Nanga Pinoh pada 1 Agustus 2015 sekitar pukul 17.00 WIB.<br /><br />Dalam motor bandung tersebut berisi 264 karung beras Raskin milik Desa Puruk Beribit, serta kurang lebih 4 ratus karung beras dagangan, 50 karung gula, puluhan ken minyak goreng serta sembako dagangan lainnya milik Abangnya. <br /><br />“Sekitar pukul 19.00 WIB, karena sudah malam dan gelap, maka kami putuskan untuk beristirahat di Desa Nusa Pandau. Nah, ketika sekitar pukul 04.00 dini hari, motor mulai tenggelam. Kami pun lansung berupaya mengeluarkan airnya dengan mesin robin, namun mesinnya malah jatuh ke sungai. Jadi barang yang didalam motor terendam semuanya,” terangnya.<br /><br />Ketika tenggelam, masyarakat pun mulai membantu kami. Beras yang sudah tenggelam memang ada yang bisa diangkat ke tepi, namun sudah tidak layak konsumsi, karena sudah tercampur dengan minyak solar dan bensin yang juga ikut tumpah pada saat motor tersebut tenggelam. <br /><br />“Kerugian atas tenggelamnya motor bandung tersebut kurang lebih mencapai Rp. 500 juta,” terangnya.<br /><br />Sementara itu, Kepala Desa Puruk Beribit Kecamatan Ambalau Kabupaten Sintang, Sella mengatakan, dirinya sudah melaporkan kejadian ini kepada Camat Ambalau melalui via seluler. <br /><br />“Selain melaporkan ke camat, saya juga sudah melaporkan kejadian ini ke Polsek Nanga Pinoh, untuk pertanggung jawaban saya dengan masyarakat,” katanya.<br /> <br />Sella menceritakan beras Raskin yang akan dibawanya ke Desa Puruk Beribit itu memang sudah terlambat, sebab ketika kita membawa transportasi ke Sintang, pihak Bulog selalu saja molor. Sehingga ketika musim kemarau tiba, dan air sungai surut, barulah Raskin itu diberikan. <br /><br />“Karena kemarau, dari Sintang baru bisa kami bawa sampai Nanga Pinoh dulu, karena tidak bisa lewat kalau air surut. Jadi terpaksa Raskin itu ngendap di Nanga Pinoh kurang lebih selama satu bulan, hingga air sungai mulai naik 1 Agustus kemarin,” katanya.<br /><br />Setelah air sungai mulai pasang, Sella baru bisa membawa Raskinnya bergerak menuju desanya. Hingga terjadilah musibah tersebut. <br /><br />“Mau bagimana lagi, namanya musibah siapa yang tau. sementara untuk laporan ke polsek dan Camat yang menjadi tanggung jawab saja sementara ini,” pungkasnya. (KN)</p>