Nelayan Pulau Buluh Kecil Terus Berpindah Pemukiman

oleh

Sebanyak 19 kepala keluarga di Pulau Buluh Kecil, Desa Betok Jaya, Kecamatan Pulau Karimata, Kabupaten Kayong Utara yang selama ini menggantungkan hidup sebagai nelayan terus berpindah-pindah pemukiman atau tergantung musim dalam menangkap ikan di laut. <p style="text-align: justify;">"Kami kalau musim angin selatan tinggal di Pulau Buluh Kecil untuk hidup dan mencari ikan, karena dimusim selatan gelombang tidak terlalu tinggi, sehingga memudahkan kami untuk turun ke laut sekitar Pulau Karimata dalam mencari ikan," kata Aris (60) seorang nelayan dan juga ketua rukun tetangga di Desa Betok Jaya, Selasa.<br /><br />Ia menjelaskan, kalau dimusim selatan hasil tangkapan ikan mereka lumayan, karena kondisi gelombang tidak terlalu tinggi, sehingga memudahkan nelayan di Desa Betok Jaya untuk turun ke laut.<br /><br />"Kapal motor kami untuk turun ke laut guna menangkap ikan rata-rata kecil sehingga tidak bisa turun ke laut kalau ketinggian gelombang diatas dua hingga tiga meter," ungkapnya.<br /><br />Sementara kalau dimusim angin barat ketinggian gelombang bisa mencapai dua hingga tiga meter sehingga nelayan yang tadinya bermukim di Pulau Buluh Kecil berpindah ke Pulau Tanjung, Desa Padang, Kecamatan Karimata.<br /><br />"Kami pindah selain untuk berlindung dari tingginya ombak, juga untuk memudahkan turun ke laut yang ketinggian gelombangnya tidak terlalu tinggi, karena dihadap oleh pulau-pulau di kawasan Pulau Karimata," ujarnya.<br /><br />Sehingga menurut Aris, pihak dalam setahun bermukim di dua tempat, yakni sepanjang musim selatan tinggal di Pulau Buluh Kecil, Desa Betok Jaya, kemudian sepanjang musim angin barat tinggal di Pulau Tanjung, Desa Padang.<br /><br />"Kalau sudah pindah, rumah kami tinggalkan dalam keadaan kosong, sementara berbagai peralatan untuk melaut dan perabotan rumah tangga dibawa ke tempat yang baru," kata Aris yang sudah melakukan hal itu bersama keluarnya sejak berusia 16 tahun.<br /><br />Aris menceritakan, awalnya dia dan 17 orang temannya hidup merantau datang berlayar tahun 1972 asal Bugis Sinjai, Makassar, sejak dia berusian 16 tahun, lalu menemukan Pulau Buluh Kecil yang cukup bagus untuk dijadikan tempat tinggal, dan ditambah kekayaan lautnya yang melimpah dikala itu.<br /><br />"Kini semua teman-teman saya sudah meninggal semua, tinggal saya sendiri, dan ikan kini juga mulai berkurang, seiring semakin banyaknya nelayan dan ditambah banyak kapal-kapal luar yang datang mencari ikan disini," kata Aris.<br /><br />Menurut dia, saat ini untuk mendapatkan empat keranjang hingga 10 keranjang saja sudah sulit, dengan asumsi satu keranjang seberat 70 kilogram, dan harga jual Rp1.700 /kilogramnya yang dijual kepada penampung di Ketapang.<br /><br />"Dalam menangkap ikan kami selain menggunakan pukat juga membuat bagan yang jumlah totalnya yang dimiliki nelayan Pulau Buluh Kecil sebanyak tujuh bagan, yang satu bagan terdiri lima hingga enam nelayan," ungkapnya.<br /><br />Aris menambahkan, sebanyak 19 KK warganya semuanya bayar pajak pada salah seorang warga Kota Pontianak, sebesar Rp100 /kilogramnya.<br /><br />Sementara itu, Kades Betok Jaya, Hasanudin menyatakan, ada sebanyak 261 kepala keluarga di Desa Betok Jaya, dan ada sebanyak 16 pulau yang jaraknya bisa ditempuh dengan kapal motor ukuran kecil untuk menuju pulau-pulau disekitar Pulau Maya, yang kini baru sekitar 30 persen dari 16 pulau tersebut yang berpenghuni. (das/ant)</p>