Nilai Ekspor Kalbar September Naik 32,45 Persen

oleh

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat mencatat nilai ekspor provinsi itu sepanjang September 2013 mengalami kenaikan sebesar 32,45 persen, dari sebelumnya mengalami penurunan 37,49 persen. <p style="text-align: justify;">"Nilai ekspor Kalbar naik sebesar 32,45 juta dolar AS atau sebesar 87,99 juta dolar AS menjadi 116,54 juta dolar AS," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Kalbar, Edi Rahman Asmara di Pontianak, Jumat.<br /><br />Sedangkan dari periode Januari hingga September 2013, nilai ekspor Kalbar mengalami peningkatan dari 957,48 juta dolar AS menjadi 999,64 juta dolar AS atau naik sebesar 4,40 persen bila dibanding dengan periode yang sama tahun 2012.<br /><br />Edi menjelaskan, ekspor Kalbar masih didominasi oleh biji kerak dan abu logam, karet, dan kayu dengan sumbangan sebesar 96,24 persen dari total nilai ekspor Kalbar.<br /><br />Tiga negara, yakni China, Jepang dan Korea Selatan termasuk tujuan ekspor Kalbar, yakni masing-masing 69,95 juta dolar AS; 21,28 juta dolar AS; dan 13,41 juta dolar AS dengan kontribusi sebesar 89,79 persen, kata Edi.<br /><br />"Tujuan ekspor Kalbar sepanjang September 2013 juga masih didominasi negara Asia, yakni dengan kontribusi sebesar 95,25 persen, disusul Argentina 2,19 persen, Canada 0,37 persen, Prancis 0,37 persen, dan negara lainnya1,82 persen," ujar Edi.<br /><br />Sementara itu, untuk nilai impor Kalbar sepanjang September 2013 mengalami penurunan sebesar 2,30 persen, yakni dari 37,76 juta dolar AS menjadi 36,89 juta dolar AS, kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Kalbar.<br /><br />Tiga golongan barang penyumbang impor terbesar Kalbar sepanjang September 2013, yakni bahan bakar mineral sebesar 62,32 persen; mesin-mesin pesawat sebesar 22,00 persen; dan garam, belerang, serta kapur sebesar 4,16 persen. Ketiga golongan barang tersebut menyumbang sebesar 88,48 persen atau senilai 32,64 juta dolar AS.<br /><br />"Singapura, China dan Malaysia penyumbang impor terbesar, yakni senilai 31,11 juta dolar AS atau 84,34 persen," ujar Edi. <strong>(das/ant)</strong></p>