Operasional PLTA PM Noor Kalsel Terancam Terhenti

oleh

Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air Ir Pangeran Muhammad Noor, Kalimantan Selatan, yang menjadi salah satu pemasok energi listrik bagi sistem kelistrikan Barito terancam terhenti, karena air waduk Riam Kanan menyusut. <p style=&quot;text-align: justify;">"Ketinggian air waduk Riam Kanan menyusut drastis karena kurang dari satu meter dari batas minimum yang bisa digunakan untuk operasional pembangkit," ujar General Manager PT PLN Kalselteng Yudddy SW di Banjarbaru, Minggu.<br /><br />Ia mengatakan, ketinggian air waduk Riam Kanan yang menjadi sumber penggerak PLTA Ir PM Noor sudah masuk kategori mengkhawatirkan dan jika terus menyusut maka operasional pembangkit akan terhenti.<br /><br />Menurut dia, hasil pengukuran ketinggian air waduk berdasarkan duga muka air (DMA) di batas paling tinggi hanya tinggal 53,8 meter atau hanya tersisa 80 centimeter dari batas minimum operasional PLTA.<br /><br />"Ketinggian air kurang dari satu meter dan jika menyentuh level minimum maka operasional PLTA otomatis dihentikan karena ketinggian air tidak bisa menggerakkan turbin dan mengancam mesin pembangkit," ungkapnya.<br /><br />Dikatakan, PLTA yang terletak di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar itu dapat beroperasi maksimal pada duga muka air setinggi 57 meter dari total tinggi dinding waduk yang bisa mencapai 60 meter.<br /><br />Namun, jika ketinggian duga muka air tersisa tinggal 53 meter maka otomatis operasional PLTA yang memiliki tiga turbin pembangkit terhenti karena turbin kekurangan air yang menjadi penggerak utamanya.<br /><br />"Untuk membangkitkan listrik 1 KwH turbin PLTA membutuhkan air sebanyak 11 meter kubik sehingga diperlukan air dalam jumlah besar untuk menggerakkan ketiga turbin pembangkit," ungkapnya.<br /><br />Dijelaskan, duga muka air terus mengalami penurunan sejak kemarau yang menyebabkan tidak adanya hujan baik di bagian hulu dan dalam waduk maupun sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Riam Kanan.<br /><br />Kondisi itu membuat duga muka air di dalam waduk mengalami penurunan sebanyak 3-4 centimeter setiap hari karena digunakan untuk operasional PLTA maupun penguapan yang cukup besar akibat cuaca yang sangat panas.<br /><br />"Langkah penghematan ditempuh untuk mempertahankan ketinggian air waduk dengan mengoperasikan pembangkit rata-rata sebesar 3×6 MW setiap hari dari daya maksimum 3×10 MW atau hanya beroperasi 60 persen," ujarnya.<br /><br />Menyikapi kondisi alam tersebut, pihaknya berupaya selain memohon kepada Allah agar segera diturunkan hujan melalui shalat Istisqo (minta hujan) juga melaksanakan hujan buatan, katanya.<br /><br />Pelaksanakan hujan buatan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama satu bulan sejak tanggal 18 Oktober 2012.<br /><br />"Satu kali terbang, pesawat membawa satu ton bibit hujan buatan berupa garam halus (NaCl) yang disebar di atas waduk dan sepanjang DAS Riam Kanan sehingga diharapkan turun hujan," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>