Pakar : Konsep RSBI Perlu Di Rusmukan Ulang

oleh

Pakar pendidikan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Semarang Muhdi menilai konsep rintisan sekolah bertaraf internasional perlu dirumuskan ulang. <p style="text-align: justify;">Pakar pendidikan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Semarang Muhdi menilai konsep rintisan sekolah bertaraf internasional perlu dirumuskan ulang.<br /><br />"Pemerintah saat ini sedang mengevaluasi sekolah RSBI yang izinnya diberikan pada 2006-2010. Sekalian saja konsepnya dirumuskan ulang, jangan hanya dievaluasi," katanya di Semarang, Jumat.<br /><br />Menurut dia, konsep RSBI selama ini belum fokus apa yang diharapkan dari lulusan sekolah itu, dan sepertinya hanya mengukur kualitas dari kemampuan berbahasa asing bagi siswanya.<br /><br />"Standar-standar yang ditetapkan RSBI selama ini hanya pada penguasaan bahasa asing, dan fasilitas penunjang pembelajaran yang dimiliki sekolah berpredikat RSBI," katanya.<br /><br />Rektor IKIP PGRI Semarang itu mengingatkan hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan RSBI adalah konten standar materi dan wawasan global yang dimiliki lulusan sekolah tersebut.<br /><br />"Itu jauh lebih penting, dibandingkan sekadar menguasai bahasa Inggris. Capaian-capaian semacam itu yang selama ini belum banyak diperhatikan pemerintah dalam pengembangan RSBI," katanya.<br /><br />Kalau hanya mengevaluasi dengan standar lama, kata dia, misalnya kemampuan bahasa Inggris guru yang rendah, tentunya sudah bisa diketahui hasilnya bahwa memang belum banyak guru menguasai.<br /><br />Ia menjelaskan RSBI bukan sekolah yang disiapkan sejak awal, namun disesuaikan dengan standar internasional sehingga wajar jika dalam pelaksanaannya terkendala, terutama faktor sumber daya manusia (SDM).<br /><br />"Kalau disiapkan sejak awal, tentunya semua faktor diseleksi, mulai guru disiapkan untuk mengajar RSBI dan berbagai fasilitas disiapkan sejak awal sesuai standar internasional," katanya.<br /><br />Namun, kata Muhdi yang juga Sekretaris Umum PGRI Jateng itu, pengembangan RSBI tetap bisa berjalan optimal meski tidak disiapkan sejak awal, yakni dengan merumuskan ulang konsepnya.<br /><br />Ia mencontohkan sekolah di Jepang, Korea, dan China yang bisa mendunia, sebenarnya bukan karena penguasaan bahasa asing, namun lebih karena kemampuan dan wawasan global yang dimiliki.<br /><br />"Sekolah di Jepang, Korea, dan China ternyata juga tetap mempertahankan kearifan lokal dan justru berorientasi bagaimana warisan kearifan lokal itu bisa dibawa mendunia," katanya.<br /><br />Kondisi berbeda justru terjadi pada konsep RSBI di Indonesia, kata dia, RSBI justru menekankan pembelajaran budaya asing, namun di sisi lain kearifan lokal menjadi terabaikan.<br /><br />"Bahasa asing, standar fasilitas, dan kerja sama dengan sekolah luar negeri yang diterapkan RSBI selama ini hanya terkesan sebagai formalitas. Ini yang harus diubah," katanya.<br /><br />Karena itu, Muhdi mengusulkan perubahan pola pikir pengembangan RSBI dengan penguasaan materi dan wawasan global tanpa meninggalkan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia. (Eka/Ant)</p>