Palangka Raya Perlu Benahi Infrastruktur Dan Kelistrikan

oleh

Jajaran anggota DPRD Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah mengatakan pemerintah setempat perlu segera membenahi infrastruktur hingga peningkatan ketersediaan tenaga listrik untuk mempercepat masuknya investasi dan pengendalian inflasi daerah. <p style="text-align: justify;"><br />"Upaya untuk mempercepat pertumbuhan investasi di Palangka Raya ini perlu adanya program berkelanjutan hingga pembenahan masalah infrastruktur maupun kelistrikan," kata Ketua Komisi B DPRD Palangka Raya, Nenie A Lambung, Selasa.<br /><br />Menurutnya dengan adanya pembenahan infrastruktur maupun kelistrikan, maka lapangan pekerjaan baru akan cepat terbuka dan meningkatkan daya beli masyarakat.<br /><br />Pihaknya mengakui, bahwa dua permasalahan tersebut sebagai salah satu faktor yang sangat penting dalam mempercepat pertumbuhan investasi khususnya di "Kota Cantik" Palangka Raya.<br /><br />"Untuk masalah infrastruktur kita sudah mengerjakannya secara berkelanjutan sesuai dengan program skala prioritas yang ada. Sedangkan untuk masalah kelistrikan, Kota Palangka Raya masih dinilai minim," katanya.<br /><br />Sebab, selama ini Provinsi Kalimantan Tengah terus berharap surplus daya listrik dari Provinsi Kalimantan Selatan.<br /><br />Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof A. Chaniago sebelumnya mengatakan prioritas pembangunan Kalimantan Tengah adalah mempercepat pembangunan infrastruktur listrik agar mampu mengoptimalkan potensi batu bara yang melimpah dan menghidupkan hilirisasi industri di provinsi tersebut.<br /><br />Menurut Andrinof pembangunan pembangkit listrik dan optimalisasi penggunaannya untuk industri menjadi prioritas dibanding rencana pembangunan sarana prasarana fisik seperti jalur rel kereta api.<br /><br />"Bappenas mendukung 200 hingga 300 persen, jika Kalteng memprioritaskan surplus listrik. Tidak boleh defisit lagi," kata dia.<br /><br />Andrinof mengatakan pembangkit listrik diutamakan karena menjadi penopang untuk membangun kawasan industri, pengembangan parawisata, fasilitator teknologi industri dan juga memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga untuk masyarakat Kalteng.<br /><br />"Jadi bangun dulu ‘technopark’, kawasan industri, Kawasan Ekonomi Khusus pelabuhan, setelah itu baru dibangun fisik seperti rel kereta api," ujarnya.<br /><br />Andrinof mengatakan hal itu merupakan terjemahan dari konsep kemandirian dan ketahanan ekonomi yang diusung sendiri oleh Provinsi Kalteng.<br /><br />Dia juga menekankan bahwa penggunaan potensi alam di Kalteng harus diutamakan untuk kebutuhan masyarakat lokal dan pengembangan ekonomi daerah setempat.<br /><br />Dia mencibir jika terdapat rencana pembangunan di Kalteng yang bertujuan untuk terus meningkatkan eskpor batu bara, karena defisit listrik yang terjadi saat ini disebabkan kurang optimalnya pemanfaatan batu bara untuk diolah menjadi sumber listrik.<br /><br />"Jangan sampai potensi daerah tidak dimanfaatkan oleh pemerintah setempat, malah dialirkan ke luar negeri dan luar negerilah yang memanfaatkan potensi daerah itu," kata dia.<br /><br />Jika potensi sumber alam Kalteng dapat dioptimalkan, menurut Andrinof, pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut dapat mencapai 8-9 persen, melebihi pencapaian saat ini di kisaran enam persen.<br /><br />"Potensi produksi batu bara di Kalteng seharusnya menjadikan provinsi tersebut surplus listrik dan dapat mendistribusikan listrik hingga ke Jawa," ujar dia.<br /><br />Andrinof mengatakan pembangunan pembangkit listrik harus dimulai pada 2015. Dia menargetkan pembangkit listrik dengan kapasitas 1000 MW harus dibangun tahun ini.<br /><br />Dia memperkirakan jika pembangkit listrik 1000 MW dapat dibangun 2015 ini, maka dalam 3,5 tahun ke depan, atau 2018, Kalteng sudah dapat memiliki kawasan industri. (das/ant)</p>