Para Peneliti: PDI Perjuangan Partai yang Peduli Tehadap Ekologis

oleh

JAKARTA, KN – Badan Penelitian Pusat (BALITPUS) PDI Perjuangan kembali menggelar Webinar seri 4 dengan mengangkat tema “Konsep Pemikiran Partai: Dari Bung Karno ke Megawati Soekarnoputri”. Seminar tersebut merupakan rangkaian acara HUT 48 PDI Perjuangan dan menuju Bulan Bung Karno di Juni mendatang. Rabu, (24/03/2021)

Webinar Balitpus PDI Perjuangan yang dimoderatori oleh mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup di Kabinet Gotong Royong 1999, A. Sonny Keraf tersebut menghadirkan para peneliti dan akademisi, diantaranya, Prof. Asvi Warman Adam (Peneliti LIPI), Prof. Wuryadi (Akademisi/Intelektual Universitas Negeri Yogyakarta) dan F.S Swantoro (Peneliti Para Syndicate).

Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto dalam sambutannya membuka acara tersebut menyampaikan, PDI Perjuangan merupakan partai yang mengakar kuat dalam pemikiran Bung Karno. Ia menggambarkan, Kongres pertama tahun 2000 merupakan tonggak sejarah perjuangan partai Banteng tersebut di tangan Megawati, dengan berjuang bersama rakyat, bergerak turun ke bwah memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan.

“Pada kongres II tahun 2005, PDI Perjuangan mengisi struktur partai dengan mengkonsolidasikan pemikiran Bung Karno pada gerak perjuangan partai hingga pada kongres selanjutnya, pemikiran Bung Karno diletakan dalam AD/ART partai, menjadi roh yang dijiwai oleh seluruh kader partai dalam gerak perjuangan,” ungkapnya.

Menurut Hasto, Bung Karno meletakan salah satu syarat penting terbentuknya partai pelopor adalah disiplin. Disiplin ideologi, teori pergerakannya, organisasi, taktik dan disiplin propaganda.

“Jika melihat ke dalam, partai ini memilki idealisme politik yang bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan Negara,” katanya.

Bu Megawati dan Bung Karno, tambahnya, sangat peka terhadap perbaikan masyarakat menuju masa depan masyarakat modern. Dalam partai, Bu Mega mempertegas kepada para kader agar bersentuhan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menuju partai modern yang tanggap terhadap situasi dunia, partai yang selalu hadir dalam perkembangan zaman.

Selain itu, Peneliti LIPI, Asvi Warman Adam menyampaikan, bahwa partai seyogyanya memikii wawasan lokal, nasional dan global. Hal ini yang dimliki oleh Bung Karno dan kemudian diilhami oleh Megawati.

“PDI Perjuangan partai yang konsisten mengusung Pancasila. Bagi saya, PDI Perjuangan adalah partai yang sangat Ideologis dalam mempertahankan ideologi Pancasila, hingga hari lahir Pancasila 1 juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila pada 2016,’ ungkapnya

Tentang sifat partai pelopor, menurutNya, PDI Perjuangan bisa berada dalam oposisi dan pemerintahan, sangat konsisten.

Sementara untuk pengembangan ekonomi kerakyatan, dia menilai, apa yang digagas Megawati untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan dalam hal rempah, nusantara adalah sebuah pemikiran yang bercita rasa lokal sebagai penggemblengan ekonomi kerakyatan dan harus menjadi tradisi, bahkan dalam gerak langkah politik.

“Sementara, pemikiran Bu Mega yang menaruh perhatian pada keselamatan lingkungan hidup merupakan gebrakan yang sangat luar biasa, karena hal ini merupakan kepedulian terhadap masa depan umat manusia,” katanya.

Peneliti LIPI ini pun berharap, PDI Peruangan harus menguasai teknologi untuk tidak tertinggal oleh lintasan zaman. Maka PDI perjuangan perlu melakukan gebrakan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

“PDI Perjuangan perlu menaruh perhatian pada anak muda, karena merekalah aset bangsa yang perlu dirawat,” tutupnya.

Selanjutnya, Prof Wuryadi mengatakan, dulu, kini dan nanti bagi bung Karno adalah satu rangkain perjalanan yang memiliki roh perjuangan.

Dirinya menilai, PDI Perjuangan lahir dari galian pemikiriran Bung Karno berkenaan dengan Marhaenisme dan Pancasila, keduanya hidup dalam pergerakan partai.

“Marhaenisme kita kenal sebagai pemikiran Bung Karno sebagai teori politik dan teori perjuangan, yang dalam kajian politik secara umum dikenal sebagai ideology. Seluruh pemikiran Bung Karno, adalah pemikiran ilmiah, perlu dipahami ontologi, epistemologi dan aksiologinya,” jelas Wuryadi.

Menurutnya Wuryadi, Bung Karno adalah seorang humanis, oleh karena itu yang pertama dan terutama harus dilihat adalah landasan pemikiran Bung Karno yang bersumber pada budi nurani manusia (social conscience of man).

Ia menambahkan, Bung Karno juga sangat percaya pada hasil pengamatannya/ pencermatannya atas segala fenomena yang ada (induktif), yang diolah dengan cara sintetetik untuk memperoleh kebenaraan koherensi

“Trilogi perjuangan Bung Karno: kesadaran-kemauan-perbuatan, yang digunakan pertama kali dalam perjuangan 1908-1928. Marhaenisme/Pancasila, digali dan dikembangkan oleh Bung Karno dengan cara berfikir yang bersifat universal yang diwarnai oleh budaya Indonesia, oleh karena itu mudah sekali di terima oleh khalayak internasional untuk memecahkan berbagai masalah global.” Ungkapnya.

Seperti, Bung Karno menekankan perlunya persatuan untuk usaha kemerdekaan, dan modal kemerdekaan yang akan memberi dukungan perdamaian.

“Yang harus dikembangkan partai PDI Perjuangan adalah membangun kesadaran para anak muda untuk mempertegas komitmen terhadap persatuan dan kesatuan, kesadaran membangun bangsa secara gotong royong,” pesannya.

Sementara, Profesor FS. Swantoro menggambarkan pemikiran Bung Karno di mata dunia hingga mendapat berbagai penghargaan dari Vatikan.

“Bung Karno mendapat medali penghormatan paling tinggi oleh Vatikan sebanyak 3 kali, di mana hal ini tidak pernah ada di Negara-negara lain. Hingga Bung Karno dibuatkan perangko khusus dari Vatikan,” kenangnya.

Menurut Swantoro, hal ini merupakan penghargaan Vatikan tentang Maha Karya Bung Karno, yakni Pancasila yang menurut Vatikan sangat luar biasa,” Katanya.

Dia menguraikan, salah satu yang menjadi perhatian Negara di dunia termasuk Vatikan kepada Bung Karno karena, Bung Karno menjadi pemimpin di Negara muslim yang besar, tetapi semua suku bangsa hidup rukun, inilah yang mrnjadi perhatian khusus bagi Vatikan sehingga memberikan penghargaan kepada Bung Karno.

Lebih dari itu, pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme sangat luar biasa dan terus hidup pada zamannya.

Seperti saat ini, tambahnya, pertempuran Partai Nasionalis dan Islam dalam politik Indonesia, menggambarkan pemikiran Bung Karno sangat Visioner dan terus hidup dalam lintasan zaman.

“Pada masa otoriatrian- Orba mau membumihanguskan pemikiran-pemikiran Bung Karno/desukarnoisasi, yang menjadi ratapan kader-kader PDI Perjuangan. Hingga hari ini, PDI Perjuangan berusaha trus menerus menghidupkan pemikiran Bung Karno dalam perjalanan bangsa termasuk Pancasila agar hal ini terus hidup dalam sejarah perjalanan bangsa,” tutupnya.