Para Pengapung Kapal Dari Cilincing

oleh

Keahlian menyelam dan mengolah pernafasan, serta ilmu mengapungkan kapal yang dipelajari secara otodidak menjadi modal utama Masdi (38) sebagai pengapung kapal tenggelam, profesi yang membawanya bertualang menyelami berbagai wilayah perairan Indonesia. <p style="text-align: justify;">Laki-laki berkulit gelap yang semula hanya mencari nafkah dengan mencari ikan dan kerang di Teluk Jakarta itu memulai pekerjaan sebagai pengapung kapal tenggelam sejak 10 tahun lalu. Ketika itu dia mendapat tawaran untuk mengapungkan kapal yang tenggelam di perairan Lampung.<br /><br />"Sambil belajar, tapi ternyata berhasil," kata Masdi, yang mengaku sudah mahir menyelam sejak usia 14 tahun.<br /><br />Masdi menggunakan kompresor, yang biasa digunakan tukang tambal ban untuk mengisi udara, sebagai alat bantu pernafasan ketika menyelam untuk mengapungkan kembali kapal yang karam.<br /><br />Pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas tiga Sekolah Dasar itu mampu mengapungkan kapal yang tenggelam di kedalaman 30 meter dengan alat bantu kompresor.<br /><br />"Tubuh harus turun secara perlahan, asupan udara yang berasal dari kompresor yang disalurkan lewat selang harus diatur dengan gigi. Setiap tiga meter selalu ada perubahan tekanan yang membuat telinga sakit," kata Masdi, yang merasa lebih leluasa bergerak di dalam air dengan dukungan kompresor dari pada peralatan selam standar.<br /><br />Setelah berhasil mengapungkan kapal yang tenggelam di perairan Lampung, tawaran untuk mengapungkan kapal datang dari berbagai wilayah, mulai dari Kepulauan Riau hingga Pulau Seram, Maluku.<br /><br />Hingga saat ini nelayan yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara, itu sudah mengapungkan 25 kapal besar seperti kapal tanker, tongkang, serta feri dan puluhan kapal nelayan tradisional.<br /><br />Ia mendapatkan bayaran mulai Rp350 ribu per hari hingga puluhan juta setiap mengapungkan satu kapal karam, pekerjaan yang kadang bisa membutuhkan waktu sampai tiga bulan.<br /><br /><br />Penuh risiko<br /><br />Pekerjaan mengapungkan kapal karam yang menjadi sumber pendapatan besar bagi Masdi, risikonya juga tidak kecil. Ia pernah hampir mati karena paru-parunya kemasukan oli sewaktu menyelam untuk mengapungkan kapal karam di Galala, Ambon.<br /><br />"Waktu itu sedang mengapungkan kapal ikan berbobot 300 ton, tiba-tiba kompresor bocor sehingga oli terhisap masuk ke saluran udara," kata Masdi, yang tinggal di rumah berdinding kayu dan batako di Cilincing bersama istri dan tiga anaknya.<br /><br />Beruntung waktu itu Masdi cepat mendapat pertolongan medis di rumah sakit terdekat. Oli yang masuk ke dalam paru-paru Masdi kemudian berhasil dikeluarkan, dan nyawanya bisa diselamatkan.<br /><br />Setelah kecelakaan itu, atas anjuran dokter yang pernah merawatnya, setiap satu bulan sekali Masdi rutin minum soda susu yang katanya bisa membantu membersihkan kotoran yang mungkin masuk paru-paru saat menyelam tanpa menggunakan peralatan selam standar. Setiap akan menyelam dia juga selalu minum antibiotik, obat yang seharusnya hanya digunakan dengan resep dokter.<br /><br />"Menurut pengalaman saya, menyelam di air kedalaman 20 hingga 30 meter itu fisik manusia hanya mampu bertahan selama dua jam, bila lebih risikonya ginjal kita membeku hingga bisa menyebabkan kelumpuhan," katanya.<br /><br />Ia lantas mengatakan bahwa saat bekerja di bawah laut para pengapung kapal juga berisiko menghadapi serangan makhluk-makhluk laut. <br /><br />Sewaktu bekerja di Laut Seram, Maluku, Masdi pernah digigit belut laut atau morea sepanjang tiga meter yang besarnya seukuran betis orang dewasa.<br /><br />"Belut laut itu menggigit dan menarik kaki saya ke dalam lubang, saya pakai pisau untuk memotong leher belut itu, kemudian dia melepaskan gigitannya," kenang dia.<br /><br />Lain lagi pengalaman Suparman (40), nelayan Cilincing yang juga menggeluti dunia pengapungan kapal dengan bekal kemampuan menyelam dan teknik mengapungkan kapal yang dipelajari secara otodidak.<br /><br />Ia ikut mengapungkan Kapal Motor (KM) Levina I yang terbakar kemudian tenggelam di Muara Gembong, Jawa Barat, pada Februari 2007. Kapal yang mengangkut lebih dari 300 orang tersebut terbakar di Selat Sunda, 50 penumpangnya tewas. <br /><br />"Waktu itu saya kehilangan seorang anggota kelompok karena saat menyelam dan melakukan pengelasan, tiba-tiba ada drum minyak yang meledak, teman saya tewas seketika," kata Suparman mengisahkan pengalamannya.<br /><br />Beberapa peristiwa yang tidak masuk akal pun sering Suparman alami ketika mengapungkan kapal karam, salah satunya ketika ia bersama rekannya mengapungkan kapal tenggelam di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.<br /><br />"Waktu itu, percaya enggak percaya, saya dan kawan-kawan diganggu makhluk halus. Setiap malam mimpi kita sama, bahkan sempat ada yang kesurupan," kata nelayan yang gemar menembak ikan itu.<br /><br /><br />Teknik pengapungan kapal<br /><br />Para pengapung kapal dari Cilincing tidak pernah mendapat pendidikan atau latihan tentang cara mengapungkan kapal karam. Keahlian mengelas di bawah laut hingga mengapungkan kapal dengan berat sampai ribuan ton mereka pelajari dari pengalaman.<br /><br />"Kita belajar dari alam, semua kita dapat dari alam, alam menyediakan apapun, tinggal kita mau belajar atau tidak," kata Masdi.<br /><br />Ia menjelaskan hal pertama yang dilakukan saat hendak mengapungkan kapal adalah memeriksa kerusakan kapal di dasar laut. Setelah itu bagian-bagian kapal yang ketahuan bocor ditambal.<br /><br />"Bagian yang paling sulit ialah menambal bagian yang bocor. Untuk lubang kecil, kita pakai adukan tanah liat dan semen, untuk lubang besar kita pakai plat besi atau tripleks," jelasnya.<br /><br />Usai menambal bagian yang bocor, para pengapung kapal akan memompa udara ke dalam kapal sehingga air di dalam kapal keluar dan kapal akan mengapung dengan sendirinya.<br /><br />Jika dengan cara itu kapal sulit untuk diapungkan, maka para pengapung kapal akan menggunakan alat pengapung tambahan seperti drum.<br /><br />Masdi menjelaskan pula bahwa pekerjaan mengapungkan kapal membutuhkan kerja sama, rasa saling percaya dan kerja keras.<br /><br />"Satu tim biasanya terdiri dari dua penyelam dan dua helper atau pembantu penyelam, penyelam bertugas di dasar laut, helper di permukaan yang mengawasi saluran udara untuk kita bernafas," katanya.<br /><br />Setiap orang yang ikut dalam proyek pengapungan kapal, menurut dia, harus berpengalaman dan mengetahui seluk beluk menyelam secara tradisional dengan kompresor.<br /><br />"Jika ada kesalahan maka akibatnya akan fatal, satu tim harus tahu tugasnya masing-masing, karena pekerjaan ini risikonya besar, keselamatan nyawa," jelas Masdi.<br /><br />Masdi menambahkan, pekerjaan mengapungkan kapal tenggelam bisa selesai dengan cepat kalau semua anggota tim berpengalaman dan bisa bekerja sama dengan baik.<br /><br />"Dulu pernah mendapatkan proyek mengangkat kapal tanker seberat 1.500 ton perairan Sumatera Selatan, saya kerjakan lima orang dan cukup satu malam," kata dia, lalu tertawa puas mengenang keberhasilannya.<br /><br />Setelah kapal tersebut berhasil terapung, tugas Masdi dan kawan-kawan selesai. Perusahaan perkapalan atau pihak lain yang menggunakan jasa mereka biasanya menjual bagian-bagian kapal yang sudah didaratkan. Menurut Masdi, bisnis itu bisa mendatangkan keuntungan besar.<br /><br />"Itulah kenapa perusahaan kapal atau logam gemar mencari kapal yang tenggelam, untungnya bisa berkali lipat," kata dia.<br /><br />Bisnis itu juga mendatangkan pekerjaan yang menghasilkan cukup banyak uang bagi Masdi dan para pengapung kapal dari Cilincing. <br /><br />Masdi bersyukur jerih payahnya bekerja mengapungkan kapal bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dia juga bisa membiayai pendidikan ketiga anaknya serta membeli tanah dan rumah yang dia kontrakkan.<br /><br />"Alhamdulillah saya juga bisa membelikan motor untuk anak-anak saya walau memang ada yang cash dan kredit. Rejeki yang saya dapat juga saya sisihkan untuk ditabung, demi kebutuhan masa depan keluarga," kata Masdi lalu tersenyum, bangga. <strong>(ant/kn)</strong></p>