PBNU Minta Ormas Dilibatkan Dalam Perencanaan Pembangunan

oleh

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah melibatkan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam perencanaan pembangunan. "Demokrasi yang baik itu mengandaikan partisipasi publik dalam perencanaan," kata Ketua PBNU Prof Kacung Marijan di depan 1.300 peserta Munas VII LDII di Grha LDII Jatim di Surabaya, Rabu. <p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah melibatkan organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam perencanaan pembangunan. "Demokrasi yang baik itu mengandaikan partisipasi publik dalam perencanaan," kata Ketua PBNU Prof Kacung Marijan di depan 1.300 peserta Munas VII LDII di Grha LDII Jatim di Surabaya, Rabu. <br /> <br /> Oleh karena itu, kata Kacung Marijan yang juga Guru Besar Fisip Unair Surabaya itu, Bappenas perlu mengundang ormas seperti NU, Muhammadiyah, LDII, dan sebagainya dalam rapat perencanaan pembangunan. <br /> <br /> Menurut alumnus Australian National University (ANU) tersebut, ormas tidak harus berhadapan secara "benturan" dengan pemerintah, namun ormas ada kalanya kritis terhadap pemerintah dan ada saatnya mendukung. <br /> <br /> "Di Amerika yang kampiun demokrasi, gereja di sana membangun sinergi dengan partai politik dan pemerintah. Karena itu ormas di Indonesia juga perlu dilibatkan dalam perencanaan pembangunan," katanya. <br /> <br /> Ia menyatakan, demokrasi yang baik itu mengandaikan pembatasan periode kepemimpinan, kontrol terhadap pemerintahan, dan pelayanan publik yang baik. <br /> <br /> "Karena itu, pemerintahan jangan hanya melibatkan parpol dan LSM, tapi ormas juga perlu dilibatkan dalam perencanaan pembangunan untuk mewujudkan demokrasi dan pelayanan publik yang lebih baik," katanya. <br /> <br /> Bahkan, katanya, bila keterlibatan ormas dalam perencanaan itu mengharuskan peran ormas dalam pelaksanaan rencana-rencana itu, maka ormas juga perlu dilibatkan dalam pelaksanaan program/rencana. <br /> <br /> Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj dalam ceramahnya di depan peserta Munas LDII dari seluruh Indonesia itu menegaskan bahwa NU selama ini sudah berperan dalam pembangunan masyarakat melalui budaya. <br /> <br /> "Buktinya, menara yang diambil dari `manara` asal Persia yang berarti tempat pemujaan api pemeluk agama Majusi, kemudian dimunculkan dalam budaya Indonesia berupa menara masjid untuk tempat adzan," katanya. <br /> <br /> Selain itu, sesajen dari masyarakat Hindu juga diakomodasikan menjadi budaya berupa selamatan atau tasyakuran serta kurban sapi untuk masyarakat. <br /> <br /> "Karena itu, dakwah Islam juga harus nyata seperti itu. Kalau sekarang dakwah dengan pidato, doktrin, atau seminar itu sudah kurang laku dan efektif," katanya. <br /> <br /> Untuk itu, katanya, PBNU mengajak LDII menjalin kerja sama untuk dakwah yang nyata melalui pembangunan sarana kesehatan, sarana usaha, dan sebagainya. <br /> <br /> "Beda antara NU dengan LDII dan lainnya itu jangan dikonflikkan, tapi didialogkan. Antara kedua pihak yang berbeda harus saling mengambil khazanah untuk kebaikan keduanya," katanya.(Eka/Ant) <br /></span></p>