Pedalaman Sungai Barito Surut Aktivitas Peti Marak

oleh
oleh

Pedalaman Sungai Barito di wilayah Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah dalam sebulan terakhir surut akibat kemarau dan membuat aktivitas penambangan emas tanpa izin (Peti) kembali marak. <p style="text-align: justify;">"Saya prihatin aktivitas Peti di jalur Sungai Barito terutama di wilayah Kabupaten Murung Raya masih ada yang terlihat," kata Bupati Murung Raya, Willy M Yoseph di Puruk Cahu, Kamis.<br /><br />Padahal, menurut Willy, para penambang Peti tradisional tersebut telah ditertibkan karena aktivitas mereka melanggar hukum yang berlaku.<br /><br />"Pemerintah tidak melarang aktivitas masyarakat untuk menambang emas, namun harus punya izin sehingga kegiatan mereka menjadi legal dan terkontrol," katanya.<br /><br />Pemerintah di kabupaten paling utara Kalteng ini pada 2010 telah memprogramkan bebas Peti, sehingga gencar melakukan penertiban penambangan emas yang tidak dilengkapi izin tersebut.<br /><br />Willy mengatakan, untuk melegalkan aktivitas pertambangan emas rakyat ini pihaknya telah menyiapkan kawasan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sesuai usulan masyarakat di sejumlah kecamatan.<br /><br />"Bagi masyarakat yang akan beraktivitas di kawasan WPR ini harus mengurus perizinan yang berlaku," katanya.<br /><br />Saat ini kawasan WPR yang disiapkan tersebut mencapai 16.000 hektare tersebar di tujuh dari sepuluh kecamatan yang ada di kabupaten paling pedalaman Sungai Barito yang kaya akan sumber daya alam berupa tambang emas, batu bara, dan kayu ini.<br /><br />Pemkab Murung Raya masih terbuka bagi masyarakat yang tetap menjalankan aktivitas menambang emas di kecamatan lainnya, asal mengurus prosedur perizinan yang berlaku.<br /><br />"Dengan menambang di WPR dan memiliki perizinan yang lengkap, masyarakat tidak perlu takut lagi ditertibkan, bahkan status masyarakat memiliki izin tersebut tentu bukan lagi sebagai Peti karena sudah memiliki payung hukum," kata Willy Yoseph. <strong>(das/ant)</strong></p>