Pejuang Peristiwa Mandor Harus Diakui Secara Nasional

oleh

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya menyatakan suatu bentuk penghargaan para pejuang peristiwa Mandor 1942-1945 sebagai kejadian massal dan peringatannya jadi Hari Berkabung Daerah diakui secara nasional. <p style="text-align: justify;">"Sampai saat ini data yang kita ketahui 21 ribu lebih korban tapi masih ada yang mengatakan 40 ribu lebih. Jadi masih banyak yang belum diketahui," katanya usai memimpin upacara Hari Berkabung Daerah di halaman monumen makam Juang Mandor, di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Selasa.<br /><br />Christiandy Sanjaya menyatakan Hari Berkabung Daerah tersebut diharapkan dapat diakui secara nasional.<br /><br />Dalam kunjungan ke Makam Juang Mandor, Christiandy mengaku sangat menyayangkan jalan menuju makam 1 sampai 10 diberi nama Jalan Kematian.<br /><br />Dia mengharapkan nama jalan tersebut diganti dengan nama lain.<br /><br />Ia mencontohkan lebih baik nama Jalan Perjuangan atau nama yang lebih baik dan bukan lagi Jalan Kematian.<br /><br />"Taman makam bukan hanya untuk ziarah tapi bisa juga dijadikan tempat untuk berekreasi," katanya.<br /><br />Makam Juang Mandor dibangun tahun 1977 saat masa pemerintahan Gubernur Kadarusno.<br /><br />Pembangunan makam tersebut dilakukan untuk mengenang peristiwa pembunuhan massal yang dilakukan tentara Jepang terhadap para tokoh, sultan, cendikiawan, dokter dan pengusaha dari Kalbar yang dianggap pembangkang pada masa penjajahan Jepang 1942-1945.<br /><br />Pemerintah Provinsi Kalbar melalui Perda No. 5 tahun 2007 menetapkan tanggal 28 Juni, tanggal diresmikannya Makam Juang Mandor tersebut sebagai Hari Berkabung Daerah.<br /><br />Christiandy mengatakan pemerintah sudah peduli dengan pembangunan makam juang Mandor. Jika dibandingkan dahulu dengan sekarang sudah banyak pembangunan untuk menuju makam.<br /><br />"Jalan sudah di aspal, bangunan rumah sudah ditata dan di perbaiki," katanya.<br /><br />Ia juga menegaskan, Pemerintah sudah berupaya setiap tahun mengajak masyarakat mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang khususnya warga Kalbar. Bahkan secara nasional mengetahui bahwa ada peristiwa korban keganasan Jepang, jika ada upaya dari pemerintah untuk pembangunan maka akan tetap diteruskan.<br /><br />"Peristiwa bersejarah Mandor merupakan satu-satunya yang sudah dijadikan Hari Bergabung Daerah di Indonesia," katanya.<br /><br />Kepala Dinas Sosial Kalimantan Barat M. Junaidi mengatakan, untuk merawat Makam Juang Mandor, saat ini sudah dibangun pagar keliling.<br /><br />Tiap tahun dianggarkan ratusan juta rupiah untuk pembangunan pagar tersebut. Selama ini pembangunan pagar sudah dilakukan sekitar 20 persen karena dibangun secara bertahap.<br /><br />"Pelaksanaan selama ini dilakukan oleh Cipta Karya. Pembangunan ini guna untuk mengamankan aset makam juang," kata Junaidi.<br /><br />Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Landak Lamri meminta para pejuang peristiwa Mandor tersebut dihargai oleh negara Indonesia dan diberikan anugerah atas jasa-jasa yang berjuang melawan Jepang.<br /><br />"Jadi selain kita gelar upacara dan ziarah tiap tahun. Paling tidak pemerintah pusat ada perhatian tersendiri untuk para pejuang Kita ini," kata Lamri.<br /><br />Sementara itu, pelaksanaan Upacara Hari Berkabung Daerah dan ziarah diguyur hujan yang cukup deras.<br /><br />Upacara dipimpin Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya dan dihadiri pejabat provinsi, kabupaten Pontianak, Landak dan ahli waris korban dan pejuang masa pendudukan Jepang. <strong>(phs/Ant)</strong></p>