Pelaksanaan Kurikulum Baru Diperkirakan Terkandala Tenaga Guru

oleh

Anggota Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Habib Sayid Hamid Abdullah memperkirakan pelaksanaan kurikulum baru sekolah dasar hingga sekolah menengah, terkendala tenaga guru. <p style="text-align: justify;">"Karena tampaknya, sejumlah guru sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) belum siap dengan perubahan kurikulum tersebut," tandasnya saat berada di Banjarmasin, Sabtu.<br /><br />"Tapi kalau substansi kurikulum baru atau dari perubahan kurikulum tersebut, tampaknya cukup baik," lanjutnya di sela-sela haulan yang diselenggarakan Ikan Alumni (IKA) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.<br /><br />Sebagai contoh dalam mata pelajaran agama pada perubahan kurikulum tersebut jam pembelajaran mengalami penambahan, ungkap anggota DPD-RI asal daerah pemilihan Kalimantan Selatan (Kalsel) itu.<br /><br />Begitu pula dalam hal pembinaan karakter anak-anak didik sebagai generasi bangsa, tampaknya lebih inten dibandingkan dengan kurikulum lama (sebelumnya), lanjutnya menjawab ANTARA Kalsel.<br /><br />"Jadi dari segi substansi, dengan perubahan kurikulum tersebut sikap keagamaan dan karakter generasi bangsa benar-benar terbina dengan baik," tambah alumnus Unlam yang menyandang gelar sarjana hukum itu.<br /><br />"Apalagi perubahan kurikulum SD, SMP dan SMA itu sudah melalui uji publik dan melibatkan banyak para pakar," demikian Hamid Abdullah.<br /><br />Sebelumnya anggota Komisi IV bidang kesra DPRD Kalsel Maitri Pupsa Koesasih menyarankan, pelaksanaan perbuahan kurikulun tersebut secara bertahap.<br /><br />"Penerapan perubahan kurikulum tersebut perlu bertahap, agar guru dan anak didik tidak kaget," saran politisi perempuan dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu.<br /><br />"Karena perubahan kurikulum, jelas akan membuat kaget anak didik dan guru, terutama di Kalsel, sebab mata pelajaran dipangkas kan bukan hal biasa," tutur anggota Komisi IV DPRD Kalsel yang juga membidangi pendidikan tersebut.<br /><br />Kendala lain, menurut wakil rakyat yang pernah berprofesi sebagai pendidik itu, bidang studi keahlian guru juga masih membingungkan, karena ada mata pelajaran yang digabung.<br /><br />Sebagai contoh, jika seorang guru mempunyai keahlian di bidang studi tertentu, tentu harus menyesuaikan diri lagi jika mata pelajarannya digabung.<br /><br />"Kebetulan saya selain menjadi anggota dewan, juga berpengalaman menjadi seorang guru di sekolah. Menurut saya sulit menyesuaikan jika mata pelajaran digabung," demikian Maitri. <strong>(das/ant)</strong></p>