Pelaksanaan UN Ditunda Karena Soal Kurang

oleh

Pelaksanaan ujian nasional untuk tingkat SMA sederajat di hari pertama Kamis (18/4), di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, terpaksa ditunda karena naskah soal tidak cukup. <p style="text-align: justify;">Kepala Bidang Bina Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Hulu Sungai Utara HM Yunus, di Amuntai, Jumat, mengatakan, kekurangan naskah soal UN di MAN 4 Babirik, bisa dimaklumi, akibat kelalaian distributor yang dikejar batas waktu.</p> <p style="text-align: justify;">"Mungkin karena diburu tenggat waktu pelaksanaan ujian nasional yang sempat di tunda, sehingga petugas kurang teliti dalam mendistribusikan naskah soal ujian," ujarnya.</p> <p style="text-align: justify;">Sebanyak 44 siswa Madrsyah Aliyah Negeri 4 Babirik terpaksa harus tertunda menjawab soal ujian nasional, hampir satu jam karena jumlah naskah soal yang diterima pihak sekolah mengalami kekurangan sebanyak 44 eksemplar.</p> <p style="text-align: justify;">Siswa program IPS di tiga ruang ujian terpaksa tertunda menjawab soal ujian, untuk mata pelajaran Sosiologi yang dilaksanakan jam pertama pelaksanaan.</p> <p style="text-align: justify;">Masalah tersebut langsung dilaporkan pihak panitia penyelenggara UN ke Dinas Pendidikan Hulu Sungai Utara di Amuntai, untuk digandakan.</p> <p style="text-align: justify;">Penggandaan tersebut sesuai keputusan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), dimana tim diperbolehkan menggandakan naskah soal.</p> <p style="text-align: justify;">Sementara itu, soal UN untuk Kabupaten Hulu Sungai Utara tiba di Mapolres setempat pada Rabu (17/4) sekitar pukul 10.30 Wita, dengan menggunakan mobil milik PT. Pos Indonesia yang dikawal aparat dari Polda Kalimantan Selatan.</p> <p style="text-align: justify;">"Berkas soal yang sudah tiba kemudian dipilah-pilah untuk di kirim ke Polsek Sungai Pandan, Babirik, Danau Panggang dan Paminggir yang jauh lokasinya dari Kota Amuntai agar secepatnya bisa dikirim," tutur Yunus.</p> <p style="text-align: justify;">Yunus memastikan, terjadinya kebocoran soal UN sangat kecil karena dekatnya waktu penditribusian berkas soal ujian dengan waktu pelaksanaan.</p> <p style="text-align: justify;">Selain itu, aparat kepolisian dan tim pengawas independen terus mengawal distribusi soal hingga ke polsek di daerah terpencil.</p> <p style="text-align: justify;">Dia menjelaskan, sekolah terpencil SMA Negeri 1 Paminggir, sudah menerima berkas soal UN pada Rabu 17.00 wita yang kemudian diamankan di Polsek Paminggir.</p> <p style="text-align: justify;">Kepala SMAN 1 Paminggir Sukiman, menuturkan, sebanyak 42 siswa, yakni 19 siswa program IPA, dan 23 program IPS yang terbagi dalam tiga ruang ujian diawasi petugas silang dari Kecamatan Danau Panggang dan satu pengawas independen dari Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Amuntai.</p> <p style="text-align: justify;">Meski SMAN Paminggir berada di wilayah terpencil, namun Sukiman memastikan siswanya tidak melakukan kecurangan dalam menjawab soal, seperti mencontek dan lainnya, karena soal UN yang memakai sistem 20 paket soal berbeda dalam satu ruang ujian.</p> <p style="text-align: justify;">Sukiman mengaku mendukung sepenuhnya penerapan siste, paket 20 soal ini sebagai upaya meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar dan meningkatkan kualitas pendidikan.</p> <p style="text-align: justify;">"Sebagai tenaga pendidik kita mendukung sepenuhnya penerapan sistem 20 paket soal ini untuk mengajarkan kepada siswa kita sifat kejujuran dan kemandirian," imbuhnya.</p> <p style="text-align: justify;">Meski demikian Sukiman mengaku ikut berdebar-debar menantikan tingkat kelulusan siswanya mengingat baru kali ini siswa dituntut untuk mendiri dalam menjawab soal.</p> <p style="text-align: justify;">Selain itu ia juga sadar persiapan yang dilakukan siswa dan pihak sekolah cukup minim karena terbatasnya sarana penunjang persiapan belajar menghadapi UN di daerah terpencil seperti Kecamatan Paminggir. <strong>(phs/Ant)</strong></p>