Pelindo: Pelabuhan Sampit Masih Jadi Andalan Kalteng

oleh

Pelabuhan Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kaltemg, ternyata masih terbesar dan menjadi andalan wilayah setempat, khususnya dalam aktivitas ekspor dan impor, kata Kepala PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Sampit Muhammad Taufik Hardjanto. <p style="text-align: justify;">"Pelabuhan Sampit ini merupakan pintu gerbang Kalteng, kalau Pelabuhan Kumai (Kabupaten Kotawaringin Barat) itu sebagai supportingnya. Kalau aktivitas pelabuhan di Sampit ini makin lancar, maka ekonomi Kalteng juga akan meningkat," kata Muhammad Taufik Hardjanto di Sampit, Kamis.<br /><br />Taufik optimistis bahwa potensi sektor kepelabuhanan di Kotawaringin Timur sangat besar. Untuk itu dia berharap berbagai kendala yang masih dihadapi bisa dicarikan solusinya sehingga ekonomi makin meningkat.<br /><br />Ada dua kendala yang masih dihadapi sektor kepelabuhanan di Kotawaringin Timur, yakni pendangkalan alur Sungai Mentaya yang masih mengganggu lalu lintas kapal, serta kerusakan di ruas jalan Sampit-Bagendang.<br /><br />"Kalau dua kendala ini sudah bisa diatasi tuntas, saya yakin perekonomian Kalteng akan makin tumbuh, khususnya dengan makin meningkatnya aktivitas dan pengembangan pelabuhan di Sampit ini," ucap Taufik dengan yakin.<br /><br />Untuk perbaikan ruas jalan Sampit-Bagendang, sambung Taufik, sudah ada kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Kalteng, Pemkab Kotim dan pengusaha untuk memperbaikinya bersama-sama. Perbaikan itu diharapkan rampung pada Desember nanti "Sedangkan untuk alur, informasinya juga segera dikeruk. Mudah-mudahan saja semuanya berjalan sesuai harapan. Tapi untuk alur, harus ada pengerukan tiap tahun agar kapal tidak kandas akibat menumpuknya sedimentasi lumpur," tandasnya.<br /><br />Data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalteng, nilai ekspor Kalteng bulan Juni 2013 sebesar 123,05 juta dolar AS, turun 29,03 persen dibanding bulan Mei 2013 yang mencapai 173,38 juta dolar AS.<br /><br />Secara kumulatif nilai ekspor Kalteng pada Januari – Juni 2013 mencapai 750,13 juta dolar AS atau naik 4,69 persen dibanding periode yang sama tahun 2012 yang sebesar 716,50 juta dolar AS.<br /><br />Komoditas ekspor bulan Juni 2013 adalah bahan bakar mineral (HS 27) sebesar 37,48 juta dolar AS (30,46 persen), bijih, kerak dan abu logam (HS 26) sebesar 35,47 juta dolar AS (28,83 persen), lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar 23,66 juta dolar AS (19,23 persen), karet dan barang dari karet (HS 40) senilai U4,19 juta dolar AS (11,53 persen), dan kayu dan barang dari kayu ( HS 44) senilai 11,41 juta dolar AS(9,27 persen).<br /><br />Ekspor terbesar bulan Juni 2013 dilakukan melalui Pelabuhan Sampit dengan nilai 54,36 juta dolar AS (44,18 persen), Pelabuhan Pangkalan Bun dengan nilai 7,70 juta dolar AS (6,26 persen), dan pelabuhan di luar Kalteng 54,60 juta dolar AS (44,37 Persen).<br /><br />Secara kumulatif ekspor terbesar dilakukan melalui pelabuhan Sampit sebesar 264,86 juta dolar AS (35,31 persen). Negara tujuan ekspor bulan Juni 2013 adalah China sebesar 59,84 juta dolar AS (48,63 persen), Jepang sebesar 21,63 juta dolar AS (17,58 persen) dan India sebesar 11,75 juta dolar AS (9,55 persen).<br /><br />Juni 2013 nilai impor Kalteng tercatat sebesar 0,89 juta dolar AS. Secara kumulatif nilai impor Kalteng Januari – Juni 2013 mencapai 41,20 juta dolar atau turun 37,63 persen dibanding periode yang sama tahun 2012 yang sebesar 66,06 juta dolar AS.<br /><br />Komoditas utama yang diimpor bulan Juni adalah bahan bakar mineral (HS 27) senilai 0,55 juta dolar AS (61,80 persen), secara kumulatif Januari – Juni 2013 impor mesin/pesawat mekanik (HS 84) senilai 30,19 juta dolar AS (73,28 persen), bahan bakar mineral (HS 27) senilai 7,38 juta dolar AS (17,91 persen) dan benda-benda dari besi dan baja (HS 73) senilai 1,65 juta dolar AS(4,00 persen).<br /><br />Impor bulan Januari – Juni 2013 dilakukan melalui Pelabuhan Sampit sebesar 29,17 juta dolar AS (70,80 persen) dan Pelabuhan Pulang Pisau sebesar 9,31 juta dolar AS (22,60 persen).<br /><br />Impor bulan Januari  Juni 2013 berasal dari Malaysia sebesar 27,80 juta dolar AS (67,48 persen), China sebesar 7,55 juta dolar AS (18,33 persen) dan Singapura sebesar 4,91 juta dolar AS (11,92 persen). <strong>(das/ant)</strong></p>