Pembangunan Tower Telekomunikasi Perbatasan Gagal

oleh

Program pembangunan menara tower untuk telekomunikasi di kawasan perbatasan negara, wilayah Kalimantan Timur dengan Serawak dan Sabah, Malaysia pada 2011 gagal meski sudah dilakukan tender. <p style="text-align: justify;">"Gagal akibat harga material yang melonjak tinggi yang tidak terjangkau oleh alokasi dana di APBD Kaltim 2011. Mau tidak mau pembangunan menara tower di perbatasan yang sudah kami rencanakan sejak lama itu gagal, pasalnya anggaran yang disediakan Rp1,2 miliar namun dana yang dibutuhkan ternyata mencapai Rp2,3 miliar," ucap Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, M Jauhar Effendi di Samarinda, Rabu.<br /><br />Ia menjelaskan bahwa proses pembangunan sudah sampai tahap tender dan sudah ada pemenangnya namun proyek dibatalkan akibat kondisi tersebut.<br /><br />"Tahun depan rencananya dialokasikan lagi dana yang dianggap cukup dan proses tender akan dilaksanakan 2012," ujarnya.<br /><br />Sebenarnya, pada 2011 pihaknya menganggarkan lebih besar, namun karena disetujui Rp1,2 miliar, maka terpaksa pembangunan tower untuk kelancaran komunikasi di perbatasan itu dibatalkan.<br /><br />Pembengkakan biaya pembangunan tower itu antara lain, terletak pada harga semen di perbatasan yang mencapai Rp1,5 juta per sak, termasuk juga biaya material lainnya yang juga membengkak karena ongkos angkut yang jauh sehingga membutuhkan biaya mahal.<br /><br />Ia mengatakan bahwa menara di perbatasan negara itu rencananya akan dibangun di Desa Long Nawang, Kabupaten Malinau, yakni daerah yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia Timur.<br /><br />Jika menara telekomunikasi nanti sudah jadi, lanjut Jauhar, maka sejumlah operator selular baik Simpati, AS, XL, Mentari dan lainnya, boleh memanfaatkannya dengan sistem sewa, namun mengenai besaran sewa masih belum diketahui karena menaranya saja belum ada.<br /><br />Selama ini, masyarakat di perbatasan negara itu sudah banyak yang memiliki telepon genggam atau Hand Phone (HP), namun karena belum ada operator yang membangun tower di daerah itu, maka HP yang ada hanya dapat digunakan untuk merekam, mendengarkan musik dan mengambil gambar.<br /><br />"Perusahaan telekomunikasi belum ada yang berani membangun tower di perbatasan karena selain biaya ongkos angkut material yang mahal, juga karena pengguna telepon genggam lebih sedikit daripada di perkotaan,"ujar Jauhar lagi. <strong>(phs/Ant)</strong></p>