Pembelian Solar Di SPBU Dibatasi

oleh

Pembelian bahan bakar minyak jenis solar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dibatasi 30 – 50 liter dalam beberapa hari terakhir. <p style="text-align: justify;">"Kami hanya diperbolehkan membeli solar 30 liter, padahal tangki mobil kami kosong," ujar seorang sopir dari Kotabaru Ahmad Nurul Huda di Banjarmasin, Jumat.<br /><br />Padahal, ujar dia, untuk berangkat ke Kotabaru yang jaraknya sekitar 350 km sebelah tenggara kota Bajarmasin itu diperlukan sekitar 70 liter solar.<br /><br />Sementara untuk mobil angkutan/truk diperbolehkan membeli 50 liter solar.<br /><br />Nurul mengakui terpaksa membeli solar di pedagang eceran dengan harga Rp8.000 per liter.<br /><br />"Persoalannya bukan harga lebih mahal, tetapi kualitas solar di pedagang eceran diduga lebih rendah dibandingkan solar di SPBU," terang dia.<br /><br />Ia mengatakan, dirinya telah membeli lima liter solar di pedagang eceran dan belum ada lima km meter berjalan, mobilnya mogok.<br /><br />Akhmad, juga seorang sopir, mengatakan, untuk menyiasati pembatasan pembelian solar di SPBU di Banjarmasin, ia terpaksa membawa solar dua jerigen dari Kotabaru.<br /><br />"Daripada antre berjam-jam di SPBU dan hanya mendapatkan 30 liter solar, mendingan membawa solar dari Kotabaru," ujar Akhmad.<br /><br />Sementara itu, sekitar dua bulan terakhir hampir semua SPBU di wilayah Kalimantan Selatan dipenuhi antrean mobil yang ingin mendapatkan solar.<br /><br />Tingginya perbedaan harga solar bersubsidi dan industri, yakni kisaran Rp4.500 per liter untuk solar bersubsidi dan sekitar Rp9.000 per liter untuk solar industri, menjadi pemicu antrean tersebut.<br /><br />Ratusan truk dan armada industri diduga turut mengantre BBM hampir di semua SPBU di Kalimantan Selatan. <strong>(phs/Ant)</strong></p>