Pemerintah Diminta Tidak Mudah Naikkan Harga BBM

oleh
oleh

Pemerintah diminta tidak terlalu mudah menaikkan harga bahan bakar minyak karena dampaknya cukup signifikan terhadap harga kebutuhan dan sektor ekonomi lainnya sehingga bisa membebani masyarakat. <p style="text-align: justify;"><br />"Ini jadi pengalaman. Pemerintah jangan mudah menaikkan harga BBM karena dampaknya luas dan akan sulit turun, apalagi ke kondisi normal," kata Ketua Umum DPC Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Darat Kabupaten Kotawaringin Timur, Zulkifli Nasution di Sampit, Senin.<br /><br />Dia mencontohkan, saat pemerintah menaikkan harga BBM pada November 2014 lalu. Saat itu, harga kebutuhan, upah minimum, tarif angkutan dan lainnya terpaksa ikut naik karena menyesuaikan dampak kenaikan harga BBM.<br /><br />Ketika kini harga BBM, kondisi tidak otomatis normal. Harga kebutuhan dan tarif angkutan hampir dapat dipastikan tidak akan turun ke harga normal seperti saat harga BBM belum dinaikkan.<br /><br />"Omong kosong bisa normal seperti sebelum kenaikan. Harga barang tidak sepenuhnya pengaruh angkutan atau BBM, tapi bisa juga karena psikologis pedagang, stok dan lainnya. Meski seharusnya harga bisa turun, belum tentu pedagang mau menurunkan harga kembali ke harga normal. Lagi pula, sekarang upah minimum yang sudah naik tidak ikut diturunkan," kata Zulkifli.<br /><br />Mulai Senin (19/1), pemerintah menurunkan harga premium menjadi Rp6.600 dari sebelumnya Rp7.600 per liter, sedangkan solar menjadi Rp6.400 dari sebelumnya sebesar Rp7.250 per liter. Menyikapi ini, Organda Kotim juga menurunkan tarif angkutan sebesar lima persen dan juga diberlakukan mulai hari ini.<br /><br />Sebelumnya, Organda Kotim menaikkan tarif angkutan barang sebesar 23 persen setelah pemerintah menaikkan harga BBM pada November 2014 lalu. Saat itu harga solar naik Rp2.000 per liter sehingga cukup berpengaruh signifikan terhadap biaya pembelian BBM.<br /><br />Kenaikan tarif tersebut tidak hanya mempertimbangkan kenaikan harga BBM, tetapi juga kenaikan biaya lain seperti harga suku cadang, upah sopir dan lainnya yang juga naik terimbas naiknya harga BBM. Namun kini penurunan tarif angkutan hanya lima persen dengan pertimbangan bahwa hanya harga BBM yang turun, sedangkan faktor berpengaruh lainnya tersebut tidak ikut turun.<br /><br />"Kenaikan tarif saat itu sebenarnya bukan hanya karena harga BBM naik, tapi memang karena sudah tiga tahun tarif angkutan tidak naik padahal harga BBM, sparepart dan UMK. Idealnya setiap tahun tarif naik karena inflasi berkembang, tapi tentu tetap semua harus dilakukan terukur," jelas Zulkifli.<br /><br />Organda Kotim mendukung pengurangan subsidi seraya berharap pasokan tetap terjamin. Namun pemerintah disarankan mencari formulasi agar tidak mudah dan cepat menaikkan harga BBM karena dampaknya kurang baik terhadap sektor lainnya. (das/ant)</p>