Pemilik Mengaku Jadi Korban Penipuan Pupuk Oplosan

oleh

Proses hukum terhadap kasus penangkapan 337 karung pupuk oplosan jenil KCL hingga kini terus bergulir di Kepolisian Resor Sekadau, Kalimantan Barat. <p>Pihak Kepolisian pun tengah melakukan pemeriksaan, termasuk memanggil sejumlah saksi. Pemilik pupuk, Kv, pun telah diperiksa.<br /><br />Ketika ditemui sejumlah wartawan, Kv mengaku ia sudah lima tahun mengembangkan usahanya di Sekadau. Dalam kegiatan niaganya, Kv telah menjalin kerjasama dengan sejumlah koperasi petani kelapa sawit selama bertahun-tahun. Kv sendiri bertindak sebagai suplayer pupuk untuk<br />koperasi-koperasi tersebut.<br /><br />Dalam rentang waktu itu, Kv mengaku tidak pernah ada masalah dalam hubungan niaganya dengan koperasi-koperasi tersebut.<br /><br />“Saya sudah lama jual pupuk. Selama ini tidak pernah ada masalah, tidak pernah ada KUD yang komplain,” klaim Kv.<br /><br />Terkait pupuk oplosan yang disita pihak kepolisian dari gudang penyimpanan miliknya, Kv mengaku a tidak tahu menahu jika pupuk tersebut merupakan pupuk oplosan. <br /><br />Ia berkisah, sebelumnya pasokan pupuk dari agen dimana ia biasa membeli pupuk sempat terhambat.<br /><br />Untuk menyiasati agar pasokan pupuk untuk KUD-KUD di Sekadau tetap terjaga, Kv berinisiatif membeli dari pihak lain untuk sementara waktu. Ia kemudian memesan pupuk dari salah satu pemasok di Pontianak melalui pesan singkat (SMS). Dalam transaksi itu, Kv memesan sebanyak<br />480 karung pupuk jenis KCL.<br /><br />Setibanya di Sekadau, pupuk-pupuk tersebut langsung di drop ke gudang milik Kv. Karena ia sedang tidak berada di Sekadau, ia menyerahkan pembayaran serta pengecekan pupuk kepada karyawan gudang.<br /><br />“Waktu itu saya lagi di Pontianak, jadi yang menerima dan bayar pupuknya anak buah saya di gudang. Maklumlah jumlahnya kan banyak, jadi tidak mungkin mereka (karyawan) periksa tiap karung. Jadi memang karungnya sama sekali tidak diperiksa,” kisah Kv.<br /><br />Kv mengaku telah menjadi korban dari ulah oknum tak bertanggungjawab yang telah mengoplos pupuk yang dibelinya. <br /><br />“Saya disini sebagai korban. Saya tidak tahu pupuk yang saya beli itu pupuk oplosan. Kalau<br />saya tahu, saya tidak berani beli. Saya kan jualan, saya punya prinsip. Saya tidak mau mengecewakan pelanggan dengan menjual pupuk oplosan. Jadi ini bukan ulah saya, saya tidak tahu kalau itu pupuk oplosan. Kalau saya tahu saya pasti ganti rugi dan langsung segel<br />pupuknya,” terang Kv.<br /><br />Kv mengaku tidak mengenal siapa yang memasok pupuk yang dipesannya itu. “Saya tidak kenal. Karena waktu itu pasokan sedang susah, jadi saya pesan saja dari pemasok lain. Saya pesan lewat SMS karena saya tidak menduga akan terjadi seperti ini. Toh, sebelumnya tidak pernah<br />ada masalah,” tuturnya.<br /><br />Dari 480 karung pupuk yang dipesan, memang tidak semuanya merupakan pupuk oplosan. “Memang tidak semua, tapi sebagian besar oplosan, saya akui itu. Tapi sekali lagi saya tegaskan disini saya posisinya sebagai korban dari ulah oknum tidak bertanggungjawab,” tutupnya.  <strong>(Mto/das)</strong></p>