Pemkab Barito Utara Operasionalkan Kapal Sekolah

oleh
oleh

Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah mulai mengoperasikan dua unit "kapal sekolah", yakni kapal bermotor atau kelotok untuk sarana angkutan sungai khusus bagi anak didik dan guru setempat. <p style="text-align: justify;">"Mulai awal tahun 2012 sarana angkutan sekolah ini dioperasikan untuk mengangkut para pelajar dan guru yang tempat tinggalnya menuju sekolah melewati sungai," kata Plt Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Barito Utara (Barut), Fauzul Risma, di Muara Teweh, Kamis.<br /><br />Menurut Fauzul, dua unit perahu bermesin (kelotok) ini masing-masing berkapasitas 30 orang tersebut didesain khusus mengangkut pelajar dan guru sesuai keselamatan pelayaran.<br /><br />Untuk sementara, kata dia, kapal sekolah ini disiapkan bagi para pelajar dan guru yang tempat tinggalnya di Muara Teweh dengan menyeberang di Sungai Barito menuju tempat sekolah di Kelurahan Jambu dan Jingah Kecamatan Teweh Tengah.<br /><br />"Secara bertahap penyediaan kapal sekolah ini kedepannya disiapkan untuk anak sekolah di Kecamatan Lahei dan Montallat," kata Fauzul Risma.<br /><br />Fauzul mengatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pihak sekolah untuk mencari kesepakatan biaya pengoperasian kapal sekolah ini dengan perjanjian kerja sama.<br /><br />Hasil kesepakatan biaya transportasi kapal sekolah itu setiap orangnya dalam sebulan untuk pelajar dikenakan biaya Rp15.000 dan guru Rp25 ribu.<br /><br />"Untuk mengoperasikan kapal ini, pihak sekolah atau pelajar akan diminta bantuan biaya bahan bakar minyak (BBM) dibawah atau setengah harga carteran itu, yang dibayar anak didik selama ini," kata dia.<br /><br />Ringankan pelajar Sementara Kepala Sekolah SMPN-3 Muara Teweh di Kelurahan Jambu, Irwansyah mengatakan, sarana angkutan sekolah khusus bagi pelajar dan guru memang sangat dibutuhkan terutama bagi mereka yang tinggal di Muara Teweh.<br /><br />Meski akses menuju sejumlah sekolah di kelurahan yang hanya dipisahkan Sungai Barito dengan kota Muara Teweh dapat dijangkau dengan jalan darat namun dinilai relatif jauh, karena harus melalui ruas jalan negara yang rawan kecelakaan.<br /><br />"Hampir semua anak didik dan guru dari Muara Teweh bila menuju sekolah di Kelurahan Jambu menggunakan jasa kelotok, karena jaraknya cukup dekat," katanya.<br /><br />Namun, lanjut dia, dengan biaya jasa angkutan sungai yang saat ini sudah meringankan anak didik karena sebelumnya memberatkan karena setiap bulannya para pelajar membayar Rp25.000/orang dan guru yang jumlahnya mencapai puluhan orang mengajar di empat SD dan satu SMP itu membayar Rp40 ribu/orang.<br /><br />Di samping itu, sering para anak sekolah dan guru sering datang terlambat ke sekolah karena harus menunggu jemputan kelotok tersebut dan lebih memberatkan lagi kalau ada kegiatan di Muara Teweh yang harus dihadiri pelajar dan guru sehingga membutuhkan dana untuk mencarter angkutan sungai.<br /><br />"Kami harapkan dengan adanya kapal sekolah ini dapat meringankan biaya anak sekolah dan guru yang sebelumnya menggunakan jasa angkutan kelotok dengan tarif yang memberatkan," katanya. <strong>(das/ant)</strong></p>