Pemkab Sintang Tinjau Jalan Paralel di Perbatasan

oleh

Pemerintah mulai menolehkan perhatian pada wilayah perbatasan yang masuk Kabupaten Sintang. Ada banyak program dan proyek skala besar yang diarahkan ke perbatasan di Kecamatan Ketungau Hulu dan Ketungau Tengah. <p style="text-align: justify;">Salah satunya adalah megaproyek pembangunan jalan paralel perbatasan. Rombongan Penjabat Bupati Sintang Alexius Akim yang didampingi Ketua DPRD Sintang Jeffray Edwrad, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Marchues Afen, Kepala Bappeda Florentinus Anum, Kadis Kesehatan Harysinto Linoh, dan Kadis Pekerjaan Umum Murjani sudah menjajal jalan paralel perbatasan dengan menggunakan kendaraan roda empat mulai dari Simpang Mengerat sampai Simpang Sepulau Desa Mungguk Gelumbang Kecamatan Ketungau Tengah pada kunjungan kerja ke Desa Gut Jaya Bakti pada Selasa, 27 Oktober 2015. <br /><br />Jalan yang dikerjakan oleh Grup 9 Denzipur Angkatan Darat  tersebut memiliki lebar 25 meter dan panjang 45 KM mulai dari Nanga Kantuk Kabupaten Kapuas Hulu menuju wilayah Kabupaten Sintang yakni Desa Jelemuk, Wana Bakti, Mungguk Gelumbang sampai Desa Nanga Kelapan. Tahun 2016, pembangunan jalan paralel perbatasan tersebut akan ditembuskan sampai ke wilayah Ketungau Hulu. <br /><br />Penjabat Bupati Sintang Alexius Akim dihadapan ratusan masyarakat Desa Gut Jaya Bakti berpesan agar anak-anak usia sekolah di kawasan perbatasan agar bersekolah mulai dari SD sampai kuliah. <br /><br />“pembangunan di kawasan perbatasan ini akan terus bergerak. Jalan paralel sedang dibangun yang menghubungkan Sintang dengan Sanggau dan Kapuas Hulu, Sintang dengan Malaysia. Border juga akan segera dibangun. Orang akan berdatangan ke sini, untuk itu saya berharap agar masyarakatnya juga menyiapkan diri menghadapi perubahan yang begitu cepat ini. langkah jangka panjang yang harus dilakukan oleh masyarakat perbatasan adalah dengan menyekolahkan anak-anaknya. Supaya kita siap menghadapi perubahan dan orang dari berbagai wilayah. Dan wilayah perbatasan akan menjadi beranda depan dan persaingan akan semakin ketat.” pinta Alexius Akim. <br /><br />Terkait pelaksanaan pemilihan kepala daerah pada 9 Desember 2015 nanti, Alexius Akim juga berpesan agar masyarakat tidak memilih pasangan calon yang membagi-bagikan uang kepada masyarakat (money politic). <br /><br />“Jangan pilih calon kepala daerah yang kasi uang kepada kalian. Gunakan suara dengan benar sesuai hati nurani. Jangan sampai karena uang 50 ribu atau 100 ribu, pilihan menjadi tidak sesuai hati nurani. Karena calon yang memberikan uang itu berarti mereka membeli suara dan hak kalian, jika mereka menang maka kewajiban mereka selama 5 tahun kepada kalian sudah lunas dengan uang 50 ribu. Bayangkan uang 50 ribu untuk 5 tahun, maka setahun bapak ibu hanya dihargai 10 ribu saja. Dan jika calon yang memberikan uang yang menang, jangan pernah berharap akan ada pembangunan di wilayah kalian, karena mereka sudah membayar lunas” tegas Alexius Akim.</p>