Pemerintah Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan menargetkan penurunan konsumsi beras masyarakatnya sebanyak 1,5 persen per tahun, kata Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluh setempat, Rusnadi. <p style="text-align: justify;">"Setiap tahun jumlah penduduk selalu bertambah sementara luasan lahan pertanian semakin berkurang sehingga produksi beras lambat laun tidak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat," ujarnya di Rantau, ibu kota Tapin, Selasa.<br /><br />Karena itulah, melalui Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2009 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal, pemerintah berusaha mengurangi ketergantungan beras melalui program diversifikasi pangan.<br /><br />Ia mengatakan, bila mampu menggali dan mengembangkan potensi sumber pangan lokal maka upaya penganekaragaman konsumsi pangan akan memberikan manfaat yang besar.<br /><br />"Pada pola konsumsi pangan yang bergizi seimbang, juga diperlukan adanya diversifikasi pangan dalam menu sehari-hari," katanya.<br /><br />Untuk mendukung gerakan P2KP, 2011 ini pemerintah daerah setempat telah menyalurkan bantuan kepada 10 desa sebesar Rp2 juta perdesa untuk memperlancar program penanaman ubi sebagai bahan konsumsi lain, selain beras.<br /><br />Ia mengatakan, 10 desa sasaran tersebut terletak di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Bakarangan, Bungur, Lok Paikat, Piani dan Binuang, masing-masing dua desa untuk setiap kecamatan.<br /><br />Bantuan disalurkan melalui pemberdayaan kelompok wanita, khususnya Kelompok Dasawisma PKK dengan sasaran pengoptimalisasian lahan pekarangan dan kegiatan penyuluhan pangan.<br /><br />Ke depannya, pemerintah daerah setempat mencanangkan pembuatan ubi menjadi beras analog sebagai salah satu bahan konsumsi pengganti beras.<br /><br />Program pemberian bantuan serupa juga telah dilakukan oleh pemerintah daerah setempat pada 2010 dengan jumlah desa sasaran yang sama, demikian Rusnadi. <strong>(phs/Ant)</strong></p>














