Pemkot Diharapkan Sediakan Lokasi Penjualan Batu Akik

oleh

Kalangan perajin batu akik asal Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berharap pemerintah kota setempat menyediakan lokasi khusus untuk penjualan dan pembuatan batu akik di daerah itu. <p style="text-align: justify;"><br />"Saya berharap Pemerintah Kota Palangka Raya bisa menyediakan tempat khusus pembuatan atau penjualan aneka batu akik khas Kalimantan Tengah. Agar para pengunjung baik dari provinsi lain hingga mancanegara tidak kesulitan ketika berminat membelinya," kata seorang perajin batu akik di daerah itu, Winhard O Djahan, di Palangka Raya, Jumat.<br /><br />Selama ini, kata warga Jalan Sumbawa itu, hanya sebagian masyarakat Kota Palangka Raya yang mengetahui tempat penjualan, pembuatan, hingga penyediaan bongkahan batu akik itu karena kabar dari mulut ke mulut di kalangan penggemar batu akik.<br /><br />"Jangankan warga pendatang yang ingin mengetahui lokasi penjualan, pembuatan, hingga penyediaan bongkahan batu akik khas Kalteng secara resmi, sebagian warga Kota Palangka Raya saja masih banyak yang belum mengetahuinya lokasinya dimana," kata Winhard yang puluhan tahun sebagai perajin batu akik.<br /><br />Menurutnya, apabila lokasi penjualan, pembuatan, hingga penyediaan bongkahan batu akik khas Kalteng sudah disediakan maka penggemar batu akik tidak akan kesulitan mencarinya.<br /><br />Oleh sebab itu, pihaknya berharap peran pemerintah kota bisa lebih mendukung dan mendorong penyediaan jasa penjualan batu akik khas Kalteng.<br /><br />Tempat itu, katanya, nantinya bisa menjadi sentral budaya Kalteng, terutama dalam menghadapi pasar bebas, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).<br /><br />Dukung Ketua DPRD Kota Palangka Raya Sigit K. Yunianto mengatakan penyediaan lokasi penjualan batu akik khas Kalteng perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat.<br /><br />"Saya mendukung apabila pemerintah kota bersedia mencarikan lokasi yang strategis untuk tempat penjualan batu akik khas Kalteng. Dan ini bisa menjadikan sumber PAD pemerintah kota," katanya.<br /><br />Ia mencontohkan tentang perputaran uang dari kerajinan batu akik di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat setiap hari mencapai Rp100 juta.<br /><br />Perputaran uang sekitar Rp100 juta itu, katanya, berasal dari jual beli batu akik oleh para perajin yang jumlahnya sekitar 1.000 orang. Setiap orang jual beli sekitar Rp100.000.<br /><br />"Hal inilah yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat untuk bisa menambah sumber pendapatan asli daerah (PAD)," kata politikus PDIP itu.<br /><br />Ia optimistis bahwa potensi batu akik khas Kalteng relatif sangat bagus dan sering dicari-cari penggemar batu akik dari luar maupun dalam daerah.<br /><br />Menurut dia, kerajinan batu akik harus terus didorong untuk menjadi kerajinan berkelanjutan agar terus bertahan dan berkembang hingga dikenal sampai mancanegara.<br /&gt;<br />"Jangan sampai popularitas batu akik hanya sementara. Batu akik harus tetap dipertahankan dengan mengembangkan serta mempromosikan batu akik asli dari daerah Kalteng," ujarnya.<br /><br />Untuk mempertahankan batu akik sebagai kerajinan berkelanjutan, pihaknya berharap kepala daerah masing-masing kabupaten/kota maupun provinsi bisa memberi label jenis batu asal daerahnya.<br /><br />Selain itu, kepala daerah harus melakukan kerja sama, misalnya dengan pecinta batu akik, komunitas batu akik untuk bisa melakukan kegiatan yang bersifat promosi dan edukasi, terlebih menghadapi MEA 2015.<br /><br />"Tujuannya agar mempertahankan seni batu akik lewat pengasah, yang menjadi salah satu faktor utama keindahan batu akik tersebut," ujarnya. (das/ant)</p>