Pemkot Pontianak Gelar Upacara Peringatan Tragedi Mandor

oleh

Para pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat menggelar upacara peringatan Tragedi Mandor Berdarah yang telah merenggut sekitar 21.037 jiwa rakyat Kalbar pada peristiwa pembunuhan massal oleh tentara Jepang tahun 1943 – 1944. <p style="text-align: justify;">"Upacara bendera yang kita lakukan bukan sekadar seremoni saja tetapi bagaimana kita memaknai pengorbanan para pejuang yang rela berkorban harta maupun nyawanya demi kemerdekaan Indonesia," kata Wali Kota Pontianak Sutarmidji dalam sambutannya saat memimpin upacara peringatan Tragedi Mandor Berdarah di Pontianak, Selasa.<br /><br />Ia berharap, upacara serupa hendaknya tidak hanya dilakukan di lingkungan pemerintah saja melainkan ke depannya dilaksanakan di sekolah-sekolah.<br /><br />"Ke depan para lurah-lurah satu minggu sebelum 28 Juni sudah harus melakukan sosialisasi terkait peringatan Tragedi Mandor Berdarah, yaitu dengan mengibarkan bendera merah putih setengah tiang untuk mengenang dan menghormati peristiwa berdarah tersebut," kata Sutarmidji.<br /><br />Wali Kota Pontianak menilai, masyarakat Kota Pontianak dan Kalbar umumnya masih banyak yang tidak mengibarkan bendera setengah tiang dalam memperingati Tragedi Mandor Berdarah. Hal tersebut bisa karena tidak mengetahuinya atau memang tidak peduli.<br /><br />Dari pantauan di lapangan, masih banyak masyarakat Kota Pontianak dan sekitarnya yang tidak mengibarkan bendera setengah tiang, hanya pemilik rumah toko di sepanjang pusat perbelanjaan Jalan Tanjungpura yang mengibarkan bendera setengah tiang.<br /><br />Tragedi Mandor berdarah, yakni pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang dengan samurai pada 28 Juni 1944 yang lokasinya berada di Kabupaten Landak atau sekitar dua jam perjalanan dari Kota Pontianak menggunakan kendaraan darat.<br /><br />Sebuah harian Jepang Borneo Shinbun yakni koran yang terbit pada masa itu mengungkap rencana tentara negeri samurai itu untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang yang eksekusinya dilakukan 28 Juni 1944.<br /><br />Sebelum terjadi Tragedi Mandor Berdarah, tentara Jepang melakukan pendataan atau dikenal dengan peristiwa cap kapak. Tentara Jepang mendobrak pintu-pintu rumah rakyat Kalbar (Melayu, Dayak maupun Tionghoa) dengan tudingan rakyat yang diculik itu akan melakukan pemberontakan dan mematahkan semangat juang rakyat Kalbar yang berusaha membebaskan diri dari penjajahan Jepang yang kejam tersebut.<br /><br />Adapun korban kekejaman tentara Jepang di masa itu, di antaranya sultan-sultan yang ada di Kalbar, kaum cerdik pandai, cendikiawan, para raja, dan tokoh masyarakat Kalbar.<br /><br />Untuk mengenang Tragedi Mandor Berdarah Pemerintah Provinsi Kalbar telah mengeluarkan Peraturan Daerah No. 5/2007 tentang Peristiwa Mandor yang menetapkan setiap 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah.<br /><br />Provinsi Kalbar dan mewajibkan masyarakat provinsi itu untuk menaikkan bendera Merah Putih setengah siang selama satu hari.<br /><br />Pemprov Kalbar setiap tahun menyelenggarakan upacara pengibaran bendera, peletakan karangan bunga dan ziarah di makam korban Tragedi Mandor Berdarah. <strong>(phs/Ant)<br />      </strong></p>