Pemkot Pontianak Temukan 33 Kasus Gizi Buruk

oleh

Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat terdapat 33 kasus gizi buruk di kota tersebut sejak Januari hingga Oktober 2011. <p style="text-align: justify;">"Kecamatan Pontianak Timur masih mendominasi kasus gizi buruk tertinggi, terutama di Kelurahan Kampung Dalam dan Banjar Serasan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Multi Juto Bhatarendro di Pontianak, Kamis.<br /><br />Multi menjelaskan, meski kasus gizi buruk tinggi, semua pasien ditangani. "Di hilir tetap kami tangani, di hulu peran lintas sektor sangat diperlukan, untuk peningkatan perbaikan gizi masyarakat, baik Dinas Pertanian maupun Dinas Pendidikan," kata Multi.<br /><br />Penanganan di hilirnya, kata dia, diberikan melalui perawatan selama 80 hari bagi pasien gizi buruk. Kemudian, sesudah kondisi pasien membaik dibolehkan pulang ke rumah.<br /><br />"Namun, itu tetap kami kontrol. Jangan sampai pasien gizi buruk ada infeksi, karena justru akan memperburuk keadaannya. Kalau pun terjadi, penanganan sampai ke rumah sakit gratis," jelas Multi.<br /><br />Ia melanjutkan, kasus gizi buruk yang biasa terjadi di Kota Pontianak bukan mengincar bayi di usia satu tahun melainkan 2-6 tahun.<br /><br />Sebab, kata dia, pada saat itu orang tua tidak terlalu peduli dengan program imunisasi dan penimbangan. "Seolah-olah satu tahun selesai," ujar dia. Kemudian, penyebab lainnya, yakni punya anak kembali sehingga anak pertama kurang perhatian.<br /><br />"Diperparah lagi anak dititipkan. Biasanya anak disuruh makan cemilan untuk cepat kenyang. Itu justru yang membuat anak tidak sehat," kata Multi.<br /><br />Dirinya mengingatkan, agar masyarakat Kota Pontianak, khususnya ibu-ibu, untuk terus memperhatikan gizi anak.<br /><br />Mengenai jajanan sehat, Multi mengatakan, pihaknya sudah bekerja sama dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Provinsi Kalbar untuk selalu mengambil contoh jajanan di sekolah melalui Puskesmas setempat.<br /><br />Jajanan sekolah baik dari industri rumah tangga, seperti tahu, mie, maupun kerupuk.<br /><br />"Jajanan sekolah ini banyak mengandung borak maupun formalin," tegas Multi.<br /><br />Mengantisipasi hal tersebut, Dinkes Pontianak udah membuat warung sekolah sehat di sejumlah sekolah yang ada di kota itu.<br /><br />"Saya mengajak para orang tua, khususnya ibu-ibu untuk kembali memberikan sarapan kepada anaknya, dan membawakan anak bekal makanan ke sekolah. Anak saya saja sudah SMA masih membawa bekal nasi ke sekolah. Kalau pola makan bersama di sekolah dengan menu dari rumah, Insya Allah sehat," kata Multi. <strong>(phs/Ant)</strong></p>