Pemukulan Wartawan Bengkayang Diselesaikan Secara Adat

oleh

Kasus pemukulan terhadap wartawan sebuah media lokal di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, pada akhir Oktober lalu akhirnya diselesaikan secara adat oleh tokoh setempat. <p style="text-align: justify;">"Penyelesaian secara adat telah dilakukan di Sekretariat KONI Kabupaten Bengkayang, dipimpin oleh Fabianus Oel, mewakili Dewan Adat Dayak Kabupaten Bengkayang," kata Mujidi, dari Forum Jurnalis Kabupaten Bengkayang, saat dihubungi dari Pontianak, Kamis.<br /><br />Korban bernama Jamli, wartawan Suara Gong Borneo. Kejadian itu berlangsung pada Sabtu (26/10) dan ia melaporkan kasusnya itu ke Polres Bengkayang pada Rabu (30/10).<br /><br />Dalam laporan tersebut, Jamli menjelaskan bahwa ia bermaksud untuk meliput suatu kegiatan di perbatasan.<br /><br />Namun saat tiba di pangkalan ojek, tak jauh dari titik nol perbatasan di Jagoi Babang, ia dipanggil dan belum jelas permasalahannya, dipukuli beramai-ramai.<br /><br />Diperkirakan jumlah oknum warga yang ada belasan orang, beberapa diantaranya Jamli kenal. Jamli mengalami patah satu gigi kiri bagian atas, kening bengkak dan pinggang sakit.<br /><br />Ritual adat itu merupakan langkah kedua yang dilakukan Jamli bersama ahli waris atas pemukulan yang dilakukan pelaku.<br /><br />Penyelesaian adat berlangsung lancar dengan dihadiri perwakilan dari Polres Bengkayang, ahli waris Jamli, saksi dari Jueng serta sejumlah wartawan lokal dan LSM.<br /><br />Dalam sengketa adat tersebut, kedua belah pihak, baik Jamli ataupun pelaku yakni Jueng dan kawan-kawan, bersepakat damai dan akan membuka hubungan dengan lembaran lembaran baru.<br /><br />Ada lima hal yang harus dipenuhi Jueng dan kawan-kawan. Pertama, melaksanakan Ritual Adat Pangalumpat, yang dilaksanakan di tempat kejadian dengan biaya Rp641 ribu rupiah. Biaya itu untuk membeli keperluan ritual.<br /><br />Kedua, ritual Saru Semangat, di rumah, biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp2 juta. Biaya itu juga digunakan untuk membeli keperluan adat.<br /><br />Ketiga, yang harus dipenuhi adalah Hukum Adat Balah Nyawa. Pelaku diharuskan membayar 12 tahil setengah, bila diuangkan sebesar Rp6.222.000,-.<br /><br />Kemudian, pelaku juga mengganti biaya pengobatan yang telah dikeluarkan Jamli yang nilainya, Rp2.477.000,-.<br /><br />Lalu, pelaku juga diminta untuk mengganti barang-barang yang rusak. Berdasarkan pengakuan Jamli, barang yang rusak itu adalah kamera Nikon senilai Rp11 juta, dua kartu memori senilai Rp300 ribu, dan kalung giok yang dihargai Rp3 juta.<br /><br />Baik kamera dan kalung giok sempat menjadi sorotan karena Jamli tidak menyertai laporan dengan bukti. Namun demikian, pemimpin pertemuan adat memutuskan nilai barang yang harus dibayar dan akhirnya disepakati dua belah pihak.<br /><br />Dalam kesepakatannya, Jueng harus mengganti kamera dengan uang Rp7,7 juta; dan kalung giok seharga Rp1,37 juta.<br /><br />Total biaya yang harus dikeluarkan untuk itu Rp21.595.000,-.<br /><br />Berdasarkan kesepakatan tersebut, Jueng meminta maaf dan berharap tidak ada lagi dendam serta masalah.<br /><br />Sementara itu Jamli mengatakan, dirinya pada dasarnya tidak berkeinginan masalah pemukulan dirinya tersebut diperpanjang. Namun berdasarkan rasa persaudaraan, jalur adat tetap dilakukan. Ia pun berdamai dan saling memaafkan. <strong>(das/ant)</strong></p>