Pena Melawi Gelar Workshop Jurnalistik

oleh

Perhimpunan Jurnalis (Pena) Melawi menggelar workshop jurnalistik kepada mahasiswa, Sabtu (25/11). Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 20 peserta yang merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Melawi. <p style="text-align: justify;">Ketua Pena Melawi, Eko Susilo dalam sambutannya mengatakan, workshop ini dilaksanakan dengan menggunakan dana Bansos yang disalurkan kepada Pena Melawi. Meskipun jumlahnya tidak begitu besar, namun sangat bermanfaat dalam menjalankan program pena Melawi seperti melaksanakan workshop Jurnalistik kepada mahasiswa ini. <br /><br />Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan minat mahasiswa terhadap dunia jurnalistik. Disamping melatih menulis berita untuk kepentingan kampus juga bertujuan agar nantinya dari kegiatan ini STKIP Melawi memiliki lembaga Pressma. <br /><br />“Dinamika jurnalistik yang pesat, menuntut mahasiswa paham cara kerja jurnalistik, disamping menjadikan jurnalistik dan media sebagai proses, juga sebagai keterampilan, dan profesi di masa depan,” katanya.<br /><br />Di tengah maraknya peningkatan elektronik dan media sosial saat ini, mahasiswa harus mampu menjadikan jurnalistik sebagai media untuk berbagi peristiwa penting dan informasi yang layak diketahui public, namun harus dalam konteks yang bernar. <br /><br />“Workshop jurnalistik ini menjadi momentum mahasiswa untuk merealisasikan idealisme melalui tulisan atau berita,” ujarnya.<br /><br />Seperti yang diketahui bersama, hingga diperkirakan sudah mencapai ratusan juta pengguna internet di yang tersebar di Indonesia. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami aktivitas jurnalistik tetapi harus diikuti degan latihan menulis yang mumpuni. Maka mahasiswa harus belajar dan mendekati dunia jurnalistik agar tahu teknik mengelola berita. Mulai dari meliput, menulis, hingga mempublikasikannya.<br /><br />“Saat ini mahasiswa di manapun dituntut bisa menulis untuk jurnalistik. Di era jurnalisme warga. Karena itu dibutuhkan sikap kritis, kemampuan reportase, wawancara hingga menulis berita yang baik. Karena di era digital, jurnalistik bisa jadi pilihan karier dan impian masa depan bagi generasi muda” tambahnya.<br /><br />Sementara itu Ketua BEM Melawi, Rahmad Setiawan yang juga ikut menjadi peserta dalam workshop tersebut mengatakan, pihaknya sangat berterimakasih kepada Pena Melawi yang sudah bekerjasama dengan BEM STKIP melawi dalam pelatihan jurnalistik ini.<br /> <br />“Tentunya, dengan workshop ini kedepannya kita berharap ada pelatihan-pelatihan sampai dengan praktik ke lapangan. Sehingga mahasiswa STKIP Melawi bisa menghidupkan Pressma. Paling tidak untuk kembali menghidupkan Mading,” paparnya.<br /><br />Materi-materi yang diberikan dalam workshop tersebut diantaranya, tentang organisasi dan kepemimpinan, tentang dasar-dasar jurnalistik, tentang melakukan pemberitaaan reportase serta materi fotografi jurnalistik. <br /><br />Dalam workshop Jurnalistim tersebut, juga terdapat materi tambahan yakni tentang pendidikan politik, yang pematerinya disampaikan lansung oleh Anggota DPR RI, H, Sukiman. Pada kesempatanya, Sukiamn menyampaikan, dunia tanpa politik ibarat makanan tanpa bumbu, sehingga makanan tersebut rasanya menjadi hambar, namun apakah politik bertujuan untuk kemaslahatan ataupun untuk kepentingan saja itu yang menjadi masalah.<br /><br />“Jadi politik itu mecangkup semua aspek, baik dalam rumah tangga ataupun juga dalam dunia pendidikan, harus ada politik juga, jadi tidak rugi kalau kita mengikuti pelatihan pendidikan ini, jadi silahkan diikuti,” katanya. <br /><br />Lebih lanjut, Sukiman mengatakan, mahasiswa harus mempunyai banyak wawasan, ilmu apa saja harus diterima. Baik itu ilmu politik, ataupun dunia kepenulisan, meskipun pada akhirnya nanti mahasiswa tersebut tidak akan menjadi politisi ataupun menjadi wartawan.<br /><br />“Sebab orang yang kuliah datang ke kampus belajar lalu pulang, akan beda dengan mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan. Nanti adek-adek setelah keluar dan hidup bermasyarakat akan merasakan manfaatnya” jelasnya.<br /><br />Sukiman berpesan, mahasiswa jangan sampai tertinggal, harus mempunyai wawasan yang luas. Daya kritis mahasiswa harus tetap dijaga, kalau tidak ada yang kritis berarti bukan mahasiswa lagi. Demo itu sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. (KN)</p>