Penanganan Kasus BBM, Polisi Tebang Pilih

oleh
oleh

Sekretaris Umum LSM Peduli Potesndi Daerah (Pisida) Kabupaten Sintang, Syamsuardi, menilai Penangana kasus Bahan Bakar Minyak (BBM) di Sintang oleh pihak Kepolisian Polres Sintang tebang pilih. <p style="text-align: justify;">Hal ini diungkapkan banyaknya penangkapan BBM masyarakt Sintang yang mengencer BBM hanya berkapsitas kecil, misalnya satu ken dan dua ken malah sita oleh petugas.<br /><br />Sementara diluar yang sudah nyata-nyata delapan drum miliknya satu diantara anggota Polres Sintang Aiptu Sirait yang bertugas di Polsek kayan Hilir, melanggar aturan penimbunan tidak dilakukan proses penahan terhadap tersangjka.<br /><br />Namun selang beberapa hari setelah pengamanan dan penyerahan BBM miliknya Aiptu Sirait ke Polres Sintang, yang dilakukan oleh kalangan pers di Sintang. Justru beredar kabar tak sedap bahwa sejumlah wartawan dituding melakukan pemerasan terhadap pemilik dan sopir BBM tersebut.<br /><br />"Sungguh aneh proses penangana kasus yang dilakukan aparat keamana sekarang (Kepolisian). Betapa tidak keanehan ini yang sudah nyata-nyata melanggar peraturan justru diputar balik. Seperti kasus pengamanan BBM miliknya Aiptu Sirait yang dilakukan beberapa wartawan di Sintang beberapa waktu lalu " Ujar Syamsuardi kepada Tribun, Kamis (29/3)<br /><br />padahal lanjutnya, yang sebenarnya justrus Aiptu Sirait lah yang menawarkan upaya penyuapan kepada wartawan untuk satu orang wartawan sebesar RP 100.000 melalaui DM satu diantara masyarakat Sintang yang berkomunikasi langsung melalui via telpon ke Aiptu Sirait.<br /><br />Namun upaya penyuapan tersebut tidak ditanggapi oleh wartawan, karena keinginan para kalangan wartawan ingin kasus penimbunan BBM tersebut diproses secara hukum. Tanpa pandang bulu sesuai dengan atensi Kapolda Kalimantan Barat Brigjend Ungguh Cahyono tetang penimbunan BBM di Kalimantan Barat.<br /><br />Syamsuardi berharap kasus ini tidak direkasa karena alasan pemilik BBM tersebut merupakan satu diantara anggota Polres Sintang. Namun penegakkan hukum tetap berdasar atauran serta UU yang berlaku.<br /><br />"Kita berharap kasus ini benar-benar ditangilah, kalau pihak Polres Sintang enggan menangani kita siap mengirim kasus tersebut ke Polda Kalbar." Tegas Syamsuari<br /><br />Ditemui terpisah Kapores Sintang, AKPB Oktavianus Martin SIK, membenarkan ada indikasi pemerasan dari kalangan pers saat melakukan pengamana sebelum BBM tersebut diserahkan ke Polres Sintang berdasar pengakuan Piter (39) Sopir yang membawa BBM tersebut<br /><br />"Ya memang berdasarkan pengakuan saksi dari si Sopir sebelum barang bukti di bawa ke Polres ada indikasi pemerasan dari kalangan Pers yang melakukan pengaman. Kalau tidak salah dua atau tiga ratus ribu rupiah sopir menawarkan." Ujar Kapolres Sintang diruang kerjanya pada sejumlah wartawan<br /><br />Namun lanjut Martin, wartawan menolak penawaran tersebut. Justru meminta lebih dari penawaran si sopir. Karena angka yang ditawarkan cukup memberatkan pemilik, akhirnya pemilik pun membawa BBM tersebut ke Polres Sintang.<br /><br />"Saat ini justru dua kasus yang saya tangani sari kasus penimbunana BBM dan indikasi pemerasan." Ucap Martin<br /><br />Pernyataan Kapolres dibantah keras oleh beberapa media yang ada Sintang yang saat itu berada di lokasi kejadian saat melakukan peliputa.<br /><br />Suhardin, satu dintara Reporter dari Harian Equator (Jawa Pos Grup). Mengatakan tidak terima dan merasa terusik dengan hal tersebut karena menyangkut nama baik propesinya terlebih menyangkut nama baik perusahaan dimana dirinya bekerja.<br /><br />"Kita di TKP murni hanya untuk konfirmasi. Yang ada di TKP adalah rata-rata media harian. Di situ ada juga dua orang polisi berseragam dinas. Dari mana kalau media dibilang meras," tegasnya.<br /><br />Demikian juga diungkapan Wijiono satu dintara reporter dari Harian Kapuas Post Sintang, mengungkapkan diri tidak pernah mendengar apalagi melihat adanya pemerasan terhadap Piter sopir yang membawa BBM miliknya Aiptu Sirait.<br />Diakuinya kebetulan dirinya juga berada di lokasi kejadian.<br /><br />"Mana ada kita melakukan pemerasaan, justru sopir yang menawarkan uang sebesar Rp 400.000 sebagai uang damai. Tapi tetap saja tidak kita hiraukan, karena kita tahu barang itu sudah melanggar aturan." Ujar Wijiono<br /><br />Dikatakannya Wijiono, berdasarkan atensi Kapolres Sintang AKBP Oktavianus Martin SIK beberapa waktu lalu saat melakukan penggerebekan penimbunan BBM di kawasan SPBU abang ade Sintang. Meminta kerjasama seluruh masyarat terlibat membantu aparat keamanan untuk memberikan informasi jika ada hal-hal yang dicurigai. Apalagi sudah tahu hal itu melanggar aturan yang berlaku.<br /><br />Namun lanjutnya setelah bantu justru beberapa wartawan yang dipersalahkan. Dengan alasan ada indikasi pemerasan terhadap Pemilik dan sopir.<br /><br />"Kalau seperti ini, dimana komitmen Polres akan menindak tegas pelaku penimbunan BBM. Walapupun anggotanya sendiri." Pungkas Wijiono. <strong>(phs)</strong></p>