Penangkapan Ikan Liar Masih Marak Di Kalsel

oleh

Penangkapan ikan secara liar masih marak terjadi di wilayah provinsi Kalimantan Selatan baik di perairan umum maupun perairan laut. <p style="text-align: justify;">Hal itu dikatakan Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Perikanan Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalsel Iskandar Permana di Banjarbaru, Rabu. <br /><br />"Penangkapan ikan yang melanggar aturan atau liar masih marak baik di perairan umum maupun perairan laut sehingga pengawasan dan pengendalian terus dilakukan," ujarnya.<br /><br />Ia mengatakan, penangkapan ikan liar di perairan umum lebih banyak terjadi di wilayah "Banua Anam" yang meliputi beberapa kabupaten seperti Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah maupun Hulu Sungai Selatan.<br /><br />Banyaknya praktik penangkapan ikan secara liar di wilayah sebelah utara Kalsel itu karena masih luasnya kawasan terbuka berupa rawa-rawa dan aliran sungai.<br /><br />Praktik penangkapan ikan liar yang umumnya dilakukan masyarakat wilayah setempat adalah penyebaran racun ikan di sekitar rawa dan aliran sungai dan penyetruman menggunakan listrik maupun peralatan elektronik.<br /><br />"Bahkan ada pula yang menggunakan mesin generator set yang mampu menerangi satu buah rumah sehingga kerusakan habitat ikan di rawa dan sungai cukup berat karena induk maupun anak-anak ikan mati," ungkapnya.<br /><br />Sementara, penangkapan ikan liar di perairan laut kebanyakan dilakukan nelayan dari luar pulau atau andon yang melakukan penangkapan ikan tanpa izin maupun menggunakan peralatan yang tidak diperbolehkan.<br /><br />Kawasan perairan yang menjadi incaran andon karena potensi ikan cukup besar adalah Kepulauan Sembilan Kabupaten Kotabaru dan perbatasan 12 mil laut di pesisir Kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu.<br /><br />Para andon yang umumnya nelayan dari luar pulau kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, Madura dan Sulawesi Selatan yang beroperasi tanpa ijin dan menggunakan peralatan yang dilarang.<br /><br />"Aktivitas andon cukup berani memasuki wilayah perairan Kalsel dan baru-baru tadi sudah ada dua kelompok nelayan yang diamankan Mabes Polri dan penanganannya dilimpahkan ke Polda Kalsel," ujarnya.<br /><br />Ditekankan, sanksi yang dikenakan terhadap pelaku penangkapan ikan liar adalah Undang-Undang Nomor 13 tahun 2004 yang dirubah Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang perikanan.<br /><br />Sanksi tersebut dikenakan apabila pelanggarannya masuk kategori berat tetapi jika masih ringan dan tidak dilakukan berulang-ulang maka dikenakan sanksi melanggar perda dengan hukuman tindak pidana ringan.<br /><br />Dia menambahkan, sepanjang 2010 jumlah kasus penangkapan ikan secara liar yang ditangani sebanyak 40 kasus dan jumlah itu menurun dibanding tahun 2009 lalu yang jumlahnya lebih dari 50 kasus.<br /><br />"Penurunan kasus kemungkinan karena ketatnya pengawasan baik dari masyarakat yang memang dilibatkan maupun pengawasan dalam bentuk patroli yang dilakukan aparat kepolisian perairan," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>