Penerimaan Siswa Baru Dimulai

oleh

Proses Penerimaan Siswa Baru semua jenjang pendidikan dasar mulai berjalan, tidak ada pungutan dalam proses ini dan untuk wilayah kota akan disaring melalui seleksi yang ketat mengingat bangku yang disediakan sekolah negeri terbatas. <p style="text-align: justify;">Kamis (30/06/2011) pagi kemarin, di dalam kota terpantau aktivitas pendaftaran di semua sekolah baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Beberapa sekolah negeri favorit terlihat dipenuhi calon siswa yang datang bersama orang tuanya.<br /><br />Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sintang, Marchues Afen dihubungi sore kemarin mengatakan untuk waktu penerimaan siswa baru ini dimulai dari 30 Juni hingga 5 Juli mendatang.<br /><br />“Dalam masa itu akan dilakukan seleksi administrasi pendaftaran untuk selanjutnya para pendaftar akan mengikuti tes masuk sekolah negeri,” kata dia.<br /><br />Pelaksanaan tes sendiri akan dilaksanakan pada 6-7 Juli 2011 disekolah negeri masing-masing.<br /><br />Untuk sekolah negeri yang ada di kota, ketika animo masyarakat tinggi maka di sekolah itu diberlakukan mekanisme seleksi melalui tes tertulis yang difasilitasi sekolah.<br /><br />“Ini diberlakukan karena memang bangku yang disediakan terbatas apalagi untuk di kota kami juga memikirkan sekolah swasta, jadi tidak ada dikotomi negeri dan swasta disampingd aya tampung negeri yang memang terbatas,” ucapnya.<br /><br />Artinya kata dia orang tua calon siswa juga memiliki pilihan lain ketika anaknya tidak berhasil lolos seleksi masuk sekolah negeri karena untuk dikota pilihan sekolah swasta cukup banyak.<br /><br />“Berbeda di kecamatan yang berada di pedalaman yang tidak memiliki sekolah swasta dan hanya satu-satunya sekolah negeeri yang ada disitu, maka tidak diberlakukan mekanisme seleksi,” kata dia.<br /><br />Hal itu menurutnya dilakukan agar semua calon siswa yang ingin melanjutkan pendidikan bisa tertampung di sekolah yang ada agar jangan sampai mereka tidak sekolah.<br /><br />“Selama ini untuk sekolah di pedalaman masih mencukupi, tapi kita tidak bisa mengikuti standar nasional yang menetapkan satu rombongan belajar 32 orang, bisa jadi sampai 40 orang,” ucapnya.<br /><br />Bahkan lanjut dia, kalau ternyata di lokasi itu hanya ada satu-satunya sekolah dan minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tetap tinggi, sementara ruang kelasnya terbatas, maka akan diupayakan untuk membuka kelas pagi dan sore.<br /><br />“Berbeda kalau dilokasi itu ada sekolah swastanya, maka akan dilakukan proses seleksi,” kata dia.<br /><br /><br /><strong>Tes Murni</strong><br /><br />Salah seorang panitia penerimaan siswa baru di SMA Negeri 1, M Pahan Apri mengatakan pendaftaran hari pertama saja sudah ada sekitar 350 orang pendaftar.<br /><br />“Padahal kuota kami terbatas, hanya untuk enam kelas atau 192 orang saja,” kata dia.<br /><br />Menurutnya seperti tahun-tahun sebelumnya, animo masyarakat untuk sekolah di SMAN 1 Sintang ini cukup tinggi.<br /><br />“Tahun lalu saja pendaftar sampai 400 orang lebih, tahun ini kami perkirakan lebih dari 600 orang,” ujarnya.<br /><br />Ia mengatakan tes murni akan diberlakukan artinya tidak akan ada yang lewat pintu belakang karena penerimaan benar-benar didasarkan hasil tes.<br /><br />“Untuk pendaftar yang memiliki nilai kelulusan tertinggi memiliki kesempatan 50 persen lulus, namun tetap harus melalui proses tes,” jelasnya.<br /><br /><br /><br /><strong>Bernazar</strong><br /><br />Salah seorang calon pendaftar, Widia Lestari (14) yang baru menamatkan sekolah di SMP Negeri 3 Sintang mengatakan mendaftar di SMA Negeri 1 ini memang sudah lama didambakannya.<br /><br />“Saya sudah sejak lama ingin masuk sekolah ini,” ujarnya.<br /><br />Untuk itulah kata dia semua persiapan sudah dilakukan untuk menghadapi tes masuk sekolah salah satu sekolah favorit di Kota Sintang itu.<br /><br />“Saya sudah belajar dan saya juga bernazar kalau lulus nanti saya akan meminum air cucian kaki mama saya seperti yang saya lakukan ketika mau masuk SMP dulu,” imbuhnya. <strong>(phs)</strong></p>