Pengamat : Pola Nomaden Masyarakat Perbatasan Sulit Dihindarkan

oleh

Pakar Ilmu Sosial dan Politik Kalimantan Barat A.B Tandililing menyatakan, kultur dan budaya masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia menyebabkan pola kekeluargaan yang nomaden dan sulit untuk dihindarkan. <p style="text-align: justify;">"Notabenenya, masyarakat yang tinggal baik di perbatasan Indonesia maupun Malaysia adalah masyarakat dari etnis Dayak. Selama ini, mereka tinggal di perbatasan dan menjalin hubungan baik dan itu menyebabkan terjadi lintas batas baik yang dilakukan masyarakat perbatasan Malaysia mauoun Indonesia," kata Tandililing di Pontianak, Selasa.<br /><br />Namun, di sisi lain, kekuatan etnis dan persaudaraan mereka justru menjadi penjaga kondusifitas di wilayah perbatasan.<br /><br />Dia menyatakan, ada satu hal menarik yang terjadi di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia khususnya yang berada di Kalbar.<br /><br />Berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari salah seorang temannya yang juga tokoh masyarakat di wilayah perbatasan Bengkayang, ada masyarakat Malaysia yang memiliki kebun di daerah Indonesia, begitu juga sebaliknya, ada warga kita yang memiliki kebun di Malaysia.<br /><br />"Rata-rata mereka itu merupakan keluarga di mana lahan yang mereka miliki juga berada di dua negara yang berbeda. Ini patut menjadi kajian kita bersama, karena jika berbicara mengenai pola berkebun seperti itu, tentu melanggar batas negara," tuturnya.<br /><br />Namun, lajutnya, hal itu sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum Indonesia dan Malaysia merdeka masyarakat di daerah perbatasan tersebut sudah menggunakan pola itu.<br /><br />Demikian halnya dengan banyaknya masyarakat diperbatasan yang bekerja di Malaysia dan sebaliknya.<br /><br />"Sehingga terjadi pola kerja lintas batas, di mana pada pagi hari masyarakat bekerja di negara tetangga, sore harinya lagi mereka kembali ke Indonesia, demikian sebaliknya," kata dia.<br /><br />Menurut Tandililing, hal itu tidak hanya terjadi antara Malaysia dan Indonesia, tetapi hampir di setiap negara, seperti perbatasan Meksiko, di mana banyak masyarakat mereka yang mencari pekerjaan di negara tetangga.<br /><br />Namun, ujar dia, untuk mengantisipasi masyarakat melakukan lintas batas secara bebas, pemerintah Meksiko membangun industri di daerah perbatasan mereka guna menampung tenaga kerja. "Saya rasa pemerintah Indonesia juga bisa menerapkan hal itu, agar masyarakat yang ada di perbatasan tidak mencari kerja di negara tetangga," tuturnya.<br /><br />Selain itu, untuk mencegah banyaknya masyarakat yang tersandung masalah hukum lintas batas, negara-negara di Eropa membebaskan devisa bagi masyarakatnya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>