Di tempat berbeda, sekitar 5 pengantri BBM di SPBU Sebeji membuat pernyataan bahwa mereka tidak pernah dimintai harga khusus untuk mendapatkan BBM. Dipemberitaan sebelumnya, Tari pengantri BBM di SPBU Sebeji mengaku harus membayar Rp 7.000 untuk setiap liter BBM yang dibelinya. Jika tak sempat mengantri, Tari membeli BBM dari pengantri lain dengan harga Rp 9.000 per liter. <p>“Kami ingin meluruskan pemberitaan di media yang menyebutkan bahwa kami harus membayar sampai Rp 7 ribu per liter untuk mendapatkan BBM di SPBU Beji ini. Selama ini pihak SPBU meminta harga ecera tertinggi sesuai dengan ketentuan yang ada, yaitu Rp 6.500 per liter untuk premium,”jelas Hendra saat ditemui di sebuah rumah makan sekitar tugu BI pada Selasa (4/3) pagi kemarin.</p> <p>Ungkapan Hendra dibenarkan oleh Yan, Yohanes, Taryono dan Iwan yang juga mengaku menjadi bagian dari pengantri di SPBU Sebeji.</p> <p>Para pengantri BBM tersebut menjelaskan bahwa BBM yang mereka dapatkan umumnya dijual lagi kepada pembeli yang asalnya dari daerah pedalaman. Antara lain jalur Kayan sampai Serawai.</p> <p>“Kalau untuk itu, jelaslah kami harus mengambil untung. Karena kami harus mengantri berjam-jam untuk mendapatkan BBM itu. Itung-itung ganti uang belie s lah,”ujar Iwan.</p> <p>Iwan pun menjelaskan tentang harga BBM jenis premium yang tembus angka Rp 7.000 di SPBU Sebeji. Menurutnya hal itu hanyalah ulah segilintir pengantri yang membuat buruk nama pengantri lain.</p> <p>“Ada ibu-ibu yang ikut ngantri, belum sampai keluar dari SPBU atau bahkan masih belum mendapatkan minyak sudah menawarkan kepada orang lain. Harganya langsung main tembak saja Rp 7.000 ribu misalnya. Bahkan tak jarang mereka langsung meminjam kalkulator petugas SPBU untuk menghitung berapa uang yang akan mereka terima. Para pembeli bensin atau premium dari pengantri itulah yang kemudian menjual kepada pengecer dengan harga yang tinggi, sampailah harga BBM di kios tepi jalan mencapai Rp 10 ribu per liternya,”jelasnya.</p> <p>Yohanes, pemilik kios Tiga Dara di Jalan Kelam menegaskan bahwa dirinya menjual BBM hasil antrianya kepada para pedagang BBM di daerah Kayan hingga Serawai. Terkadang menurutnya para pengecer dari wilayah selatan Sintang tersebut menitipkan tempat penampungan di kiosnya.</p> <p>“Soalnya mereka kan jauh dari SPBU dan tidak mungkin juga ikut mengantri lama-labma di SPBU seperti kami. Maka kamilah yang membantu mereka sehingga BBM bisa sampai ke pedalaman,”tegasnya.</p> <p>Sudomo, Supervisor SPBU Sebeji yang tengah sibuk mengatur kendaraan pengantri membenarkan bahwa pihaknya tidak pernah memberikan harga beda kepada pengantri atau pembeli yang datang ke SPBU Sebeji. Semua harga yang diberikan kepada pembeli sesuai dengan HET yang telah ditentukan oleh pemerintah. Ia pun menunjukan sebuah pengumuman yang sengaja di temple di mesin nozzle tentang harga yang premium per liter yang harus dibayar oleh pelanggan.</p> <p>“Di SPBU ini ada 18 nozzle, 2 nozzle untuk pertamax, 2 nozle untuk solar, 5 nozzle premium khusus untuk pengantri dan sisanya untuk masyarakat umum,”pungkasnya.</p>

















